Selamat Idul Fitri 1437 H


Valuable Lesson from Darwin


KFC Bagot Road
Photo: http://www.adilkurnia.com

Nowadays, teenagers are keen to ask their parents for money. As a teen also, I do ask for some cash especially before going to school. We, teenagers, obviously have to do this because that is the reason our parents are working really hard, which is to provide and fulfil the needs of their children. There is definitely nothing wrong with this , but there is just one thing bothering me. Sometimes, some teenagers ask for too much money.

For some kids, all they do to ask for money is just by simply “bringing out the palm of their hand in front of their parents’ face”. I just couldn’t believe that these kids do not even think about what is required to get money. In my opinion, we should know our own limits about how much and how often do we ask for money to our parents. Money can’t be achieved that easily. It needs hardwork and perseverance. I think young adults these days need to not only know, but also experience the hardship of trying to earn money.

Living in Darwin for almost four years has taught me many valuable lessons in life, including the chance to experience the harsh things in doing a job. In this town, fourteen year old teens are able to apply for job in places such as restaurants, department store, and clothing store. As soon as I looked old and big enough to do some work, I applied for a job in a fast-food restaurant. After turning in the application form, the manager called me to arrange an interview. Surprisingly, I was accepted to work in that restaurant, despite my small confidence and small body. A week later, the manager called me to start my very first day.

On the first day, I stepped inside the restaurant with trembling legs. I was very scared because the first time of something is always not good, and it seemed the work I had to do in that restaurant was quite difficult. When I came in, the manager was standing at the lobby then took me inside the kitchen. He introduced me to my co-workers and told me what I had to do, which is quite hard and boring, just like I thought.

After 2 months of working, I finally got used to the job. My “trainee’ badge was taken off, and I was ready to take action as a real worker. While working, problems just kept on coming. One time, I forgot to ask for payment after a customer ordered. This concluded with the customer running away with the food without paying anything. The amount he should’ve paid was really big, so the manager was furious at me because of a simple mistake. Another incident was when I gave away the wrong order, and not fulfilling my customer’s expectations. The customer was very mad at me, and the only way I could get away from the chaos is to call the manager. These kinds of incidents happen quite often when doing a job. At first I wasn’t able to bare with it, but after a few months, I could handle similar problems like this all by myself.

There are many things I learned from this work experience. Thanks to it, now I know how huge of an effort my parents are doing just to fulfil my needs. I know how hard it is doing a job, especially when unexpected incidents happen. I was able to experience what my parents had gone through their whole life after I was born, so I can now respect my parents and manage my money a lot better than before.

Not only I learned how to manage money, but I was also engaged to many useful lessons in life. My part time job after school had taught me how to manage my time really well between working, doing school assignments/homeworks, and spending time with my family. Time management is important, but thanks to my job, I could apply this skill in the future if one day I become a busy person.

Lastly, today I know how it feels to become someone that serves customers. Before getting a job, I was always the one who becomes the ‘customer’. Thanks to the job, I know how it feels when my higher-ups or co-workers are mad at me for doing mistakes . But the worst part is when a customer is mad at you. Because of this, I feel really bad when I see a customer shouting at a waiter/servitor. I became uncomfortable when people say “This is your job, do it right”. I believe that people should be more tolerant towards each other. Believe me, accidents happen, everyone makes mistakes, and no one ever wants it to happen.

In conclusion, the work experience I got from Darwin had taught me valuable lessons in life.

 

Haikal Ilham Adlan
Student at SMA Labschool Jakarta

Apakah Siswa Indonesia Bahagia di Sekolah?


