Saat Kapal Pesiar Singgah Di Darwin


facebook-20140717-232141

Cruise ‘Sea Princess’ berlabuh di Wharf Darwin, Juli 2014 (Photo by Ken Lin)

How are you Ken? What’s your plan for this holiday?”, sapaku kepada Ken Lin mahasiswa asal Taiwan ketika kami bertemu di kitchen building 6 International House Darwin seperti biasanya hampir setiap pagi.

Today I will go to Wharf for seeing the Cruise that came to Darwin this morning. They only been in Darwin for short time, in the evening they have to leave Darwin going to another places“, katanya penuh antusias.

Oh it’s nice thing to see. I am also interested to see that Cruise if not in doing this job. Please take the pictures of Cruise and send me some, okay…“, pintaku.

Okay Adil…“, katanya sambil terburu-buru menyiapkan sarapan rutinnya, roti tawar gandum berbentol-bentol wijen dan sekelas kopi susu. Akupun segera menuntaskan pekerjaanku di kitchen ini lalu keluar menuju toilet yang harus kubersihkan sesuai tugasku sebagai cleaner di Asrama Mahasiswa ini.

Berbicara mengenai Kapal Pesiar, aku jadi teringat cerita menarik dari seorang sesepuh orang Indonesia di Darwin saat ia menjalani profesi sebagai supir taksi beberapa tahun lalu. Suatu ketika ia mendapat order untuk mengantar seorang wanita tua berkeliling kota Darwin dalam waktu 4 jam. Dia minta ditunjukkan tempat dan bangunan-bangunan penting di kota Darwin seperti Gedung Pemerintah, Gedung Parlemen, Universitas, Museum, Mal/Supermarket, Pasar Tradisional, dan lainnya.

Nanti si wanita tua itu hanya minta berhenti untuk makan siang di restoran tertentu, pada saat itu dia bilang bahwa temanku si supir taksi yang mengantarnya itu boleh ikut makan siang bersamanya atau boleh hanya menunggu di dalam taksi atau di tempat mana saja asalkan tak jauh dari taksinya dan ia akan mengabarinya segera kalau akan kembali ke mobil.

Berusaha menunjukkan keramah tamahan dan memberikan pelayanan yang menyenangkan kepada tamunya, temanku pun berinisiatif bertanya kepada wanita tua itu tentang asal-usulnya dan bagaimana ia bisa sampai berkunjung ke Darwin. Bagaikan ikan yang diberi umpan dan sebagaimana pada umumnya sifat dari orang-orang tua yang senang sekali apabila menceritakan masa lalunya, maka si wanita tua ini pun dengan sangat antusias menceritakan pengalaman hidupnya kepada temanku ini.

Maka jadilah di sepanjang perjalanan mendampingi wanita tua ini, sang supir taksi yang temanku ini betul-betul berperan menjadi pendengar yang baik dengan sesekali melontarkan pertanyaan yang dijawab dengan semakin menggebu oleh si wanita tua itu. Tidak apalah pikir temanku, toh argometer taksinya tetap berputar, ia tetap dibayar, dan tidak salah toh kalau kita berusaha menyenangkan orang lain di penghujung usianya.

Wanita tua ini bercerita bahwa selama setahun ini sebagian hidupnya dihabiskan di kapal pesiar (Cruise), dari satu kapal pesiar ke kapal pesiar lainnya. Sebelum tiba di Darwin untuk selama 4-6 jam, bersama Kapal Pesiar “Sea Princess” yang berkapasitas penumpang sekitar 2000 (dua ribu) penumpang ini ia bersama teman-temannya telah mengunjungi beberapa kota di Australia setelah sebulan yang lalu bertolak dari Singapura.

Di kota-kota yang disinggahi, mereka memang diperkenankan untuk turun keluar dari kapal pesiar itu namun hanya untuk jangka waktu yang singkat yaitu selama sekitar 4 jam untuk berkeliling melihat-lihat kota tersebut. Selebihnya kehidupan mereka adalah di dalam atau di atas kapal pesiar tersebut. Tapi mereka tidak perlu khawatir karena semua kebutuhan hidup mereka telah dipenuhi dan dapat diperoleh di kapal tersebut.

