Tantangan Analisa Beban Kerja di Masa Depan


gambar-abk-tantangan-abk-di-masa-depan

Regulasi Pemerintah

Regulasi pemerintah yang mewajibkan setiap instansi terlebih dahulu melakukan analisa beban kerja sebelum merekrut tenaga kerja menuntut para praktisi Unit SDM, konsultan organisasi & sumber daya manusia serta akademisi mampu mendukung implementasi regulasi tersebut dengan menyiapkan metode analisa beban kerja yang akurat dan obyektif sesuai dengan bidang kegiatan dan sektor industri instansi pemerintah.

Organisasi yang Dinamis

Perubahan yang cepat dalam berbagai sektor industri menuntut perusahaan untuk beradaptasi agar mampu menangkap peluang-peluang yang muncul serta menghindari kerugian yang mengancam. Strategi yang dilakukan bisa sampai melakukan restrukturisasi organisasi, pembukaan cabang/unit baru, atau pengurangan tenaga kerja untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Apabila strategi-strategi tersebut selama ini paling cepat dilakukan selama periode 1 atau 2 tahun sekali bahkan 4 atau 5 tahun sekali, maka untuk ke depan perlu dilakukan lebih sering yaitu menjadi kurang dari 1 tahun atau bahkan dapat dilakukan setiap saat segera ketika dibutuhkan. Oleh karena itu, metode analisa beban kerja yang dibutuhkan menjadi bukan hanya akurat dan obyektif saja tetapi juga harus cepat dan efektif.

Keragaman Industri dan Bidang Usaha

Dalam sejarahnya, pelaksanaan pengukuran kerja dan analisa beban kerja di awali pada perusahaan-perusahaan di sektor manufaktur sehingga cukup banyak ditemui referensi dan hasil kajian analisa beban kerja yang dapat dijadikan pedoman di sektor tersebut. Pengukuran beban kerja di sektor manufaktur umumnya dilakukan secara teliti dan dalam situasi yang terkontrol, mengingat sekecil apapun waktu yang dapat dihemat akan berpengaruh terhadap hasil produksi yang sifatnya massal.

Saat ini metode analisa beban kerja juga telah digunakan untuk menghitung jumlah kebutuhan tenaga kerja di sektor jasa/ pelayanan baik swasta maupun pemerintahan. Untuk itu telah dikembangkan beberapa metode analisa beban kerja yang bersifat umum maupun metode yang khusus dikembangkan untuk bidang jasa tertentu yang disesuaikan dengan karakteristik bidang jasa tersebut.

Aplikasi Analisa Beban Kerja

Aplikasi analisa beban kerja diperlukan untuk mempercepat proses analisa beban kerja terutama dalam tahap pengolahan dan analisa data. Dengan adanya aplikasi tersebut maka hasil analisa beban kerja yang berisi data jabatan, tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas beserta standar/norma waktunya akan dapat terdokumentasi dengan baik. Apabila hasil analisa beban kerja terdokuemtasi dengan baik maka Unit SDM dapat melakukan updating setiap saat dibutuhkan perubahan. Dengan demikian peran dan kontribusi dari kegiatan analisa beban kerja bagi kinerja perusahaan menjadi lebih besar dan berarti.

Kamus Norma Waktu

Diperlukan adanya “kamus” yang berisi norma atau standar waktu pengerjaan kegiatan, tugas dan aktivitas-aktivitas dari berbagai pekerjaan/jabatan dan unit kerja untuk seluruh bidang kegiatan dan sektor industri. Dengan adanya kamus tersebut maka akan mempercepat proses pengumpulan data dalam kegiatan analisa beban kerja. Selain itu hasil analisa beban kerja akan lebih comparable karena diukur berdasarkan norma/ standar waktu yang sama. Dengan demikian hasil analisa beban kerja dapat diterima secara lebih meyakinkan oleh pimpinan  perusahaan dan mereka lebih percaya diri untuk mengambil kebijakan berdasarkan hasil analisa beban kerja.