Anak SD Era-90’an Yang Bahagia
Foto: http://www.google.co.id

Tahun 2014 yang lalu ketika PISA mengumumkan hasil studinya yang dilakukan di tahun 2012, kembali Indonesia dihadapkan pada kenyataan yang sama bahwa siswa Indonesia berada pada ranking terbawah dalam hal kemampuan membaca, matematika, dan sains. Pada studi PISA 2012 itu, Indonesia berada pada rangking ke-2 dari bawah, dari 65 negara yang ikut serta dalam studi tersebut dan hanya mengungguli Peru yang berada pada ranking paling bawah.  Hal yang juga  menarik dari hasil studi PISA  2012 dan menjadi paradoks dari  rangking ke-63 tadi adalah Indonesia berada pada ranking paling atas (No. 1)  dalam hal “merasa bahagia di sekolah”.  Banyak tanggapan di sosial media terkait informasi ini, bahkan Kemendikbud merasa bersyukur atas hasil survey ini (http://news.detik.com/berita/2432958/kemendikbud-apresiasi-survei-siswa-indonesia-paling-bahagia-di-dunia). Namun demikian, pemerhati pendidikan Doni Koesoema justru berpendapat lain: “Menjadi juara sebagai siswa paling bahagia berada di sekolah dan bersahabat mestinya tak membuat kita senang. Kita harus lihat bahwa tetap bertenggernya Indonesia di barisan paling belakang di antara para siswa lain menunjukkan betapa pengalaman belajar itu tidak terjadi di sekolah-sekolah kita.” (http://edukasi.kompas.com/read/2013/12/11/1110124/ Indonesia.Paling. Bahagia). Sebelum  membahas lebih jauh tentang kebahagiaan siswa, patut dicermati  bahwa PISA 2012 mengukur kebahagian anak di sekolah hanya dengan satu item dimana siswa memilih salah satu jawaban skala dari setuju sampai tidak setuju terhadap pernyataan : “I feel happy at school”. Bagaimana hasil dari satu item ini  seyogyanya diinterpretasikan dengan tepat? Mungkin diperlukan bantuan ahli psikometri dalam mengkritisi atau mendukung penggunaan item ini.

Benarkah siswa Indonesia bahagia  di sekolah?

Tergelitik dengan pertanyaan diatas dan melihat kondisi sistem  pendidikan Indonesia terutama yang berorientasi pada prestasi akademik, saya tergelitik mempertanyakan  tentang persepsi siswa terhadap pengalaman bersekolahnya.  Apakah siswa Indonesia bahagia di sekolah? Jika memang  bahagia, konsep bahagia yang seperti apa?  Survei yang dilakukan terhadap 345 siswa SD pada 8 sekolah dasar di Jakarta  pada awal 2013 menggunakan skala kepuasan sekolah menunjukkan rerata 3,6 dari skala 5 sehingga dapat diinterpretasikan  bahwa secara umum siswa merasa bahagia/senang di sekolah.  Dalam survei ini, selain menggunakan skala kepuasan sekolah juga  diidentifikasi seberapa sering siswa   mengalami  emosi positif  dan emosi negatif di sekolah melalui skala emosi positif and negatif. Emosi positif yang paling sering dirasakan siswa  adalah  senang, bahagia, gembira, semangat, penuh harapan, aktif ; sedangkan emosi negatif yang sering dirasakan siswa adalah  sebal, bosan, kesal, benci, dan  sedih. Mengapa identifikasi emosi siswa menjadi penting?  Penelitian di bidang neuropsikologi menunjukkan pengaruh emosi positif dan negatif terhadap proses belajar. Emosi positif akan  meningkatkan kemampuan anak dalam berpikir, sebaliknya emosi negatif dapat menghambat anak dalam proses belajarnya.

Meskipun hasil survei ini menunjukkan bahwa siswa masih lebih sering mengalami emosi positif daripada emosi negatif,  namun frekuensi emosi positif yang dialami siswa hanya sedikit lebih tinggi dari emosi negatif. Oleh karena itu, perbandingan  frekuensi emosi positif dan negatif yang dirasakan oleh siswa perlu mendapat perhatian. Mengapa? Karena proporsi  pengalaman emosi positif dan emosi negatif akan mempengaruhi seberapa optimal kesehatan mental seseorang. Kesehatan mental yang optimal akan dicapai jika individu mengalami frekuensi emosi positif tiga kali dari frekuensi emosi negatif (Losada, 2005).   Juga penting untuk dicatat bahwa pengalaman emosi positif maupun negatif meskipun mungkin hanya sekali dialami namun dapat berpengaruh signifikan bagi kesehatan mental anak, karena pengalaman emosi tersebut dapat berlangsung dengan intens ataupun dalam durasi yang lama.

Apa faktor di sekolah yang mempengaruhi kebahagiaan anak di sekolah?

