Sulitnya Mencari Pekerjaan


SAMSUNG DIGITAL CAMERA

Pindah ke luar negeri bukan berarti kita tinggal memindahkan pekerjaan atau profesi kita di Indonesia ke tempat baru dimana kita akan tinggal menetap. Profesiku sebagai konsultan dan trainer kelas gurem yang berpenghasilan tidak lebih dari 20 juta per bulan di Jakarta tidak serta merta dapat dijalankan di tempat baruku kota Darwin, wilayah bagian utara Australia. Untuk mendapatkan lisensi sebagai psikolog (psychologist) dibutuhkan persyaratan yang tidak ringan buatku yaitu skor IELTS minimal 7,5 plus biaya pendaftaran dan kursus yang mahal untuk ukuranku yang masih berpenghasilan rupiah Indonesia. Skor IELTS 7,5 itu muskil bisa kucapai dalam tempo cepat karena istriku saja harus ikut kursus dan tes berulang kali dengan biaya yang mahal untuk sekedar mendapatkan skor IELTS 6,5 sebagai syarat minimal kuliah S3 di Darwin. Pendek kata, aku harus segera melupakan untuk bisa berprofesi sebagai psikolog di kota ini.

Awalnya aku berharap akan mendapatkan pekerjaan dengan dibantu oleh orang Indonesia yang telah sukses sebagai pengusaha developer (pengembang) dan memiliki cattle (peternakan sapi) di negara bagian Queensland. Tapi setelah aku hubungi di telepon rumahnya, telepon selulernya, beberapa kali SMS menanyakan peluangnya, dan setelah menunggu lebih dari sebulan akhirnya aku menjadi putus asa dan tidak berharap lagi mendapatkan pekerjaan darinya. Meskipun masih wajar kita menggunakan jalur relasi atau koneksi untuk mendapatkan pekerjaan, tapi harusnya aku menyadari bahwa ini bukan di Indonesia yang kental KKN tapi ini di Australia. Australia tergolong negara maju yang dalam banyak hal sudah berorientasi pada kemampuan (competency), bukan lagi pada hubungan atau relasi (KKN). Selain itu, segala permasalahan yang dihadapi harus mengacu dan sesuai serta patuh pada aturan (system operating procedure) yang sudah dibuat dan ditetapkan.

Aku masih berkeras mencoba mendapatkan pekerjaan dengan menghubungi via telepon atau bertemu langsung dengan beberapa orang Indonesia di Darwin. Kudengar mereka biasa menawarkan pekerjaan kepada orang-orang atau mahasiswa Indonesia yang membutuhkan pekerjaan, meskipun pekerjaannya sifatnya casual atau temporary bukan permanen (karyawan tetap). Anehnya, entah apa yang salah pada diriku ternyata usaha ini juga tidak berhasil. Apakah mereka tidak suka atau sungkan kepadaku, tapi yang jelas tidak ada orang Indonesia yang serius menawarkan pekerjaan kepadaku, padahal aku sangat membutuhkan pekerjaan saat itu. Bisa dibayangkan biaya hidup kami berempat per minggu di Darwin sangat besar, yaitu rental/sewa unit tempat tinggal (2 kamar) saja 350 dolar/minggu, power & water (listrik & PAM) sekitar 400 dolar/triwulan, makan 50 dolar/minggu, belanja bulanan 100 dolar/bulan, petrol (bensin) 50 dolar/bulan, pulsa HP berempat 120 dolar/bulan, dan lainnya yang tak terduga. Meskipun biaya sekolah kedua anakku (SMP dan SMA) gratis dan transportasi bus untuk mahasiswa dan anak sekolah tidak perlu bayar, tapi dengan beasiswa 1750 dolar/bulan yang diterima istriku jelas tidak bisa menutupi biaya hidup tersebut. Jadi memang aku harus segera bekerja mencari tambahannya supaya tabungan tidak terus melorot lalu menjadi bangkrut dengan hutang dimana-mana, wah bisa parah tuh….