Beban Kerja Individu


gambar-bki

Output pertama dari kegiatan analisa beban kerja adalah “Beban Kerja Individu” (BKI) atau beban kerja karyawan. Pengertian dari Beban Kerja Individu adalah “total waktu yang digunakan oleh seorang pemegang jabatan untuk menyelesaikan seluruh tugas-tugas pokok, tugas tambahan, dan tugas lain-lain pada suatu Jabatan.”

BKI menjadi output dari kegiatan analisa beban kerja karena sumber informasi utama dari suatu jabatan adalah karyawan yang saat ini menduduki jabatan tersebut (job holder/ incumbent). Karyawan pemegang jabatan tersebut biasanya akan kita jadikan sebagai respondent atau sample dari jabatan yang akan kita ukur beban kerjanya. Oleh karena itu kita akan terlebih dahulu mengukur beban kerja individu karyawan yang saat ini menduduki jabatan tersebut sebelum mengukur dan menentukan beban kerja dari jabatan tersebut.

Oleh karena ini adalah beban kerja individu maka obyek yang akan diukur adalah segala hal yang dilakukan karyawan tersebut selama rentang waktu dalam jam kerja formal dan seluruh tugas-tugas untuk kepentingan organisasi/perusahaan yang dilakukan di luar jam kerja formal.

Dengan kata lain yang diukur sebagai BKI adalah total waktu yang digunakan karyawan untuk mengerjakan tugas-tugas pokok (sesuai deskripsi jabatan sendiri), tugas-tugas tambahan (deskripsi jabatan lain), dan tugas lain-lain (tugas yang tidak memiliki kepentingan dalam mencapai tujuan jabatan, unit kerja maupun tujuan organisasi/perusahaan secara keseluruhan).

BKI bisa sama besar prosentasenya dengan Beban Kerja Jabatan (BKJ) yaitu apabila karyawan tersebut mengerjakan seluruh tugas-tugas pokok (sesuai deskripsi jabatannya) dan sama sekali tidak pernah mengerjakan tugas-tugas tambahan (deskripsi jabatan lain) maupun tugas lain-lain. Hal ini seringkali terjadi pada pelaksanaan analisa beban kerja di sektor manufaktur.

Namun BKI bisa lebih kecil prosentasenya dibanding BKJ yaitu apabila karyawan tersebut dengan alasan-alasan tertentu tidak mengerjakan seluruh tugas pokok (sesuai deskripsi jabatannya) dan juga tidak mengerjakan baik tugas-tugas tambahan maupun tugas lain-lain. Hal ini dapat terjadi pada jabatan yang diduduki oleh karyawan yang malas (motivasi kerja rendah) atau jabatan yang kurang didukung oleh sarana, prasarana, peralatan dan fasilitas kerja yang memadai untuk mengerjakan tugasnya.

Sebaliknya, BKI bisa saja menjadi lebih besar prosentasenya dibanding BKJ yaitu apabila karyawan tersebut selain mengerjakan tugas-tugas pokok (sesuai deskripsi jabatannya) juga diminta/dipercaya mengerjakan tugas-tugas tambahan dan diminta/terpaksa mengerjakan tugas lain-lain.

BKI merupakan existing workload yaitu beban kerja yang sesuai dengan potret kondisi sekarang (saat dilakukan analisa beban kerja). Sementara BKJ merupakan ideal/expected workload yaitu beban kerja yang diharapkan secara ideal dilakukan oleh pemegang jabatan tersebut sebagaimana yang tertuang di dalam deskripsi jabatan. Terlebih deskripsi jabatan tersebut telah disusun dengan mempertimbangkan target kinerja jabatan yang diturunkan dari target kinerja korporat yang mendukung pencapaian visi dan misi organisasi/perusahaan.