Kapal pesiar tersebut telah menyediakan aneka pelayanan dan fasilitas, dari penyediaan makanan dan minuman (dapur dan restoran-restoran), pemeliharaan kesehatan (dokter umum, dokter spesialis, terapis), sarana olahraga dan kebugaran (fitness centre, massage, kolam renang, billiard, tennis), perawatan kecantikan (salon, pedicure, medicure), hiburan (bioskop, night club, bar, live music), serta pelayanan dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Crew atau petugas yang melayaninya pun telah dididik sedemikian rupa untuk terampil memberikan pelayanan prima kepada para penumpang yang umumnya berasal dari kalangan atas (kaya, berduit banyak). Kurang memuaskan sedikit saja atau salah dalam melayani maka sudah pasti akan menerima complaint yang bertubi dari mereka. Memang mereka sengaja mau membayar mahal untuk bisa  mendapatkan pelayanan yang terbaik.

Wanita tua ini bercerita, sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu maka ia tinggal sendiri di sebuah apartemen di tengah kota London (Inggris) yang sibuk dengan biaya hidup yang semakin mahal. Ia memutuskan bersedia untuk hidup di atas kapal pesiar ini atas penawaran dan rekomendasi dari sebuah konsultan/agen asuransi yang kemudian disetujui oleh anak laki-laki satu-satunya yang telah berkeluarga dan berprofesi sebagai bankir. Kesibukan anaknya sebagai bankir di kota London membuatnya tidak mungkin bisa mengunjunginya 1-2 bulan sekali apalagi untuk melayaninya secara intens atau merawatnya kalau sakit.

Pertimbangan lain yang tak kalah penting adalah dari segi ekonomi/finansial, yaitu sudah semakin melonjaknya biaya hidup (perawatan apartemen, biaya makan dan minum, biaya kesehatan, dan biaya-biaya lainnya) di kota London di mana apartemennya saat itu berada. Baginya semua biaya-biaya itu terasa mahal dan sulit untuk ditutupi oleh uang pensiun dirinya dan suaminya maupun oleh sisa tabungannya.

Sungguh suatu solusi yang menarik sekaligus menantang ketika saat itu ada sebuah konsultan/agen asuransi yang menawari dirinya untuk mencoba hidup bahkan menghabiskan sisa hidupnya di atas kapal pesiar yang menyediakan segala kebutuhan kita layaknya kita hidup di darat. Apalagi setelah dikalkulasi secara cermat ternyata biaya yang harus dikeluarkan untuk hidup di atas kapal pesiar menjadi lebih murah dibandingkan dengan biaya hidup di apartemen lamanya yang berada di tengah kota London yang bergengsi itu.

Ketika penawaran untuk tinggal di kapal pesiar ini dikonsultasikan kepada anak laki-laki satu-satunya itu dan anaknya tersebut kemudian menyatakan tidak keberatan maka wanita tua ini pun memutuskan untuk mencoba berani menjalaninya. Ia pun berpikir bahwa ia tidak akan sendirian menjalaninya tetapi juga bersama-sama dengan beberapa wanita tua lainya yang bernasib serupa dengan dirinya yaitu berusia lanjut, fisik semakin lemah, hidup sendiri dan tidak ada keluarga yang bisa memelihara atau merawatnya lagi.

Di atas sebuah kapal pesiar, mereka bisa tinggal selama beberapa bulan (2-3 bulan) dengan hanya singgah beberapa jam di kota-kota tertentu untuk mengisi bahan bakar, mendapatkan air bersih, membeli makanan dan minuman serta memberi kesempatan kepada para penumpang untuk berjalan-jalan menikmati kota yang disinggahi.

Kemudian di kota-kota tertentu (misalnya Singapura), mereka bisa singgah lebih lama (sekitar seminggu) dengan menginap di hotel untuk kemudian dipindahkan ke kapal pesiar lain dengan rute yang berbeda (misalnya dari rute Asia ke rute Eropa atau rute Amerika).  Demikian seterusnya kapal pesiar pergi dan singgah dari suatu kota ke kota lain, ada yang hanya singgah untuk satu hari (bahkan tidak sampai 24 jam) dan terkadang ada yang singgah sampai beberapa hari bahkan seminggu di kota-kota tertentu.