Meskipun awalnya aku enggan melakukannya, akhirnya aku coba melamar via online ke beberapa perusahaan yang memasang iklan di Koran NT News dan beberapa website lowongan kerja seperti CareerOne, Trovit Jobs, Indeed Job Alert dan lainnya. Posisi yang dilamar tentunya bukan psikolog tapi sebagai Cashier dan Night Filler di supermarket, Team Member di Warehouse, dan lainnya yang tidak menuntut kerja fisik terlalu berat mengingat usiaku yang tidak muda lagi, hampir menginjak setengah abad ini. Setelah menunggu seminggu, ternyata ada respon email dari supermarket terbesar di Darwin yang menyatakan bahwa aku diminta datang untuk wawancara pada hari tertentu. Tetapi sungguh mengecewakan, sehari setelah itu aku menerima email susulan dari mereka yang meminta maaf bahwa email yang mereka kirimkan kemarin keliru karena ternyata kualifikasiku tidak memenuhi persyaratan jabatan lowong itu. Oh ternyata aku tidak beruntung, itu bukan rezekiku… Aku pun harus sabar menunggu balasan email berikutnya. Seminggu… 2 minggu… 3 minggu… sebulan ditunggu belum juga muncul, aku pun menjadi putus asa dan tidak berharap lagi akan mendapatkan pekerjaan via online…

Hampir 2 bulan aku menganggur sejak kedatanganku ke Darwin membuat isteriku semakin gelisah dan sering mengomel yang membuatku menjadi stress dan mudah tersinggung. Aku bisa memahaminya karena situasi ini sudah mulai mengganggu kondisi keuangan kami. Bentuk kegelisahan atau kegalauan isteriku menimbulkan sikapnya yang agak berlebihan bahkan memalukan, yaitu kepada setiap orang yang dijumpainya dimana saja (di kampus, pasar, supermarket, atau tempat lainnya) ia selalu menanyakan “Ada informasi kerjaan nggak buat suamiku?” atau “Do you have (information of) job for my husband?” kalau yang ditanya orang bule. Sampai-sampai tukang daging di depan supermarket terbesar di Darwin tahu aku lagi mencari pekerjaan dan katanya dia tahu dari isteriku, ampuuun…

Usaha isteriku agaknya menuai respon, seorang teman mahasiswanya asal Bangladesh yang bekerja di supermarket mau membantu menyampaikan CV (Resume) milikku kepada atasannya (Cashier Supervisor). Beberapa hari kemudian, aku diminta datang untuk wawancara dengannya. Setelah wawancara sekitar 15 menit dalam bahasa Inggris yang seadanya tapi cukup komunikatif, Supervisor orang Filipina itu bilang bahasa Inggrisku nanti bisa diperlancar sambil bekerja. Tahap selanjutnya adalah mengikuti training orientasi di kantor pusat mereka. Ia akan mengabari via telepon kapan aku harus mengikuti orientasi tersebut. Luar biasa gembira aku selepas wawancara itu, ingin rasanya aku berteriak keras-keras meluapkan kegembiraan itu. Namun ternyata kabar yang kutunggu itu tidak kunjung-kunjung ada… Ingin rasanya aku mendatangi langsung ke kantornya untuk menanyakannya, tapi isteriku segera mencegahnya dan menyarankan untuk menanyakan melalui temannya saja. Setelah ditanyakan temannya, ternyata aku tidak memenuhi persyaratan sebagai sebagai Cashier dan Supervisor tersebut sedang menawarkan CVku kepada Supervisor lain untuk posisi sebagai Night Filler. Beberapa hari kemudian, teman istriku pun mengabarkan bahwa karena kesibukan Supervisor itu belum juga sempat menanyakan hasilnya kepada rekannya Supervisor yang membawahi Night Filler itu. Lama ditunggu tidak ada kabar, aku pun kembali menjadi putus harapan untuk bisa diterima di supermarket itu, nasib… oh nasibku…