Dalam studi PISA 2012, juga ada ada satu pernyataan  tentang  “saya mudah berteman di sekolah” dan 96%  siswa Indonesia menyatakan setuju atau sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Survei yang dilakukan oleh Deasyanti (2013) mengungkap faktor yang  mempengaruhi pengalaman emosi positif dan emosi negatif siswa di sekolah melalui gambar atau cerita yang dibuat siswa dan melalui diskusi kelompok dengan sejumlah siswa. Temuan PISA 2012 sejalan  dengan temuan pada penelitian  ini bahwa  anak merasa senang di sekolah karena bertemu dengan teman-temannya. Guru juga merupakan salah satu faktor yang membuat anak senang dengan pengalaman di sekolah.  Namun, penelitian ini juga mengungkap faktor guru sebagai sumber pengalaman emosi negatif  yang signifikan bagi siswa. Beberapa perilaku guru yang diungkap oleh siswa dan dipersepsikan memicu pengalaman emosi negatif antara lain: perlakuan guru yang berbeda terhadap anak yang pintar dan kurang pintar, frekuensi guru marah-marah di kelas dan komentar guru terhadap kemampuan anak yang menurunkan harga diri anak.

Berbagai ahli pendidikan sepakat bahwa ketika anak merasa senang, mereka akan belajar dalam kondisi yang optimal.  Ketika anak merasa nyaman dengan diri sendiri, merasa puas dengan kehidupan sekolahnya, mereka akan lebih siap belajar dan berpartisipasi di dalam kelas, sehingga  akan berpengaruh terhadap prestasi akademiknya  (Ladd, Buhs, & Seid, 2000; Leonard et al., 2004; Williams & Roey, 1996). Kepuasan sekolah juga merupakan  prediktor yang handal terhadap prestasi akademik (Samdal, 1999).  Namun demikan, jika siswa Indonesia termasuk siswa yang bahagia, mengapa kebahagiaan anak Indonesia tidak berkorelasi dengan kemampuan akademik yang tinggi?  Bahkan, terjadi paradoks antara kebahagiaan di sekolah dan kemampuan akademik pada PISA 2012.

Merujuk pada konsep bahagia dari Seligman (2009), konsep bahagia di sekolah  yang dialami anak Indonesia hanya terkait dengan salah satu indikator kebahagiaan, yaitu  emosi positif, namun belum mencakup  dua indikator lainnya yaitu pelibatan diri dan kebermaknaan dalam belajar.  Sebagai ahli psikologi positif dan pendidikan positif, Seligman menyatakan bahwa emosi positif saja di sekolah belum mengindikasikan kebahagiaan anak di sekolah  melainkan juga harus mencakup  dua komponen lain tersebut.  Kedua kondisi tersebut terjadi dalam lingkungan belajar yang optimal dimana siswa mengalami situasi yang disebut sebagai ‘flow’ yaitu ketika tantangan dari kegiatan pembelajaran sangat “pas” dengan kemampuan siswa (Shernoff & Csikszentmihalyi, 2009). Merujuk pada konsep bahagia dari self-determination theory (Ryan & Deci,2001), bahagia terjadi ketika individu dapat merealiasaikan potensi dirinya secara optimal. Pendekatan ini fokus pada sejauh mana lingkungan sosial mampu menyediakan situasi yang mampu memenuhi tiga kebutuhan psikologis dasar individu: kebutuhan akan competence, autonomy, dan relatedness.