Selama ini memang BKI tidak lazim diukur oleh metode-metode beban kerja yang lainnya. Hal ini kemungkinan dilandasi oleh beberapa pemikiran sebagai berikut:

  1. Hal yang diukur dari karyawan sebagai respondent atau sample adalah hanya tugas-tugas pokok, sehingga hasilnya memang layak disebut sebagai “beban kerja” atau “beban kerja jabatan”.
  2. Memiliki pandangan bahwa beban kerja adalah bersifat “existing workload”, sehingga semua tugas-tugas yang dikerjakan oleh karyawan termasuk tugas-tugas di luar deskripsi jabatannya seluruhnya dapat dikategorikan sebagai “beban kerja” jabatan tersebut.
  3. Dilakukannya kegiatan analisa beban kerja pada umumnya bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai berapa jumlah SDM yang dibutuhkan pada suatu jabatan/unit kerja/perusahaan, bukan fokus untuk mengukur beban kerja, apalagi untuk tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan.

Meskipun demikian, penulis tetap memasukkan BKI sebagai salah satu output dari kegiatan analisa beban kerja mengingat kegunaannya yang cukup penting bagi Unit SDM perusahaan. Dengan diperolehnya output berupa BKI, Unit SDM akan mendapatkan gambaran mengenai kualifikasi dari karyawan khususnya sejauhmana kompetensi yang dimiliki karyawan dibandingkan dengan tuntutan jabatannya. Hal ini akan terlihat dari lama waktu yang digunakan untuk menyelesaikan setiap tugas-tugas jabatannya. Informasi ini dapat digunakan sebagai dasar menentukan kebutuhan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi-kompetensi yang masih kurang dari karyawan.

Badai Kehidupan


Seorang Anak mengemudikan mobil bersama Ayahnya. Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti.

“Bagaimana, Ayah? Kita berhenti?”, Si Anak bertanya.

“Teruslah.. !”, kata Ayah.

Anaknya tetap menjalankan mobil. Langit makin gelap, angin bertiup kencang. Hujanpun turun. Beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yang diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan . Terlihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.

“Ayah…?”

“Teruslah mengemudi!” kata Ayah sambil terus melihat ke depan.

Anaknya tetap mengemudi dengan bersusah payah. Hujan lebat menghalangi pandangan hanya berjarak beberapa meter saja. Si Anak mulai takut namun tetap mengemudi walaupun sangat perlahan.

Setelah melewati beberapa kilometer ke depan, dirasakan hujan mulai mereda dan angin mulai berkurang. Setelah beberapa kilometer lagi, sampailah mereka pada daerah yang kering dan matahari bersinar.

“Silakan berhenti dan keluarlah”, kata Ayah.

“Kenapa sekarang?”, tanya-nya .

“Agar kau bisa melihat seandainya berhenti di tengah badai”.

Sang Anak berhenti dan keluar. Dia melihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Dia membayangkan orang-orang yang terjebak di sana. Dia baru mengerti bahwa jangan pernah berhenti di tengah badai karena akan terjebak dalam ketidakpastian.

Jika kita sadang menghadapi “badai” kehidupan, teruslah berjalan, jangan berhenti, dan putus asa karena kita akan tenggelam dalam keadaan yang terus menakutkan. Lakukan saja apa yang dapat kita lakukan, dan yakinkan diri bahwa badai pasti berlalu. Kita tidak akan pernah berhenti tetapi maju terus, karena kita yakin bahwa di depan sana kepastian dan kesuksesan ada untuk kita…

*HIDUP TAK SELAMANYA BERJALAN MULUS!!!*

Θ *BUTUH* Batu kerikil supaya kita *BERHATI-HATI*..
Θ *BUTUH* Semak berduri supaya kita *WASPADA*..
Θ *BUTUH* Pesimpangan supaya kita *BIJAKSANA* dalam *MEMILIH*..
Θ *BUTUH* Petunjuk jalan supaya kita punya *HARAPAN* tentang arah masa depan.