Begitu juga dengan anak perempuanku yang duduk di SMA. Tak kalah dengan ibunya, dia juga gencar menanyakan teman-temannya tentang informasi pekerjaan buat ayahnya. Tak lama setelah itu, seorang temannya yang kebetulan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Darwin menginformasikan bahwa di tempatnya bekerja sebuah hotel bintang tiga sedang membutuhkan orang untuk posisi Housekeeper. Sesuai informasinya, segera aku menghubungi HR Manager hotel tersebut. Setelah mengirimkan CV yang diminta, aku pun diminta bertemu untuk wawancara dengannya. Kami pun bertemu untuk wawancara sekaligus ia menunjukkan ke lokasi tugas-tugas apa saja yang harus dikerjakan sebagai Housekeeper/Pool Attendant/Cleaner/Maintenance di hotel itu. Ia sempat ragu akan minatku dan menanyakan apakah dengan kualifikasi yang dimiliki (kemampuan konseptual dan pengalaman dibidang manajerial) aku tidak keberatan dan merasa mampu melakukan tugas-tugas yang membutuhkan kekuatan dan ketahanan fisik sebagaimana yang ditawarkan. Meskipun dalam hati juga meragukan, tapi mengingat kebutuhan financial yang mendesak maka aku secara meyakinkan menjawab tidak keberatan dan senang dengan tantangan itu. Ia pun kelihatan cukup puas dan akan mengabarkan keputusannya setelah melaporkannya kepada GM Hotel. Aku pun pulang pamit pulang dengan perasaan cukup optimis bisa diterima bekerja untuk posisi itu, tinggal menunggu kabar via email atau ditelepon langsung dari hotel itu. Lama menunggu aku pun menanyakan kabar via email ke Manager tersebut, namun tidak dibalas. Untuk menanyakan lagi takut tidak sopan, lalu aku minta tolong teman mahasiswa Indonesia yang bekerja di sana untuk menanyakannya. Beberapa hari kemudian ia mengabarkan bahwa posisi tersebut sudah diisi orang lain. Menurut HR Manager tersebut, secara personality sebenarnya ia sangat menyukaiku tapi ia sangat ragu aku akan mampu dan senang (enjoy) mengerjakan semua tugas yang dibebankan. Ternyata kualifikasi yang tinggi tidak menjamin seseorang untuk bisa diterima, mereka benar-benar menjalankan prinsip “the right man on the right place”. Oh akhirnya aku menjadi “korban” dari prinsip rekrutmen yang selalu aku ajarkan kepada para HR Manager/Supervisor/Officer perserta pelatihan/workshopku…

Sulitnya mendapatkan pekerjaan di Darwin menghantuiku selama hampir 3 bulan pertamaku di kota ini. Jangankan mendapat pekerjaan yang sesuai profesiku di Jakarta, pekerjaan yang tampaknya sederhana dan mengandalkan fisik saja aku pun tidak mendapatkannya selama kurun waktu tersebut. Kepatuhan pada aturan (SOP) dan prinsip rekrutmen yang dijalankan HR Department perusahaan telah menjadi kendala bagiku untuk segera mendapatkan pekerjaan. Hal lain yang kemungkinan menjadi hambatan adalah sikapku yang mengharapkan bantuan orang lain, cenderung menunggu, kurang proaktif bahkan kurang agresif dalam mengejar peluang, mengirimkan banyak lamaran, menanyakan via email, menelepon langsung atau bahkan kalau mungin mendatangi langsung kantor pemberi kerja. Aku harus mampu menyingkirkan rasa takut, rasa khawatir, rasa malu atau rasa sungkan dan segera menyadari bahwa “Ini di Australia, bukan di Indonesia Bung…”

Advertisements

15 Comments

  1. Umar W. Ar-rasyid said,

    October 1, 2014 at 5:22 am

    Kisah perjalanan hidup yang mengharukan. Yakin dan terus berikhtiar dengan cara yang baik lagi benar akan menghasilkan sesuatu yang menenangkan sekalipun belum tentu menang. Sukses selamanya.
    Umar W.Ar-rasyid
    7DA38B2D

  2. joe said,

    October 19, 2014 at 9:18 am

    Salam kenal pak Adil, pertama saya sampaikan wish you luck to get the job soon in Darwin. Saya juga mau menanyakan peluang kerja di bidang telekomunikasi di Darwin kira2 bagaimana ya pak? Saat ini saya bekerja di jakarta bidang telekomunikasi, ingin rasanya mencoba mengadu nasib di overseas. Jika ada informasi dan berkenan mohon di share ya pak. Terima kasih. Good luck for you.