Melihat kondisi pembelajaran di sekolah Indonesia, dapat diasumsikan kalau kondisi ‘flow’ sangat jarang terjadi  atau dialami oleh kebanyakan siswa. Mengapa? Karena pembelajaran di sistem pendidikan Indonesia berlangsung secara klasikal dimana semua siswa mengerjakan tugas yang sama dalam waktu yang bersamaan, maka bagi sebagian siswa  pembelajaran menjadi sangat sulit dan bagi sebagian siswa yang lain dianggap sangat mudah. Temuan yang menarik dari  respon siswa dalam diskusi kelompok ketika ditanyakan tentang pembelajaran yang  membuat mereka merasa senang di sekolah, diantaranya adalah  guru yang bisa menjelaskan pelajaran dengan sangat  jelas dan langsung,  pelajaran yang jawaban dari soal-soal ulangannya mudah ditemukan didalam buku teks,  pelajaran yang tidak menuntut mereka untuk berpikir terlalu serius. Sejumlah kecil siswa bahkan memberikan respon yang terkait  dengan  kesenangan semata dimana mereka bisa melakukan hal-hal yang diinginkan misalnya suasana kelas yang memungkinkan siswa mengobrol sementara guru meninggalkan kelas mereka, boleh menggunakan hp di kelas (mungkin karena melihat guru yang terkadang menerima panggilan hp di kelas), atau tidak harus dihukum jika tidak mengerjakan PR.  Sebenarnya siswa juga menyukai pembelajaran yang membuat mereka terlibat aktif, seperti bermain peran, eksperimen atau kegiatan dalam kelompok, namun kesempatan ini tergolong jarang terjadi dibandingkan dengan  proses pembelajaran keseluruhan.  Guru merasa kegiatan seperti itu menyita banyak waktu, sementara guru merasa harus mengejar target kurikulum.

Contoh preferensi pembelajaran siswa yang menyukai cara guru mengajar dengan cara menjelaskan pelajaran dan kemudian mengerjakan latihan soal mencerminkan bahwa siswa masih  menikmati cara belajar yang berpusat pada guru. Motivasi belajar siswa Indonesia lebih dilandasi oleh nilai motivasional yang bersifat hedonism (kesenangan dan kemudahan bagi diri sendiri) (Liem & Nie, 2008). Siswa belum menujukkan pelibatan diri dalam belajar yang tercermin dari keuletan, ketekunan, ketangguhan, antusiasme, kegembiraan,serta keinginan untuk mencurahkan usaha melebihi yang diharapkan (Skinner, Kindermann, Connel, & Wellborn, 2009). Sebaliknya siswa cenderung terlihat pasif, kurang mau berusaha keras dan mudah menyerah jika menghadapi tantangan. Kalaupun siswa menunjukkan usaha belajar yang lebih keras (misalnya dalam menghadapi UN), namun resiko akan kegagalan (pada UN) menurunkan kepercayaan dirinya (Zhao, 2014).

Disposisi  nilai motivational yang bersifat hedonism itu mendorong siswa untuk berorientasi  pada tujuan belajar yang bersifat menghindari kegagalan, daripada yang berorientasi pada penguasaan/ pemahaman  dan sekaligus pada orientasi prestasi.   Disposisi ini terkait dengan karakteristik budaya kolektivis dimana target pendidikan yang di tentukan dan ditekankan oleh orang lain (orang tua, guru, dan sekolah) meningkatkan ketakutan akan kegagalan sehingga siswa lebih beorientasi untuk menghindari kegagalan dan sebagai konsekuensinya adalah prestasi belajar yang rendah (Liem, Martin, Porter & Colmar 2012).  Kalaupun terbentuk orientasi belajar yang berorientasi pada prestasi, namun orientasinya ini  seringkali tidak diimbangi dengan orientasi belajar pada penguasaan atau pemahaman materi belajar. Suasana kompetitif yang berkembang dalam iklim sekolah membuat siswa belajar untuk mengejar nilai, sehingga siswa akan senang jika mendapat nilai  ulangan yang bagus.  referensi siswa terhadap pelajaran yang jawaban dari soal-soal ulangannya mudah ditemukan didalam buku teks mencerminkan orientasi pada pencapaian nilai akademik semata.   Tampaknya  inilah yang dimaksud oleh Doni Koesoema sebagai tidak terjadi pengalaman belajar yang sesungguhnya pada sekolah-sekolah kita. Deasyanti (2013) mengidentifikasi berbagai situasi dan kondisi sekolah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar psikologis siswa.

Kembali pada hasil PISA 2012 bahwa siswa Indonesia bahagia di sekolah, manakah yang sudah dialami oleh siswa Indonesia; sekedar senang di sekolah ataukah sudah mengalami “kesenangan belajar” di sekolah?   Manakah yang sebenarnya secara hakiki lebih penting untuk membentuk siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat?

 

Deasyanti
PhD Candidate in Education
Charles Darwin University