Hingga saat tiba di kota Darwin ini, nenek tua penumpang taksi itu bersama teman-teman senasibnya telah menjalani hidup di atas kapal pesiar selama lebih kurang 9 (sembilan) bulan. Saat ini ia merasa lebih sehat secara fisik dan merasa lebih tenang serta rileks dalam menjalani hidup. Ia merasa hidupnya sekarang menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya saat berada di tengah hiruk pikuk kota London.

Menyimak cerita temanku yang cukup inspiratif tentang wanita tua yang hidup di kapal pesiar di atas, sebagai orang Indonesia tentunya aku terpikir apakah pilihan hidup seperti itu masih mungkin untuk diterapkan di Indonesia? Rasanya hampir tidak mungkin atau pesimis pola hidup yang seperti itu akan bisa diterapkan atau dilakukan oleh orang-orang tua yang berusia lanjut (jompo) di Indonesia, mengapa demikian?

Banyak hal atau kondisi yang tidak memungkinkan bagi orang-orang Indonesia yang sudah tua (pensiunan/jompo) untuk melanjutkan hidup mereka di atas Kapal Pesiar. Hal-hal itu antara lain: 1). Adanya budaya dan ajaran agama agar kita “berbakti” (memelihara/merawat) kepada orangtua (apalagi jompo) selama mereka masih hidup; 2). Adanya budaya kekeluargaan yang kuat, yaitu meskipun bukan anak-anaknya tetapi keluarga besar cenderung bersedia untuk memelihara/merawatnya; 3). Hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang berkemampuan finansial baik untuk mampu membayar biaya hidup di Kapal Pesiar yang mahal dan mewah itu.

Meskipun saat ini hanya segelintir saja orang Indonesia yang mampu menikmati kemewahan kapal pesiar tapi kita masih patut berbangga bahwa putra-putri Indonesia yang bekerja di kapal pesiar dikenal sebagai crew yang terbaik. Sudah sering kita mendengar banyak pujian dari atasan mereka, manajemen/pemilik kapal, maupun dari para penumpang bahwa mereka pada umumnya bekerja sangat terampil, cekatan, dan tentunya sangat ramah dan murah senyum. Untuk saat ini, memang orang-orang Indonesia masih memiliki posisi/peran dan unggul hanya sebagai crew yang baik di Kapal Pesiar. Akan tetapi dengan terus bekerja keras maka bukan hal yang tidak mungkin suatu ketika kelak putra-putri Indonesia justru yang akan menjadi penumpang yang menimatinya atau bahkan menjadi pemilik dari Kapal Pesiar tersebut … Ingat, bukankah dunia dan kehidupan ini berputar… Allahualam Bissawab!

Darwin, 20 Juli 2014

Pagi Berseri di Kampus Charles Darwin University


Koridor CDU

Casuarina Campus, Darwin (Foto: Adil Kurnia)

Ayaaah… Aku Sedih Sekali !!


Dalam keadaan engkau sakit tak sadarkan diri (koma) begini, ingin rasanya aku memandang wajahmu terus-menerus, memandang semua yang telah begitu lekat dalam hidupku sehari-hari. 

Tadi aku begitu rindu ingin melihat kerut tanganmu yang khas, kubelai lembut… sampai tak terasa pikiranku melayang ke masa lalu ketika engkau masih sehat dan penuh semangat hidup. Aku jadi sangat sedih tak terkira, Ayah… 

Kubayangkan bila suatu ketika aku tak dapat lagi memegang tanganmu seperti saat ini. Ingin rasanya untuk terus tak henti memandangmu yang terbaring dalam keadaan tak berdaya itu Ayah… 

Aku rindu engkau Ayah…
Belum cukup bagiku membuatmu bahagia Ayah…
Belum terbayar semua usaha pengorbananmu untuk kami anak-anakmu Ayah… 

