Darwin: Aborigin’s Site


Nabulwinjbulwinj Painting - Lukisan Batu Orang Aborigin (Foto: Adil Kurnia)

Nabulwinjbulwinj Painting – Lukisan Batu Orang Aborigin (Foto: Adil Kurnia)

Seorang kawan mengompori saya untuk datang ke Darwin karena Darwin sangat berbeda dengan wilayah lainnya di Australia. “Kamu harus pergi ke padang-padang rumput, ke tempat suku Aborigin”, kata kawan saya. Nah karena komporannya itu, saya jadi lebih bersemangat saat menuju Darwin.

Saya tidak tahu pasti seperti apa situasi Darwin. Informasi yang saya peroleh, kondisi alamnya lebih liar dan gersang seperti tanah Flores atau Timor yang memang letak geografisnya berdekatan dengan Darwin. Saya ingin membuktikannya karena memamng saya pernah pergi ke Flores dan Timor.

Sabtu, 23 Mei 2009 pukul 01.00, Virgin Blue mendarat dengan sukses di Darwin International Airport. Setelah bertanya-tanya ke pusat informasi dan mengambil beberapa peta, saya memilih untuk nongkrong di café sembari makan roti, minum hot chocolate di pagi buta dan online… Got free Wifi at Darwin Airport. Bravo!

Buat pejalan seperti saya yang tak punya jadwal fixed dan tak ada orang yang mengatur-ngatur seperti dalam rombongan biro travel, searching internet adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Di tengah ketidakpastian, ada internet yang bisa menghibur.

Seperti dini hari saat ini, daripada naik taksi ke City dan harus bayar hotel, sejumlah backpackers bule memilih untuk tidur di lantai domestic terminal. Sedangkan saya memilih untuk online. Namun akhirnya mendekati pukul 4.00 saya tertidur juga.

Sebenarnya ada beberapa member HC dan CS di Darwin ini, namun umumnya mereka keberatan jika pintunya diketuk dini hari. Saya baca di beberapa profile menyebut keberatannya, seperti “Kalau Anda datang lewat tengah malam, sebaiknya jangan menginap di tempat saya.” Begitu kata mereka. Mungkin mereka belajar dari pengalaman sebelumnya.

Karena penerbangan Virgin Blue dan Jetstar ‘bersaing’ di rute dan jam yang sama dari Brisbane ke Darwin, tak heran penumpang atau backpackers yang tiba di Darwin pun dalam jumlah besar. Bisa jadi di antara mereka adalah members HC atau CS dan mungkin pernah ada yang nekat menggedor rumah host lewat tengah malam.

Membaca beberapa profile seperti itu, saya memutuskan untuk menginap di backpacker hostel saja dan tidak mencoba mencari host. Saya merasa tidak enak kalau harus mengganggu mereka.

Keesokan hari bersama dua backpacker dari Malaysia, kami berpatungan naik taksi ke City. Begitu keluar bandara, rasa penasaran saya terjawab. Sepanjang perjalanan ke City, di kiri kanan jalan tumbuhan dan pohon-pohon kering meranggas. Bentuk-bentuk bangunan seperti film-film cowboy, sangat berbeda dengan Australia Barat, Selatan dan Timur yang sangat Eropa.

Ada banyak backpacker hostels di City, namun beberapa fully booked dan saya beruntung mendapatkan kamar di Youth Shack Backpacker Hostel di Mitchell Street. Backpacker hostel di Mitchell Street ini sangat saya rekomendasikan karena merupakan pusat keramaian di Darwin. Di malam hari, suasananya persis seperti di Legian Street di Kuta, Bali, namun masih lebih heboh di Kuta.

Di sini setiap kamar hanya diisi 2 tempat tidur susun yang artinya hanya 4 backpackers di dalam satu kamar. Rate-nya terbilang mahal, AUD 29 per bed. Seperti biasa: dibagi sprei, sarung bantal dan guling. Juga harus membayar key deposit AUD 30.