Hidup Butuh *MASALAH* supaya kita tahu kita punya *KEKUATAN*

*BUTUH* Pengorbanan supaya kita tahu cara *BEKERJA KERAS*

*BUTUH* Airmata supaya kita tahu *MERENDAHKAN HATI*

*BUTUH* Dicela supaya kita tahu bagaimana cara *MENGHARGAI*

*BUTUH* Tertawa dan senyum_ supaya kita tahu *MENGUCAPKAN SYUKUR*..

*BUTUH* Orang lain supaya kita tahu kita *TAK SENDIRI*

Jangan selesaikan *MASALAH* dengan mengeluh, berkeluh kesah, dan marah”, Selesaikan saja dengan *sabar, bersyukur*, dan jangan lupa *TERSENYUM*.

Teruslah *MELANGKAH* walau mendapat *RINTANGAN*, Jangan takut.
Saat tidak ada lagi *tembok* untuk bersandar, masih ada *lantai* untuk bersujud.

Perbuatan baik yang paling *sempurna* adalah perbuatan baik yang tidak terlihat, Namun.. Dapat dirasakan hingga jauh ke dalam *relung hati*.

Jangan menghitung apa yang *hilang*, namun hitunglah apa yang *tersisa*.

Sekecil apapun *penghasilan* kita, pasti akan cukup bila digunakan untuk Kebutuhan Hidup.

Sebesar apapun *penghasilan* kita, pasti akan kurang bila digunakan untuk *Gaya Hidup*.

Tidak selamanya kata-kata yang *indah* itu benar, juga *tidak*selamanya kata-kata yang *menyakitkan* itu salah. Hidup ini terlalu *singkat*, lepaskan mereka yang menyakitimu, *sayangi* mereka yang peduli padamu. Dan *berjuanglah* untuk mereka yang berarti bagimu.

*Bertemanlah* dengan semua orang, tapi *bergaulah* dangan orang yang berintegritas dan mempunyai nilai hidup yang benar, karena pergaulan akan *mempengaruhi* cara kita hidup dan *masa depan* kita.

*Mari Berjuang dan berjuang mencapai titik kesuksesan*

Amin

Sumber: Anonim

Reuni Mengajar Bareng


15356752_1374366959241549_5110823415251431375_n

Kang Aad (Adyani Saripudin), Mas Widi (Widi Nugraha) dan Pak Eddy (Eddy Sinang) mengajar bareng sebagai tim di Pelatihan Analisa Jabatan dan Analisa Beban Kerja Badan Tenaga Nuklir Nasional yang diselenggarakan oleh Protenza Consulting.

Pelatihan Anjab-ABK di BATAN


15326584_1374366999241545_1217891752265775199_n

Pelatihan Analisa Jabatan & Analisa Beban Kerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) tanggal 6-8 Desember 2016 diselenggarakan oleh Protenza Consulting.

Mengajar Guru TK Rosella Desa Tenjolaya


guru-tk-rosella-ciwidey

Mengajar guru TK PAUD Rosella (selanjutnya disebut Sekolah Rosella saja) di Desa Tenjolaya, Ciwidey tanggal 25 November 2014. Kesan yang diperoleh setelah mengajar selama hampir 4 jam adalah bahwa “sesedikit apapun ilmu yang kita miliki terasa begitu bermanfaat buat mereka.”

Sekolah Rosella (berasal dari nama bunga Rosella) adalah sebuah sekolah desa yang memiliki visi-misi yang luhur yaitu mendidik anak-anak desa setempat dan sekitarnya menjadi mandiri, siap bersekolah, dan siap mengabdi untuk desanya. Kemandirian dan kesiapan anak untuk bersekolah ditanamkan dan diasah melalui sentra-sentra pembelajaran yaitu sentra kreatif, sentra imajinasi, sentra rancang-bangun, dan sentra persiapan. Masing-masing sentra memiliki sarana dan fasilitas pembelajaran yang khas yaitu menggunakan barang-barang bekas namun tetap ramah lingkungan. Di sekolah ini terdapat miniatur sebuah toko/supermarket, meja kasir dengan cash registernya, ruangan kantor beserta meja-kursi, komputer dan teleponnya, pakaian pilot, pramugari, tentara, angkatan laut, penerbang, polisi, dokter, perawat, insinyur, dan lainnya.

Pendekatan, metode dan materi pengajaran di Sekolah Rosella tergolong unik dan khas namun tepat sasaran yaitu menekankan pada praktek simulasi dalam bentuk bermain peran yang diupayakan identik dengan peran-peran yang sedang mereka jalankan sehari-hari maupun peran-peran yang kelak akan mereka jalani dalam karir pekerjaan mereka. Misalnya: mencuci piring/baju untuk membantu orangtua, memandikan boneka seolah itu adiknya, menjadi pembeli/penjual di pasar, sebagai pembeli/kasir di toko/supermarket, direktur/pegawai di kantor, perawat atau dokter di rumah sakit, insinyur dengan topi kerjanya, dan lainnya.

Siswa-siswa TK PAUD Rosella berasal dari Desa Tenjolaya dan desa-desa sekitarnya. Mereka adalah anak-anak dari buruh tani, buruh kebun, kuli bangunan, tukang ojek, dan keluarga tidak mampu lainnya. Meskipun demikian, mereka terlihat bersemangat dan bangga bersekolah di Rosella. Begitu pula kebanggaan itu terpancar dari para orangtua mereka yang dengan setia mengantar dan menjemput mereka.

Sementara guru-guru Sekolah Rosella juga berasal dari Desa Tenjolaya dan desa-desa sekitarnya. Yang menarik adalah pada awal mereka memulai mengajar sebagai guru di Sekolah Rosella, pendidikan mereka tidak lebih dari hanya sebagai lulusan SMP. Bahkan ada dari mereka yang sebelumnya memiliki latar belakang yang abu-abu kalaupun tidak bisa dibilang gelap. Namun berkat kesungguhan belajar yang tinggi dan kesabaran mereka serta dukungan dari para pendiri, pembina dan donatur akhirnya mereka bisa lulus SMA dengan mengikuti Program Paket C dan bahkan bisa mengikuti kuliah yang akhirnya berhasil menggondol gelar Sarjana Pendidikan.

Pada awal pendiriannya, Sekolah Rosella tidak mendapat respon yang positif bahkan cenderung dicemooh oleh masyarakat sekitar maupun oleh aparat pemerintahan desa. Namun berkat keseriusan para guru, pendiri dan pembinanya maka saat ini Sekolah Rosella telah mendapat pengakuan sebagai sekolah PAUD terbaik se kabupaten. Kunjungan dan apresiasi dari Bupati ke Sekolah Rosella beberapa waktu lalu telah merubah persepsi masyarakat dan aparat pemerintahan Desa Tenjolaya menjadi positif dan mendukung penuh kegiatan-kegiatan yang dilakukan Sekolah Rosella. Lebih jauh dari itu, beberapa waktu lalu Sekolah Rosella juga telah mendapatkan kunjungan dari para guru sekolah untuk melakukan studi banding, kunjungan orang asing, dan permintaan untuk me’magang’kan siswa-siswa sekolah lain di Sekolah Rosella.

Di satu sisi, banyaknya apresiasi dari berbagai pihak terhadap Sekolah Rosella merupakan hal yang positif. Namun di lain pihak, hal tersebut dapat membuat Sekolah Rosella terbuai oleh pujian, bantuan, fasilitas, dan berbagai hal yang dapat mengaburkan bahkan menyimpang dari visi-misi semula yaitu sebagai sekolah yang mendidik anak-anak desa Tenjolaya dan desa sekitarnya menjadi mandiri secara pribadi baik di sekolah, di rumah maupun lingkungan rumah, siap bersekolah, dan siap mengabdi untuk desanya masing-masing, Desa Tenjolaya dan desa-desa di sekitarnya.

Bekasi, 30 November 2014