Aku ingin lebih dari itu Ayah…
Aku ingin berbakti Ayah…
Aku ingin engkau betul-betul merasakan hasil jerih payahmu yang keras dan tulus itu ayah… 

Engkau wariskan sifat-sifat terpuji itu padaku Ayah…
Bukankah engkau ingin melihat hasilnya Ayah…
Oh… tak kusangka sakit engkau akan menjadi begitu parah Ayah… 

Aku tahu harapan-harapanmu padaku Ayah…
Maafkan aku bila tak bisa memenuhi harapanmu
Hanya sebagian yang baru engkau rasakan ayah…
Engkau malang Ayah… 

Oh Ayah…
Aku rindu sekali Ayah…
Baru setahun ini kurasakan akrab dan hangat kasih sayangmu
Terlalu haru untuk diingat kembali Ayah… 

Oh Ayah… Ayah… belum cukup semua itu Ayah…
Apa yang mesti kukatakan lagi Ayah…
Ayah… oh Ayah…
Aku sedih sekali…

(Jakarta, Oktober 1984)

Catatan:
Setelah koma sekitar 2 bulan, akhirnya Ayah menghadap yang kuasa pada tanggal 15 November 1984.

Hubungan Antara Grade Jabatan Dengan Tingkat Pendidikan Karyawan


Bagan Sistem Karir

Bagan Hubungan Antara Grade Jabatan dan Tingkat Pendidikan Karyawan

Sumber: Materi Sistem Karir dalam Workshop HRMDP oleh Adil Kurnia (2010)

Masa-Masa Penuh Keringat


IMG-20130913-02919_edit_edit_edit

Suamiku Karyawan Outsourcing


Aku terkejut bukan kepalang ketika suamiku di ujung telepon mengatakan bahwa ia baru saja kehilangan pekerjaannya. Perusahaan atau yayasan outsourcing pengelola keamanan tempatnya bekerja baru saja diputus kontraknya dan pada saat itu juga digantikan oleh perusahaan pengelola jasa keamanan lainnya.

Perusahaan outsourcing tempat suamiku bekerja ternyata terbukti telah banyak melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan pada pasal-pasal yang tertera pada kontrak kerjasama dengan perusahaan yang memberikan pekerjaan pengelolaan jasa keamanan kepada mereka.

Sebagai istri aku tidak mau tahu alasan mengapa perusahaan tempat suamiku bekerja diputus kontraknya, yang aku pertanyakan adalah mengapa kok karyawan dengan mudah diberhentikan dari pekerjaannya padahal yang salah adalah perusahaan tempatnya bekerja.

Selain itu, aku pun mempertanyakan kenapa suamiku yang tidak melakukan kesalahan diberhentikan tetapi tidak mendapatkan pesangon, uang pengabdian atau apapun namanya sebagai uang yang ia dan keluargaku butuhkan untuk makan, bayar kontrak rumah dan menyekolahkan 3 orang anak kami yang saat ini 2 orang bersekolah di SD. Dari mana kami akan mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Sebagai istri aku tidak habis pikir kenapa aturan yang ada kok begitu tidak menjamin kehidupan rakyat yang banyak masih miskin. Kalau tidak ada jaminan untuk orang yang memang benar-benar bersalah itu sih masih wajar. Tapi kalau untuk orang-orang yang tidak bersalah mestinya harus dijamin dong…

Terbayang dalam pikiranku sebagai istri, aku tidak tega meminta uang belanja kepada suamiku yang sedang sedih dan pusing karena menganggur. Apa pula alasan yang akan aku dan suamiku katakan kepada anak-anak kami yang meminta uang jajan setiap harinya. Bahkan terbayang sampai berapa bulan anak-anak kami akan merasa malu karena sekolahnya menagih terus uang SPP yang kemungkinan tidak sanggup kami bayar.

Bagaimana pula dampak mental dari anak-anak kami yang mengalami kenyataan ini. Terbayang pula kami harus gali lobang tutup lobang dengan meminjam uang kesana-kemari untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Sungguh bayangan kehidupan yang pilu untuk dirasakan.

Sebagai istri aku hanya bisa berharap suamiku akan mendapatkan pekerjaan kembali, entah sebagai apa, bisa sebagai tukang ojek (karena masih punya motor yang baru saja lusan cicilannya), ikutan dengan saudaranya berjualan duku atau rambutan di pinggir jalan, menjadi buruh bangunan, burung panggul atau mengerjakan apa saja yang halal, bukan meminta-minta di pinggir jalan atau mencuri milik orang lain yang diharamkan dan tidak berkah buat keluarga kami.

Sebenarnya sebagai istri aku berharap perusahaan outsourcing tempat suamiku bekerja bisa segera mendapatkan kembali pekerjaan pengelolaan keamanan di suatu perusahaan sehingga ia dapat hidup normal kembali.

Namun setelah aku pikir-pikir, kalau hal itu terjadi maka akan ada sekian banyak istri-istri tenaga outsourcing lain yang akan mengalami nasib dan penderitaan yang sama dengan yang aku alami saat ini. Jadi kalau begitu kondisi seperti ini hanya akan memindahkan kesengsaraan dari satu keluarga miskin ke keluarga miskin yang lain. Sungguh aku tidak ingin hal ini terjadi pada keluarga siapa pun, sungguh ini suatu dilemma…

Sebagai istri aku merenung sangat lama sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mempasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta untuk menentukan semuanya. Aku hanya bisa berdoa dan terus-menerus memberi semangat kepada suamiku agar berusaha dan tidak putus asa untuk mencari pekerjaan untuk mendapatkan rezeki yang halal, soal hasilnya aku serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT yang maha pemberi rezeki, aamiin…

(Diinspirasi dari kejadian nyata)

Sepotong Surat Rindu Untuk Sahabat


Darwin, 2 April 2011

Kepada Sahabatku
Rinaldi Novanto
Di Jakarta

Ass. Wr. Wb.,

Hai sobat… Apa kabar?
Baik-baik saja kan! Di sini aku baik-baik saja.
Baru sebulan saja, aku sudah rindu padamu.

Di sini sepi sekali..
Waktu pertama kali datang ke sini,
aku pikir orang-orang pada hilang.

Kalau mau pergi kemana-mana,
aku harus naik bus karena aku belum punya mobil.
Kalau pergi ke sekolah,
aku harus jalan kaki ke halte, lalu menunggu bus sekolah.

Aku tidak pernah merasa bosan di sini
karena aku membawa PS3 ku ke sini.

Sudah dulu ya.
Salam buat teman-teman yang lain.
Jangan lupa balas suratku.

Temanmu,
Fauzan Thariqi

Pelajar Asia di Australia Sering Mengalami Kesulitan


Melanjutkan studi di luar negeri dalam hal ini ke Australia tidaklah seindah dan seenak yang dibayangkan. Hal ini terutama bagi pelajar-pelajar yang berasal dari negara-negara yang memiliki budaya, agama, bahasa, dan sistem pendidikan yang berbeda dengan di Australia. Mereka seringkali mengalami kesulitan-kesulitan yang bukan tidak mungkin akan mengganggu bahkan menghambat kelanjutan studi mereka di Australia.

Sebuah laporan dari universitas Monash dan Melbourne menyatakan bahwa pelajar Asia yang menuntut ilmu di luar negeri, dalam kasus ini di universitas-universitas Australia, menderita kadar isolasi dan kesepian yang sangat tinggi.

Dua ratus pelajar dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Cina dan India dijajaki pendapatnya dengan hasil 67% wanita dan 62% laki-laki mengatakan mereka sering bingung di Australia dan sulit berteman dengan murid-murid lokal Australia.

Pelajar Singapura yang 100% mengatakan merasa “lost in a jungle” (hilang di hutan) dan “in a very strange place” (berada di tempat yang sangat aneh).

Laporan tersebut juga membuang mitos yang menggambarkan pelajar Asia dengan mobil mahal dan berkehidupan mewah, disebutnya:

…banyak pelajar mancanegara tidak mampu makan, 60% dibayar kurang dari batas gaji minimum yang legal, dan mereka adalah yang paling rawan akan eksploitasi… …karena kurangnya kemampuan berbahasa Inggris dan ketidakpedulian akan hak-hak bekerja.

Para pembuat laporan tersebut mencerca universitas-universitas Australia yang telah memperlakukan pelajar asing seperti “cash cows” (sapi perahan).

Sekitar sepertiga dari pelajar asing dilaporkan memiliki kurang dari separuh uang yang diperlukan untuk menutup ongkos kehidupan dasar.

Sumber: Indonesiamatters, 8 Februari 2008)

Membangun Hubungan Melalui Peternakan Sapi


Yudhis, Deti and Yogi 2

Yudhis, Deti dan Yogi (Photo: NTCA)

Sebuah program pelatihan yang memberi beasiswa bagi 15 mahasiswa jurusan peternakan dari Indonesia untuk berlatih di Australia telah berhasil meraih tujuan untuk bukan hanya memberi keterampilan tapi juga membangun hubungan antara Indonesia dan Australia -termasuk tentang pengertian agama dan budaya.

Beberapa keterampilan yang dipelajari oleh beberapa mahasiswa yang diwawancarai oleh Radio Australia adalah kemampuan bekerja disiplin, pengetahuan mengenai kesejahteraan hewan, cara menunggang kuda, dan juga, bagi beberapa, pengertian kenapa orang-orang di peternakan Australia seringkali menggunakan kata-kata yang dianggap kasar.

Deti Inayatun, mahasiswi Institut Pertanian Bogor berusia 21 tahun yang mengaku adalah seorang yang pemalu, mengatakan sulit pada awalnya untuk menghadapi budaya berbicara yang terkesan lebih kasar dari yang biasa dia hadapi di kota Bogor.

“Untuk minggu pertama itu saya shock karena mendapat kata-kata kasar seperti itu, saya hanya bisa bersabar dan beradaptasi. Mungkin mereka juga menyadari Indonesia merupakan budaya yang sangat halus dan sopan. Jadi mereka beradaptasi dengan saya, saya beradaptasi dengan mereka.

“Sumpah serapah itu karena mereka sangat kesal, sangat cape, jadi mereka mengatakan hal seperti itu. Dan mungkin karena ada beberapa kesalahan, jadi mereka semakin bersumpah serapah. Saya juga mengucapkannya, tapi hanya dalam hati, karena saya tidak berani mengucapkan,” katanya sambil tertawa.

Yudhistira Pratama, mahasiswa berusia 20 tahun dari Universitas Padjajaran di Bandung, juga mengatakan tantangan budaya dan bahasa sulit dihadapi pada awalnya. Tapi dia mengaku sangat menikmati pengalamannya bekerja di peternakan-peternakan sapi Australia selama enam minggu, terutama karena melihat keindahan alam di Victoria River District.

“Berkuda menunggangi kuda seharian, dari pagi sampai sore, menggembalai sampai empat ribu sapi, dan di hadapan kita melihat awan yang sangat indah di Australia. Saya sangat suka melihat alam itu.

“Ketika saya tidur di kamp di tengah-tengah daerah terpencil yang kita tidak tahu di mana, kita lihat bintang-bintang di atas sangat indah sekali…pengalaman yang sangat ‘wow’,” katanya.

Dan di malam-malam hari setelah bekerja itulah dia juga mengalami berbagai pembicaraan dengan pekerja lainnya yang tidak bisa dia lupakan.

“Kita sharing tentang agama, tentang agama saya…percakapan yang paling berkesan buat saya dan mereka, untuk memahami agama masing-masing.”

“Sempat ada satu orang yang menanyakan, terjadi teror-teror di mana-mana dan itu terjadi karena oknum muslim, dia tanya: kenapa itu terjadi? Saya bilang itu salah pemahaman terhadap agama…tidak semua orang muslim seperti itu. Saya sempat sedih dan mengeluarkan air mata di situ, oh ternyata begitu…”

Membangun hubungan dan pengertian

Program pelatihan ini dilakukan atas kerja sama antara organisasi peternak Northern Territory Cattlemen’s Association, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia dan enam universitas dan berjalan selama delapan setengah minggu.