    • adilkurnia said,

      November 21, 2014 at 8:08 am

      Wah maaf Pak/Mas Joe… saya baru bisa balas sekarang karena kesibukan mengurus anak-anak masuk SMA dan kuliah di Indonesia.
      Setahu saya untuk masuk Australia tergolong sulit. Jalan yang bisa ditempuh melalui student visa, working visa, dan working holiday visa (WHV). Via student visa, kita bisa ambil kursus, kuliah S1, S2 atau S3, lalu sambil apply pekerjaan. Via working visa, kita bisa apply dulu via online dari Indonesia dan kalau diterima baru perusahaan tersebut mengeluarkan surat sponsor. Via WHV sekarang banyak dimanfaatkan anak2 muda untuk cari kerja di Australia. WHV jangka waktunya 1 tahun dan Australia menyediakan 1000 orang setahun untuk orang Indonesia. Selama setahun terakhir rumah saya di Darwin sempat ditempati oleh 3 kali anak2 muda WHV dari Lombok, Bali dan Yogyakarta, sebelum akhirnya mereka mereka stabil bekerja dan menyewa rumah sendiri atau bareng WHV yang lain dari Indonesia. Bagi anak2 WHV, kota Darwin lebih mudah mencari kerja dibanding kota2 lain di Australia. Paling lama sebulan mereka sudah dapat kerja asalkan mau bekerja apa saja dulu sebelum dapat pekerjaan yang sesuai, mereka kompak saling berbagi informasi dan berbagi pekerjaan. Ketika 3 tahun yang lalu saya datang, kelompok WHV dari Indonesia di Darwin belum ada dan sebanyak sekarang. Kalau cara ini yang mau ditempuh, sebaiknya segera bergabung di group FB mereka. Nanti saya tanyakan bagaimana bergabung dengan mereka. Sementara itu dulu informasi dari saya, semoga bermanfaat… Salam.

  3. Felisia Irma said,

    December 15, 2014 at 7:16 am

    Hallo pak…
    Nampaknya saya nanti jadi penerus bapak nih merantau ke Darwin Australia. FYI, ternyata sepupu saya yang di darwin itu temennya izza anak bapak yang cewek dan suami saya itu mantan guru-nya izza hehehe.
    Saya bener-bener takut menjelang keberangkatan ke darwin bisa tidak nanti dapat pekerjaan disana karena bahasa inggris saja kacau balau walau suami oke2 saja. Cuma kalo sudah berhadapan dengan beberapa orang “ngeblank” otomatis.
    Tapi dibanding dengan orang-orang di brisbane, tempat mertua, saya lbh “mudheng” sama orang-orang darwin kalo ngomong english kayaknya lbh gampang di cerna atau karena darwin banyak orang indo. Selain saya juga serem sama cerita-cerita soal orang aborigin heheeh. Jadi kalo ada orang aborigin lari secepat-cepatnya.

    • adilkurnia said,

      December 15, 2014 at 8:39 am

      Mbak Felisia,
      Senang sekali ada orang Indonesia mau ke Darwin. Jangan khawatir sekarang di Darwin semakin banyak mahasiswa Indonesia dan anak2 muda yang kerja pake visa working holiday. Pasti cepat buat Mbak untuk cari kerja karena suami orang bule jadi memang ada kemudahan. Nama suaminya siapa? Nathan ya? Apa betul Mbak orang Salatiga? Siapa pun Mbak, pokoknya selamat datang deh dan semoga betah di Darwin… Salam.

    • adilkurnia said,

      August 15, 2015 at 4:03 am

      Selamat ya Felisia… Semoga enjoy!

  4. Andre said,

    February 25, 2015 at 10:50 am

    Salam dr Jakarta

    Terus bgmana pak cerita kelanjutan cari kerjanya? Dicari2 gak ketemu linknya.
    Denger2 bpk memberikan tumpanan pd anak2 whv, sy boleh daftar gak pak untuk minggu depan ini tgl 8 maret? Sy senang kl bisa berbagi cerita dg sesama Indonesia kalau tinggal baru di kota asing. Kan nanti biaya sewa perminggunya lumayan bisa bapak gunakan utk keperluan. Sama2 senang,)

  5. Dony said,

    July 11, 2015 at 6:04 am

    Selamat siang Bapak Adil Kurnia,
    Saya jadi ingin tanya, jadi Bapak datang ke Darwin sebagai turis atau sebagai mahasiswa?

