45 Tahun Lalu di Tempat Ini


Pada 45 tahun yang lalu, di tahun 1968
Aku ada di sini, bertempat tinggal di atas tanah ini
Bersama Ayah, Ibu dan keempat Adik-adikku
Flat 4 Lantai di Jl. Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat
Tempat tinggal para pegawai BLLD
Yang kemudian menjadi bagian dari Bank Indonesia

Sungguh aku tidak menyangka
Hari ini, 45 tahun kemudian
Aku merasakan begitu sentimentil
Ketika Allah memberikan kesempatan
Aku berdiri di sini, di BI Institute
di tempat yang megah dan bergengsi ini
Mensharing sedikit ilmu yang kupunya
Untuk para pejabat Bank Indonesia

Semua itu merupakan suatu kehormatan buatku
Semoga juga kebahagiaan buat alharhum Ayahku
Yang telah tiada 32 tahun yang lalu
Hanya ini sumbangsih dari anakmu Ayah
Untuk kantor kebanggaanmu
Bank Indonesia
Alhamdulillah…

Kado Kemerdekaan Terindah



Foto: tempo.co

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir menghadiahkan kado terindah untuk kemerdekaan: medali emas Olimpiade Rio!  

“Saya bersyukur kepada Allah SWT. Inilah kado terindah bagi kami, dan untuk seluruh masyarakat Indonesia di Hari Kemerdekaan ini, terima kasih atas segala dukungannya,” kata Tontowi.

“Semangat Hari Kemerdekaan seperti menambah energi kami, tapi untungnya kami masih bisa mengendalikan emosi sehingga tidak terburu-buru dan akhirnya dapat memenangi pertandingan tadi,” kata Liliyana usai mengalahkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dari Malaysia 21-14, 21-12 pada pertandingan final bulu tangkis ganda campuran di Rio de Janeiro, Brazil, Rabu siang waktu setempat.

Indonesia yang kelelahan seusai seharian merayakan hari kemerdekaan pun menutup hari dengan tidur yang pulas. Dan bukan kebetulan laga itu menghabiskan 17 buah shuttle-cock serta berlangsung selama 45 menit. Indonesia Raya berkumandang. Merah putih dikerek paling atas.

Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir adalah padu-padan Indonesia dalam arti sebenar-sebenarnya. Owi berasal dari Banyumas, Jawa Tengah, sementara Liliyana Natsir dari Manado, Sulawesi Utara. Owi lahir dan besar di keluarga muslim dan mulai senang bermain bulutangkis saat belajar di pesantren, sementara Butet dari keluarga Katolik yang taat. Setiap kali memenangi sebuah laga, Owi menengadahkan tangan dan mengucap syukur, di sebelahnya Butet menyilangkan isyarat salib di dadanya. 

Adakah yang lebih indah dari paduan ganda campuran kebanggaan Indonesia ini. Perbedaan yang tak pernah meletup jadi sengketa tapi melebur jadi anugerah: medali emas untuk bangsa di hari kemerdekaannya.

Andaikan seluruh Rakyat Indonesia dapat mengartikan Kemerdekaan sebagai sebuah Ikatan Persaudaraan dalam Bhineka Tunggal Ika maka sejatinya akan makin indah Negeriku Infonesia tercinta ini. Semoga demikian, aamiin…