Para mahasiswa yang terpilih diberi pelatihan intensif selama dua setengah minggu di Darwin, dan kemudian dikirim ke peternakan-peternakan sapi di Australia Utara.

Konsul Indonesia di Darwin, Bapak Ade Padmo Sarwono, mengatakan program ini diharapkan olehnya bisa membantu membangun hubungan industri sapi ternak di masa depan, terutama dengan adanya peningkatan ketertarikan penanaman saham dari kedua belah pihak negara.

“Memang di bagian utara ini banyak peternakan sapi, kita di satu sisi mengharapkan investasi Australia terkait ternak, di sisi lain [pemerintah Indonesia] juga akan melakukan investasi di Australia.

“Kalau, Insyaallah, terjadi investasi, jadi mereka bisa menjadi rujukan sebagai narasumber mahasiswa, bagaimana sih sebetulnya melaksanakan ternak dengan baik.”

Deti, yang sebelum ke Australia belum pernah menunggang kuda, mengatakan para pekerja di peternakan sapi Australia menunjukkan usaha untuk mengerti budaya Indonesia dan Islam -dan ini sangat membantu dirinya.

“Karena ini tahun kedua, jadi sebelumnya sudah ada mahasiswa yang datang, dan mereka sudah mengerti bagaimana cara menghargai budaya Indonesia, terutama karena saya perempuan, mereka tidak pernah meminta saya minum alkohol.

“Ketika kita harus beribadah, bahkan saya saja lupa, sedang kerja, mereka tiba-tiba mengingatkan: Deti, it’s time for you to pray! Saya sangat berterima kasih pada mereka ini.”

Sedangkan Yudhistira sendiri menemukan seorang teman baru yang sangat membantunya untuk merasa betah selama di peternakan tersebut. Salah satu pekerja, Matthew, adalah seorang bumiputera Australia yang pernah belajar Bahasa Indonesia ketika masih muda.

“Ketika kita pulang, dinner malem-malem kita saling berinteraksi, saya ngobrol dengan salah seroang bumiputera Australia, Matthew, beliau sudah tua, beliau menganggap kami seperti anak sendiri. Itu sangat mengesankan sekali bagi saya.

“Saya sangat ingat sekali, kalau ingat beliau saya sangat sedih, karena setiap pagi beliau selalu berkata ‘selamat pagi’, dan ketika siang beliau berkata ‘selamat siang’, beliau pernah belajar Bahasa Indonesia karena pernah diajarin oleh seorang guru, gurunya orang Indonesia di Katherine.

“Hari terakhir sangat sedih, sampai jam 12 malem kita ngobrol-ngobrol. Udah seperti bapak sendiri. Kita ngobrol gimana nanti komunikasi, sambil nonton film, sambil dengerin lagu. Menikmati malam.”

Kini, para mahasiswa tersebut sudah kembali ke Indonesia, tapi sebuah hubungan yang erat telah terjalin, baik dalam industri yang sangat penting dalam masa depan hubungan Indonesia dan Australia, maupun dalam segi antar manusia Indonesia dan Australia.

Sumber: Radio Australia

Daerah Pinggir Laut Di Darwin


Apabila suatu ketika Anda berkunjung ke Darwin, pertunjukkan-pertunjukkan yang digelar di kota ini cukup banyak yang berlangsung di sepanjang kawasan tepi lautnya yang telah direnovasi oleh pemerintah Northern Territory beberapa tahun lalu.

Kawasan ini dipenuhi dengan jejeran restoran, pertokoan, laguna berpasir dan taman-taman. Di tempat-tempat itu kita bisa berenang di laguna, memancing di dermaga, bersantap di alam terbuka dengan hidangan laut yang masih fresh baru ditangkap, dan menjelajahi rumah-rumah yang berdiri megah di tepi laut.

Kita juga bisa menelusuri sejarah yang kaya di wilayah ini melalui jalur pejalan kaki sambil menikmati karya-karya seni publik. Di masa kini banyak para keluarga, pebisnis dan wisatawan domestik maupun mancanegara berbaur di sepanjang kawasan tepi laut ini, yaitu tempat di mana pada masa lalu suku Aborigin Larrakia, pedagang dari Indonesia (Makassar) dan pemukim Eropa dulu pernah meninggalkan jejak.

Berekreasi di alam bebas merupakan bagian penting dari kehidupan di sepanjang kawasan tepi laut Darwin ini, Kawasan ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki sebentar dari pusat kota.

Kita bisa berenang kapan saja sepanjang tahun di laguna di tepi laut Darwin ini. Ada yang menawarkan pengalaman seperti di pantai, dengan beragam ombak yang sesuai untuk siapa saja mulai dari peselancar boogie hingga anak-anak. Bagi yang menginginkan pengalaman renang di tempat yang lebih tenang, bisa mengunjungi laguna rekreasi, yaitu sebuah kolam air laut yang luar biasa besar ukurannya dengan dipenuhi oleh ikan, dan di tempat ini pun kita bisa berlayar serta berkano.

Ada jalur pejalan kaki dan jalur sepeda berkelok di sepanjang dinding laut, di antara kolam air laguna rekreasi dan pelabuhan terbuka. Kita bisa berjalan kaki, bersepeda atau berlari santai sembari menikmati pemandangan laut dan merasakan energi tropis Darwin yang memang unik.

Kita juga bisa menjelajahi kebun dan taman yang rindang, menyusuri rumah-rumah megah di tepi laut dan mengunjungi pertokoan dan restoran alam terbuka.

Di pusat kuliner Dermaga Stokes Hill, kita bisa menikmati cuaca kota Darwin yang hangat dan menyaksikan matahari terbenam yang menakjubkan sambil menyantap sepiring hidangan laut. Dermaga ini juga merupakan tempat yang populer bagi penggemar memancing dan sekaligus sebagai tempat pemberangkatan kapal pancing dan kapal pesiar. 

Kawasan tepi laut Darwin memiliki sejarah yang kaya dan beragam, yang dimulai dari pemiliknya suku Aborigin Larrakia yang selama berabad-abad berdagang dengan berbagai kelompok orang dari Indonesia (Makassar). Para pemukim Melayu dan Cina terdahulu juga mendirikan rumah di sini, menorehkan bagian penting lainnya dalam sejarah budaya Darwin. Di sinilah para pemukim Eropa pertama di kota ini mendarat, sebelum berkemah di ‘parit’ di dekat Fort Hill.

Area dermaga ini juga merupakan tempat serangan udara Jepang pertama kali menggiring Perang Dunia II ke Australia. Di sini pula terletak taman umum pertama Darwin yang dahulunya menaungi jalur kereta api yang membentang antara Frances Creek dan dermaga, dengan stasiun di dekat Stokes Hill.

Kisah-kisah dan peristiwa menakjubkan ini diabadikan dalam karya-karya seni publik yang tersebar di berbagai kawasan tepi laut, baik di gedung-gedung maupun di ruang-ruang publik.

Kita juga bisa menelusuri sejarah dengan menjelajahi Terowongan Penyimpanan Minyak kuno peninggalan Perang Dunia II atau mengikuti jalur jalan kaki Traveler’s Walk, yaitu jalan utama menuju kota ketika Dermaga Stokes Hill dibangun pada tahun 1895.

Selain itu, kita juga bisa menengok tanggul batu yang dibangun di awal abad ke-20 dan kunjungi lokasi di mana prospektor Australia Selatan yang penuh ambisi, George Woodrofffe Goyder, mendirikan kemah.

Jadi jangan lupa jika Anda berkunjung ke Darwin, jelajahilah kawasan tepi laut Darwin yaitu tempat meleburnya kehidupan tropis modern dengan keragaman sejarah di kota paling utara Australia ini. Kita akan mendapatkan lebih banyak ide-ide khas Australia, Darwin dan sekitarnya.

Sumber: Darwin Tourism Guide

« Older entries