    Saya sudah kebanyakan kuliah tapi ingin sekali mencari penghidupan baru seperti di Darwin. Kira kira apakah bapak tau ada teman teman yang masuk sebagai turis, tinggal maksimal 3 bulan sembari mencari pekerjaan disana?

    Mohon sharing nya ya Pak. Terima kasih.
    Dony

    • adilkurnia said,

      July 11, 2015 at 10:02 am

      Mas Dony,
      Saya tinggal di Darwin dengan status “turis” (turut isteri) yang kuliah S3 di sana. Dibanding saat itu, sekarang banyak mahasiswa dan anak muda (fresh graduate) yang datang untuk bekerja di Darwin dengan status visa berlibur sambil bekerja (working holiday visa = whv) yang lamanya setahun. Bahkan dari mereka ada yang berstatus suami-isteri. Beberapa dari mereka pernah tinggal di tempat tinggal keluarga saya. Sekarang mereka banyak tinggal beramai-ramai menyewa rumah. Seinget saya mereka punya group BBM, FB dan WA, senang melihat mereka Kompak saling membantu.Darwin memang kota yang kota yang kurang menarik untuk tempat tinggal, tapi menarik untuk cepat dapat kerja dan permanent resident. Gimana asyik kan… Silakan Mas Dony segera mulai menjajaki untuk mengajukan working holiday visa ke Darwin.

      Salam hangat

      • Nad said,

        August 14, 2015 at 8:56 am

        Salam kenal pak adil.. Saya nad pak, saya salah satu anak whv yg baru mau terbang ke darwin hehe.. Sy baca paragraf dimana bapak menyewakan kamar buat para whv-ers kl boleh sy mau minta kontak pak adil 🙂 krn saya berencana stay didarwin bersama 2 teman saya.. Mohon kl bs pak adil memberikan kontak bp ke email saya nadiroh.cute@hotmail.com terimakasih banyak pak 🙂

      • adilkurnia said,

        August 15, 2015 at 3:44 am

        Terima kasih sudah mampir Mbak Nad dan senang sekali dengarnya ada anak muda Indonesia yang berminat datang ke Darwin… Sejak Januari 2015 saya sudah kembali ke Indonesia. Nanti hubungi aja isteri saya yang masih di sana di email: deasy.edupsy@yahoo.com atau HP +61405605287.

    • adilkurnia said,

      August 15, 2015 at 3:33 am

      Makasih Mas Dony sudah mampir ke blog saya. Ke Darwin, saya menemani istri kuliah S3 di sana sekalian bawa anak2. Saran saya, Mas Dony segera apply WHV (Working Holiday Visa) ke Darwin. Beberapa tahun sudah banyak anak muda Indonesia yang datang dan mereka tidak sulit cari kerja. Semoga itu cocok buat Mas Dony… Salam hangat

  6. Natalie said,

    September 29, 2016 at 9:13 am

    Salam kenal Pak Adil,

    Sungguh artikel yang sangat menyentuh, menunjukkan bahwa kita memang harus benar-benar berusaha disana ya Pak. Semoga saya bisa sekuat Pak Adil. (Amin)

    Pak, saat ini Saya sedang mengurus keperluan WHV dan saya tertarik untuk pergi ke Darwin, Apakah bapak mengetahui group fb dari mahasiswa/ anak2 muda WHV Indonesia yang tinggal di Darwin? saya ingin berdiskusi lebih banyak sehingga nantinya bisa lebih siap.

    Terimakasih Pak,

  7. adilkurnia said,

    September 29, 2016 at 3:20 pm

    Terima kasih sudah mampir Mbak Natalie dan semoga aplikasi WHVnya diterima… Nanti saya cari tahu grup WAnya dan kabari Mbak Natalie. Sudah lama saya tidak kontak-kontak mereka lagi sejak terjun kembali ke dunia kemacetan Jakarta. Rencana tanggal 12 Oktober saya ke Darwin untuk menemani isteri wisuda di CDU, saya bisa cari informasi lebih lengkap di sana. Salam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: