Kota Martapura



Kota Martapura, letaknya di bagian selatan pulau Kalimantan. Tepatnya sekitar 40 kilometer dari kota Banjarmasin (ibukota Provinsi Kalimantan Selatan) ke arah utara.

Kota Martapura sejak dahulu terkenal sebagai “kota intan”, kota dimana di sekitarnya terdapat banyak pendulangan dan pengasahan intan baik yang dilakukan oleh penduduk sendiri secara tradisional maupun yang telah dikelola secara modern menggunakan peralatan yang canggih.

Selain pendulangan dan pengasahannya, di kota Ini juga terdapat pasar besar tempat intan dan berbagai perhiasan serta batu permata lainnya dijual di sana yang disebut “Sentra Kerajinan Batu Permata”. Tempat ini sudah terkenal di seluruh Indonesia, bahkan se Asia Tenggara dan bahkan seingat penulis sejak jaman kolonial Belanda kota Martapura ini telah dikenal oleh para ahli, penggemar dan kolektor batu permata di seluruh dunia. Tidak heran jika kota Martapura memiliki daya pikat tersendiri dan hingga saat ini tetap ramai dikunjungi banyak orang. Setiap kali orang datang berkunjung ke kota Banjarmasin maka hampir pasti berkunjung pula ke kota Martapura.

Kota Martapura juga dikenal sebagai kota yang religius. Terdapat mesjid besar yang dikenal dengan nama Mesjid Agung Al Karomah. Tampak luar bangunan mesjid ini terkesan biasa-biasa saja meskipun memiliki halaman dan taman yang cukup luas. Tetapi kesan yang sangat berbeda akan kita temui ketika memasuki bagian dalam mesjid. Ruangan mesjid bertingkat dua ini terkesan luas, indah dan bernuansa sangat religius terutama di area sekitar mihrab dan di bagian tengah yang dahulu merupakan bangunan lama mesjid namun tetap dipertahankan bentuknya hingga saat ini.

Sebutan Martapura sebagai kota religius juga tidak keliru karena di kota ini terdapat pesantren dengan pengajian-pengajiannya yang selalu dihadiri oleh ribuan orang. Pesantren tersebut dipimpin oleh seorang guru kharismatik yang dikenal dengan sebutan ” Guru Ijay”, yang saat ini sudah almarhum. Beliau sangat dikagumi dan dicintai oleh banyak orang. Sejauh pengamatan penulis hampir di setiap rumah di Martapura tergantung foto Guru Ijay. Luar biasa… betapa dicintainya beliau…

Guru Ijay saat itu ternyata bukan hanya dicintai, dikagumi dan disegani oleh masyarakat di sekitar Martapura, tetapi juga oleh seluruh masyarakat Kalimantan Selatan. Bahkan ada kebiasaan tidak tertulis yaitu setiap pejabat baru instansi-instansi penting pemerintah di Kalsel kalau ingin lancar dan sukses “harus” sowan ke Guru Ijay. 

Bulan Mei 2016 lalu penulis berkunjung ke kota ini untuk urusan pekerjaan di Barabai, setelah sekitar 10 tahun tidak pernah berkunjung. Namun sekitar 35 tahun yang lalu penulis pernah tinggal dan bersekolah SMP dan SMA di Banjarmasin, sehingga penulis cukup mengenal kota yang menarik dan religius ini.

Bekasi, 19 Juni 2016

“Satuan Hasil” Dalam Analisa Beban Kerja


Apa itu Satuan Hasil?

Satuan Hasil adalah dalam bentuk apa hasil (output) dari suatu aktivitas/tugas/kegiatan dari suatu jabatan atau unit kerja itu dirumuskan.

Seperti apa bentuknya?

Satuan Hasil dapat berupa: rencana, laporan, orang, pelanggan, unit kerja, instansi, perusahaan, aktivitas, kegiatan, dan lainnya.

Untuk apa Satuan Hasil?

Satuan Hasil perlu dirumuskan dan ditetapkan agar dapat mengarahkan dan memastikan (bentuk) apanya dari suatu aktivitas/tugas/kegiatan itu yang akan kita ukur atau hitung volumenya (jumlah/frekuensi) dan berapa lama waktu (durasi) yang diperlukan untuk menyelesaikannya hingga diperoleh hasil (output) sesuai dengan yang diharapkan.

Contohnya apa?

Jabatan Senior Cashier di Supermarket memiliki tugas salah satunya adalah “Mengawasi penerapan etiket dan sopan santun para Cashier terhadap pelanggan.” Satuan Hasil yang dapat digunakan adalah “Orang/Cashier” atau “Aktivitas/Kegiatan”. 

Keputusan kita menentukan salah satunya akan berpengaruh pada Volume (Jumlah/Frekuensi) dan Lama Waktu Penyelesaian tugas/aktivitas/kegiatan tersebut. Ketika kita menetapkan menggunakan satuan hasil Orang/Cashier, maka berapa jumlah Cashier yang bertugas dalam 1 shift tersebut atau berapa jumlah cashier line yang ada akan menentukan berapa angka yang harus diisi pada kolom Volume (Jumlah/Frekuensi) dan kolom Lama Waktu penyelesaiannya. Misalnya: 10 Orang Cashier atau Cashier Line, dengan Lama Waktu pengawasan per Cashier adalah 5 menit, sehingga total Waktu Penyelesaian menjadi 50 menit. 

Sementara jika kita menetapkan satuan hasil Aktivitas/Kegiatan, maka berapa kali Senior Cashier tersebut dirancang/ditentukan harus mengawasi 10 Cashier yang bertugas dalam 1 shift akan menentukan berapa angka yang harus diisi pada kolom Volume (Frekuensi/Jumlah). Misalnya: 5 kali pengawasan, dengan Lama Waktu selama 10 menit per sekali pengawasan, sehingga total Waktu Penyelesaian tugas tersebut adalah 50 menit.

Sumber: Workshop Workload Analysis by Value Consult.

Kebenaran Al-Qur’an: Batas 2 Lautan



Masya Allah… Sungguh Maha Besar Allah Yang Maha Agung. 

Ternyata air laut yang tidak bercampur itu benar-benar ada. Dua lautan yang tidak bercampur itu terletak di Selat Gibraltar, selat yang memisahkan benua Afrika dan Eropa, tepatnya antara negara Moroko dan Spanyol.

Foto yang memperlihatkan 2 lautan yang tak pernah menyatu di atas membuktikan tentang kebenaran firman Allah SWT melalui Surat Ar-Rahman Ayat 19, 20 dan 21 yang berbunyi:

“DIA membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. 

Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. 

Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?”

(Q.S. Ar-Rahman: 19-21)

Semoga bermanfaat untuk bahan tadabbur Qur’an kita, aamiin…

Al-Quran Terbukti, Gunung Itu Bergerak


Quran Surah An-Naml Ayat 88 :
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Allah SWT melalui Al-Quran menunjukkan bahwa gunung-gunung dan daratan itu tidak diam dalam tempatnya tetapi bergerak. Demikian sebagaimana yang telah diceritakan oleh Prof. Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar dalam artikelnya “Geosparitual: Motion of Continental Shelf” di bawah ini:

Tahun pertama (1998) sepulang dari sekolah di Luar Negeri, saya diajak survey geodinamika. Tugas saya memasang perangkat GPS selama 5 hari di pulau Ternate. Perjalanan dari Ambon ke Ternate ditempuh dengan naik kapal motor ukuran sedang selama 48 jam. Di Ternate telah dipasang pilar geodinamika sejak 1996 di atas sebuah tanah batuan yang cukup besar dan sangat keras. Batuan itu (beserta pilar di atasnya) hanya akan bergeser kalau seluruh pulau Ternate bergeser.Survei ini dilakukan serentak di sekitar 30-an titik di seluruh Indonesia. Ada yang di Pulau Nias. Ada yang di pedalaman Papua. Yang beruntung kalau dapat lokasi di kota besar. Bisa menaruh alat dengan aman di sebuah gedung. Alat itu harus  menyala sampai 5 kali 24 jam non stop. Harapannya, yang co-incidence (absolut serentak) seluruh Indonesia ada 3 x 24 jam.

Karena titik-titik geodinamika itu diukur dengan prosedur yang amat sangat teliti, akurasinya beberapa milimeter. Dan karena titik-titik itu diukur teratur saban tahun, maka pergeseran beberapa centimeter akan tercatat, karena lebih besar dari akurasi atau kesalahannya. Dan benarlah, setelah 3 tahun berturut-turut, kita tidak hanya mendapatkan besaran pergeseran pulau-pulau di wilayah Indonesia, tetapi bahkan kecepatan dari pergeseran itu.

Dan karena pengukuran geodinamika ini juga dilakukan di seluruh dunia, kita akhirnya melihat bahwa seluruh benua yang ada saat ini ternyata bergeser. Bahkan kita bisa menduga kuat, bahwa dulu posisi benua-benua itu di tempat yang sama sekali berbeda, bahwa dulu pegunungan Himalaya adalah lautan dan sebagainya. Muncullah teori Motion of Continental Shelf. Teori pergeseran lempeng benua beserta seluruh pulau-pulau dan gunung-gunung di atasnya. Teori ini berguna untuk memperkirakan daerah-daerah rawan gempa, dan juga berguna untuk koreksi-koreksi jaring kontrol geodesi dan pemetaan.Semua pengetahuan ini baru bisa kita dapatkan setelah kita memiliki perangkat GPS-geodetik yang dapat mengukur koordinat posisi sebuah titik dengan sangat teliti.

Saya lalu tercenung, ketika membaca ayat Qur’an Surah An-Naml Ayat 88 sebagaimana dikutip di atas. Ternyata di dalam Qur’an, lebih dari 14 abad yang lalu, Rasulullah membacakan wahyu bahwa gunung-gunung itu sesungguhnya bergerak. Padahal tidak mungkin Rasulullah memiliki perangkat untuk mendeteksi pergerakan gunung-gunung itu. Informasi ini hanya mungkin datang dari Yang Menciptakan Alam semesta ini Masihkah kita Ingkar dan tidak mau beriman kepada-Nya (dengan menjalankan seluruh perintah-Nya). Sahabatku, Mari kita pakai akal kita untuk memahami (ayat-ayat Allah), mata kita untuk melihat (tanda-tanda kebesaran Allah), telinga kita untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Belumkah kita yakin bahwa Alam Semesta, Manusia, dan Kehidupan ini merupakan hasil cipataan-Nya.

Subhanallah…

Workshop HRMDP at Darmawangsa H0tel


IMG_8613
IMG_8617

Workshop Human Resources Management Development Program (HRMDP).
Held on 30-31 May 2016 at the 101 Darmawangsa Hotel, Jakarta Selatan.
Organized by Value Consult