Ternyata saya sekamar dengan dua backpackers cewek asal Jerman. Christine dan Christina namanya. Mereka sudah sebulan di Australia, masuk dengan Work and Holiday Visa. Minggu depan mereka akan kerja di perkebunan selama tiga minggu. Sudah umum bagi backpackers pemegang Work and Holiday Visa kalau kehabisa uang, mereka akan bekerja, mengumpulkan uang dan melanjutkan perjalanan.

Itu juga dilakukan Richard, receiptionist Youth Shack yang merangkap jadi kasir di sebuah took souvenirs. Semula saya merasa aksen bahasa Inggrisnya agak aneh, berbeda dari orang-orang Australia pada umumnya. Ternyata dia backpacker dari Belanda yang masuk dengan Work and Holiday Visa. Richard harus kerja keras mengumpulkan uang supaya bisa membeli tiket pesawat pulang ke Belanda.

Tiga hari penuh saya kompori Christine dan Christina supaya datang ke Bali. Darwin ke Bali sudah dekat. Cuma 4 jam terbang. Begitu saya bilang pada mereka. Dua cewek ini sangat antusias mendengar Bali. Esok harinya mereka surfing internet mencari informasi tentang Bali dan melihat foto-foto Bali di blog saya.

Sebulan kemudian, di bulan Juni 2009, Christine dan Christina datang ke Bali selama 3 minggu. Mereka mengabari saya via Facebook. Selama di Bali, status yang mereka pasang di Facebook lucu-lucu. Salah satunya kurang lebih seperti ini: “Setelah jadi backpacker ngirit-ngirit di Australia, kini aku jadi orang Eropa yang makmur dan sejahtera di Bali.”

Kakadu National Park

Berjalan ke pedalaman Darwin sudah menjadi obsesi saya. Namun cara ke sana tidak mudah, karena saya tidak mendapatkan informasi mengenai kendaraan umum semacam bus antarkota yang bisa membawa saya ke sana. Yang memungkinkan adalah menyewa camper van, namun menjadi sangat tidak efektif jika hanya dinaiki dua orang saja.

Cara yang paling efisien dan efektif adalah dengan ikut Day Tour. Tidak murah memang Day Tour Program di wilayah Darwin ini. Apa mau dikata, harus dibayar juga. Selain itu, setelah berhemat sekian lama di sepanjang perjalanan, sah saja jika di titik akhir ini saya membayar untuk suatu petualangan yang menurut saya sangat berharga.

Saya mengambil program tour paling popular: Kakadu National Park. Jadilah kami minggu pagi itu menanti bus Day Tour ke Kakadu National Park. Perjalanan termasuk ke Warradjan Aboriginal Cultural Centre, Nourlangie Rock tempat ditemukannya banyak lukisan suku Aborigin di dinding-dinding gua dan tebing, serta ke Yellow Water Billabong.

Day Tour itu sudah termasuk lunch buffet yang mewah untuk ukuran backpackers dan diakhiri  dengan menyaksikan sunset di ketinggian bukit di Window of the Wetland sembari minum white wine. Sungguh sebuah perjalanan yang ‘sempurna’ menurut saya.

Karena Youth Shack ini dekat dengan Hotel Mantra on the Esplanade, maka kami para backpackers diminta berkumpul di teras hotel besar itu. Setelah itu bus masih menyambangi hotel-hotel lain satu demi satu menjemput peserta tour lainnya. Pukul 07.00 barulah kami meninggalkan Darwin.

Sepanjang perjalanan saya menengok ke kiri dan ke kanan. Semakin keluar Darwin, semakin saya merasa seperti di Flores dan Timor. Ilalang meranggas di mana-mana, bahkan di beberapa spot ada yang dibakar. Jenis tumbuhan dan pohon-pohonnya pun sama.

Pukul 09.00 kami tiba di kawasan Kakadu National Park. Tiba-tiba bus menepi dan turunlah dua orang peserta, bapak-ibu yang sudah sepuh. Saya baru tahu kalau di samping kiri bus ada pesawat kecil Cooinda Air. Kedua peserta tadi segera memasuki pesawat. Mereka join dengan program scenic flight, terbang berputar-putar di atas Kakadu National Park selama beberapa waktu. Dan untuk tambahan program tadi, mereka harus merogoh kocek AUD 200 per orang.

Jika saya punya uang dan waktu lebih banyak, pasti saya juga akan terbang mengitari Kakadu National Park. Tidak hanya itu, saya juga akan mengambil program Camper Van 5 hari menjelajah Kakadu National Park. Lebih seru lagi kalau bisa camping ke Uluru (Ayers Rock) – the Red Centre yang letaknya di tengah-tengah benua Australia. Ingin sekali saya ke sana. Tapi sayang waktu yang saya miliki terbatas. Namun saya berjanji pada diri saya sendiri, suatu saat nanti saya akan datang kembali ke Australia: camping di Uluru dan menjelajah Tasmania yang terpaksa saya skip dalam perjalanan kali ini.

Khayalan saya yang tinggi itu tiba-tiba terhenti ketika sopir bus menghentikan busnya. Ternyata kami telah tiba di Warradjan Aboriginal Cultural Centre. Di Warradjan ini kami mendapatkan keterangan singkat tentang apa saja yang ada di Kakadu National Park yang masuk dalam daftar World Herritage.

Suku Aborigin, generasi Bininj/Mungguy telah tinggal di sana dalam kurun waktu yang sangat lama. Lingkungan yang biodiversity, mulai dari unggas hingga binatang melata pun ada. Rock art di dinding gua juga bisa kita nikmati. Begitulah sekilas info mengenai apa yang akan kami datangi. Sayangnya, Warradjan Aboriginal Cultural Centre ini melarang pengunjung untuk memotret ataupun mengambil video.

Ada satu kutipan dari seorang suku Aborigin Mandy Muir di dalam Cultural Centre ini yang membuat saya terkesan: “The most important thing in the Aboriginal way of life is cultural. When I look at a lot of other people who don’t have culture, I feel sad for them because without culture you don’t really feel that you have a place of belonging. We have our culture. Our land is our life.”

Menurut saya arti kalimatnya begitu dalam. Terlebih karena saya tinggal di sebuah Negara yang memiliki keberagaman budaya. Bagaimana cara hidup kita, cara pandang kita, cara bersikap kita, menunjukkan seperti apa kebudayaan yang kita miliki.

Yellow Water Billabong

Masuk ke rawa-rawa yang disebut Yellow Water Billabong ini alamat bersiap diri akan digigit nyamuk. Perjalanan menyusur rawa-rawa dengan kapal yang disebut sebagai cruise ini tak sia-sia. Di tengah rawa, ditingkah suara burung-burung yang beterbangan dan segerombolan burung yang menclok di pohon-pohon tak berdaun, akhirnya kami ketemu buaya.

Buayanya tak seperti di South Alligator River yang katanya lumayan ganas, di Billabong ini si buaya anteng-anteng aja. Dia merambat malas dan tak peduli pada cruise yang lewat di rawa-rawa tempayt tinggalnya. Tak ada aksi crocodile jump… hehehe. Si buaya sedang kekenyangan tau kelaparan atau sedang mengantuk?

Yang paling berkesan buat saya selama di Billabong ini adalah mendengarkan suara alam. Suara air, suara tanaman, dedaunan, pohon-pohon, cericit burung, desir angin, sungguh irama alam yang menentramkan diri.

Nourlangie Rock

Hanya satu jam dari Yellow Water Billabong, dan kemudian kami lanjutkan perjalanan ke Nourlangie Rock. Aboriginal Rock Art ada di beberapa titik gua. Ada yang berbentuk binatang, pohon-pohon, dan manusia. Lukisannya begitu unik, bersahaja namun bisa membawa kita membayangkan seperti apa hidup suku Aborigin di masa lalu.

Kami sempat trekking sekitar 3 km di tengah terik matahari yang panas. Darwin tak sedingin di bagian selatan Australia. Ia tetap berhawa panas. Trekking menuju ke atas bukit membawa kita pada sebuah pemandangan yang luas di kejauhan sana. Puncak karang terliat kukuh dan keras, sementara di bawah menghampar pepohonan rimbun, di lembah-lembah, di jurang-jurang.

Siang telah terik dan perut tak mau lagi berkompromi. Kami pun turun dan kembali ke bawah untuk lunch buffet yang menunya menurut saya paling mewah sepanjang perjalanan saya ke Australia kali ini.

Window On The Wetland

Sebuah moment yang juga berkesan selama di Kakadu National Park adalah ketika kami berkunjung ke Window on the Wetlands yang merupakan bangunan berlapis kaca dengan teras berbentuk deck dimana semua pengunjung bisa menyaksikan sunset secara lebih leluasa. Sembari berbincang dan menanti sunset, kita pun bisa mencicip white wine. What a perfect afternoon!

Sore hari kami tiba di Darwin. Saya langsung belanja ke sebuah supermarket Woolworth untuk berbelanja. Di setiap backpacker hostel selalu disediakan dapur sehingga para backpackers bisa memasak sendiri makanannya. Memasak akan lebih berhemat daripada membeli makanan jadi.

Di Darwin ini, harga seporsi makanan jadi di restoran atau di café-café bisa digunakan untuk membeli bahan pangan di supermarket dan bisa konsumsi untuk tiga hari. So, kenapa saya tidak memasak saja? Dan dapur di sore  dan malam hari dipenuhi backpackers yang sibuk memasak.

Keesokan hari, saya bangun agak siang. Tidak ada agenda hari itu selain jalan-jalan memutari City dan bersiap terbang ke Singapore. Saya menyempatkan diri mengecek harga-harga souvenirs dan terkaget-kaget karena harganya lebih mahal daripada kota-kota lain di Australia. Mungkin karena ongkos angkutnya yang mahal. Untung saja saya sudah belanja oleh-oleh.

Sumber: Buku “Backpacking hemat ke Australia” oleh Elok Dyah Messwati (2009)

Advertisements

2 Comments

  1. dinar said,

    October 11, 2014 at 11:47 am

    Saya mau minta info tentang ke darwin donk mas, saya gak ada rencana kesana, tapi karena dapet tiket murah jadi saya ambil deh, artikel tentang darwinpun gak banyak jadi koq masih gak kebayang ya, dari airport naik apa ? Yang saya tau harus menginap di mitchell street. Saya akan melakukan perjalanan sendirian tahun depan, saya perempuam jadi agak cemas,. Apakah penduduknya friendly ?

    • adilkurnia said,

      October 11, 2014 at 1:16 pm

      Ok Mbak Dinar, saya senang sekali mendengar ada yang mau ke Darwin… Untuk kondisi sekarang jangan khawatir tentang Darwin. Sedikit cerita, ketika 3 tahun yang lalu saya tiba di Darwin juga khawatir karena info minim sekali. Tapi sekarang kantor Konsulat RI di sana jauh lebih baik sejak pemerintah kita menetapkan Konsul penuh dengan didukung diplomat2 muda yang semangat. Di kantor Konsulat kita pun sekarang ada tempat menampung orang Indonesia menginap. Berkaca pada pengalaman saya yang awalnya agak kesulitan mencari bantuan karena orang kita juga di sana tidak banyak dan hampir semua sibuk bekerja, jadi saya pun aktif dan gencar membantu setiap orang2 Indonesia yang datang berkunjung atau sekolah di Darwin. Sekarang banyak orang/teman2 yang dengan senang hati membantu orang Indonesia yang ke Darwin. Mahasiswa juga sudah lebih banyak sekarang.
      Bulan apa tahun depan ke Darwin? Kalau sampai dengan bulan Maret, mungkin isteri saya bisa bantu jemput di bandara. Dari bandara ke Mitchell Street ada bus kota (detil jadwal menyusul) trip 3 AUD/3 jam atau taksi sekitar 20 AUD. Orang2nya ramah2 termasuk Aborigin yang tampangnya serem, atau paling apes dimintain 3 dolar. Mereka gak kriminal karena punya duit disubsidi pemerintah. Biasanya nanti kalau Mbak sudah nginep bareng di hotel backpackers pasti sudah punya banyak teman dengan pengalaman yang beragam, termasuk backpackers dari Indonesia. Intinya jangan khawatir dengan Darwin.
      Okay itu dulu informasi dari saya.
      Salam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: