Darwin, Dekat Di Mata Tapi Jauh Di Hati


Image

Kota Darwin begitu dekat dari kota Kupang (NTT) dan kota Ambon (Maluku), tapi serasa begitu jauh dari negeri kita Indonesia, entah seakan berada nun jauh di kutub utara atau kutub selatan. Itulah gambaran kota Darwin di wilayah Australia bagian Utara (Northern Territorry) di mata orang Indonesia kebanyakan. Mungkin karena persepsi yang demikian itulah maka orang-orang Indonesia dan khususnya Pemerintah Indonesia telah begitu lama tidak memberikan perhatian yang memadai atau lebih tepatnya tidak memanfaatkan potensi yang dimiliki kota Darwin dan wilayah Australia bagian utara ini untuk kepentingan orang-orang dan Pemerintah Indonesia sendiri.

Sangat menggembirakan dalam pertengahan tahun 2012 akhirnya Pemerintah Indonesia menunjuk seorang Konsul Jenderal untuk wilayah Northern Territory. Sekitar 10 tahun Pemerintah Indonesia hanya menempatkan Acting Konsul di wilayah ini, yang berarti menganggap Northern Territory bukanlah prioritas dalam kebijakan Kementerian Luar Negeri RI. Perubahan ini kemungkinan besar terkait dengan selesainya masalah Timor Timur (Timor Leste), mulai hilangnya trauma tragedy Bom Bali, dan meredanya masalah pemotongan sapi impor dari Australia. Meskipun masih ada masalah lain yang tak kunjung usai terkait penyelundupan manusia ke Australia yang melibatkan kapal dan nelayan Indonesia. 

Dalam periode setahun ini, saya merasakan banyak perubahan dalam peningkatan peran dan citra Indonesia di mata Pemerintah setempat, Universitas maupun masyarakat pada umumnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan tampak lebih komprehensif dalam mendukung dalam peningkatan peran dan citra tersebut. Selain kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun terkait seni, budaya dan pendidikan, juga tampak ada kegiatan diplomatik yang menonjol yang menciptakan hubungan yang lebih mesra dengan Chief Minister Northern Territory (setingkat Gubernur di Indonesia) dan jajaran pemerintahannya, Administrator (Wakil Gubernur Jenderal Australia di NT), Perwakilan Negara Sahabat Lainnya di Darwin, serta tentunya dengan kalangan pengusaha.


Kembali ke kondisi sebelumnya bahwa selama ini saya merasakan justru negara-negara lainlah yang telah banyak memanfaatkan sumber daya alam dan kekayaan kultural yang dimiliki wilayah ini untuk kepentingan pemerintah dan orang-orang mereka. Padahal secara geografis, negara mereka berada jauh dari wilayah ini, yang berarti dibutuhkan usaha yang lebih besar dan keras bahkan harus bertaruh nyawa (lihatlah kasus refugee dan asylum seeker yang terus marak hingga saat ini) untuk bisa sampai dengan selamat ke wilayah ini.

Mereka-mereka yang saat ini terlihat dominan menghuni kota Darwin dan wilayah Northern Territory selain orang-orang kulit putih dari negara-negara Inggris Raya adalah orang-orang Greek (Yunani), Cina, India, Filipina dan Afrika. Setelah itu baru orang-orang Indonesia, Timor Leste, Pakistan, Thailand dan Bangladesh. Kemudian sedikit dibawahnya ada orang-orang Vietnam, Kamboja, Nepal dan Bhutan. Sisanya adalah orang-orang Malaysia, Taiwan, Jepang, Korea dan Yordania. Terakhir berdatangan para pengungsi dari Afganistan, Iran, Burma, dan Srilanka. Saya mencoba untuk membandingkan para pendatang dari Asia Selatan dan Filipina dengan orang-orang kita Indonesia di Darwin.

Dalam sekitar dua dekade terakhir ini, begitu pesatnya berdatangan orang-orang Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Bhutan, Nepal dan Srilanka) ke Darwin. Di kalangan orang Indonesia di Darwin, kelompok mereka dikenal dengan istilah IPB (India, Pakistan dan Bangladesh/Bhutan) – plesetan dari Institut Pertanian Bogor. Banyak dari mereka masuk ke Darwin (Northern Territory) melalui jalur visa student, kemudian mereka bekerja sebagai supir taksi, pelayan supermarket, toko, restaurant, dan lainnya. Selanjutnya orang-orang IPB ini dengan antusias dan menggunakan network yang dimiliki mereka berusaha mengajukan status visa sebagai Permanent Resident (PR). Dengan memperoleh status PR berarti mereka sudah bisa menikmati banyak fasilitas dan kemudahan yang diberikan Pemerintah Australia layaknya seorang yang berstatus Citizen (warganegara) dalam hal kesehatan, biaya sekolah, pekerjaan, pinjaman bank, dan lainnya kecuali untuk dipilih dan memilih dalam Pemilu.

Bercerita tentang orang-orang India dan Asia Selatan lainnya menjadi suatu hal yang menarik. Dengan karakter mereka yang cenderung ambisius, dominan dan memiliki rasa kekerabatan yang tinggi (kompak) serta kemampuan berbahasa Inggris yang cukup mendukung, kelompok IPB ternyata mampu menguasai banyak sektor kehidupan di Darwin dan sekitarnya. Saat ini mereka cukup menguasai sektor kehidupan dibidang intelektual, ekonomi maupun seni budaya di Darwin.

Apabila kita masuk ke kampus CDU (universitas satu-satunya di Darwin), kita akan dapati beberapa tenaga pengajar (dosen) bergelar Profesor dan Doktor yang berketurunan India/Pakistan. Walaupun mereka sudah memiliki kewarganegaraan (Citizen) Australia, namun mereka banyak membantu para mahasiswa yang berasal dari negara yang sama dengan asal mereka baik secara akademis maupun non akademis dalam menghadapi dan menyelesaikan kuliahnya. 

Para tenaga pengajar keturunan IPB itu pun aktif dalam kegiatan-kegiatan di komunitas mereka entah itu sebagai Pembina, Ketua atau bahkan sebagai pelaksananya langsung dari kegiatan-kegiatan tersebut. Hal ini terlihat dari betapa ramai (dihadiri sekitar 8000 orang) dan meriahnya acara “India@Mindil” yang diadakan komunitas mereka setiap tahun di Mindil Beach – sebuah pantai di Darwin yang sangat dikenal para turis mancanegara. Kemeriahan itu setara dengan kemeriahan acara “Greek Glenty” yang diadakan orang-orang Greek setiap tahun di Explanade – taman yang asri menghadap laut di pusat kota Darwin.

Dalam dunia kerja, mereka orang-orang Asia Selatan itu selain banyak bekerja sebagai supir taksi, security guard dan pelayan restaurant mereka juga bertebaran bekerja sebagai Cashier, Nightfillet atau lainnya di Woolworth (jaringan supermarket terbesar di Darwin), Coles, K-Mart, BigW serta supermarket/toko besar lainnya. Setiap saat kita belanja ke supermarket, maka orang-orang merekalah yang banyak melayani kita disana. Semua itu rasanya membuat kita iri, karena orang Indonesia yang bekerja disana hanya bisa dihitung dengan jari. Pekerjaan lain yang menonjol dari mereka adalah bekerja dibidang IT (Information Technology) dan Accounting, dua profesi dari beberapa profesi yang saat ini sangat dibutuhkan di Darwin/NT sebagai kota yang baru kembali berkembang setelah diluluh-lantakkan oleh Cyclone Tracy pada tahun 1974.

Selain orang-orang India dan Asia Selatan, orang-orang dari Filipina juga telah begitu lama menetap dan mengantungkan hidup dari kota ini. Di Darwin, ada tempat yang dikenal dengan Philipines Club yang juga sering digunakan untuk berbagai acara yang bukan hanya orang-orang Filipina saja yang menggunakannya. Orang-orang Filipina (seringkali orang-orang menyebutnya “Fillos”) banyak ditemui bekerja dibidang entertainment antara lain di SkyCity dan Casino, yang merupakan salah satu pusat kehidupan malam di Darwin selain di Mitchell Street. 

Orang-orang Filipina juga banyak bekerja sebagai Nurse (Perawat), mungkin sebagian besar Nurse di Royal Darwin Hospital adalah orang-orang Filipina. Informasi yang didengar bahwa pihak swasta di Filipina atau bahkan Pemerintah Filipina sendiri setiap tahunnya secara reguler telah mengirim para perawat (calon perawat) untuk dididik atau langsung ditempatkan di rumah sakit-rumah sakit di Darwin dan wilayah Northern Territory. Sementara para Perawat asal Indonesia jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Mereka bekerja di Darwin sebagai hasil kerjasama antara Pemerintah NT dengan pihak swasta di Jakarta yang sempat berjalan selama 2 periode sekitar 3-5 tahun yang lalu namun kemudian terhenti dengan alasan yang penulis belum ketahui.

Di lingkungan universitas, seperti halnya orang India dan Asia Selatan disana juga terdapat beberapa tenaga pengajar bergelar Doktor yang berasal dari Filipina. Namun ternyata bukan hanya itu, yang justru terlihat lebih banyak adalah orang-orang Filipina yang berstatus sebagai karyawan universitas dengan menempati posisi-posisi yang lumayan penting. Walaupun bukan sebagai tenaga pengajar namun peran mereka cukup besar dalam men-support mahasiswa asal Filipina yang juga banyak berkuliah di CDU.

Sudah barang tentu anak-anak Filipina pun memenuhi sekolah-sekolah dasar dan menengah di kota ini, baik dari level Preliminary, Elementary, Middle maupun High School. Bahkan kalau kita mendengar ada perkelahian anak-anak atau remaja di sekolah, mal atau jalanan, maka seakan telah ada stigma bahwa itu pasti melibatkan anak-anak orang Filipina. Mungkin stigma ini tidak sepenuhnya benar karena kumpulan anak-anak remaja nakal berpenampilan nyentrik dan seronok yang nongkrong di depan Mal Casuarina (termasuk pada jam sekolah) nampak cukup beragam termasuk juga ada anak-anak orang kulit putih. Paling berandal diantara mereka adalah anak-anak halfcas (campuran Aborigin dan Kulit Putih). Saya pernah melihat sendiri mereka berani merampas tas pengunjung Mal, merusak bangku dan billboard terminal, dan mendengar mereka berani membongkar menerobos masuk lewat jendela lantai atas sebuah rumah teman yang ditiggal mudik ke Indonesia. Kenapa demikian, padahal mereka masih anak-anak/remaja? Apakah karena mereka merasa sebagai pemilik asli benua ini yang juga dialiri darah orang kulit putih yang maju/modern sehingga kepercayaan dirinya menjadi begitu tinggi keblabasan, hal ini menarik untuk diteliti lebih jauh…

Dengan pertambahan populasi yang diperkirakan lebih cepat dari orang-orang Cina dan Greek, sempat terbayang dipikiran saya bahwa kelak pada 20-30 tahun ke depan kota Darwin akan dapat dikuasai oleh orang-orang Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Bhutan, Nepal dan Srilanka) dan Filipina dalam berbagai sektor. Bukan hanya di sekolah-sekolah, universitas dan pasar tradisional seperti sekarang, tapi juga sampai ke seluruh Kantor-Kantor Pemerintah (Goverment Offices) dan Kantor Parlemen (Parliament House). Dengan posisi-posisi strategis yang mereka miliki maka mereka akan banyak dapat menentukan arah kebijakan berbagai segi kehidupan di kota Darwin dan Northern Territory ini.

Lalu kita bertanya, dimana dan bekerja sebagai apa orang-orang Indonesia yang ada di Darwin? Orang Indonesia disana ada yang berprofesi sebagai guru di Elementary School, Middle School dan High School, tetapi sayang tidak ada yang berprofesi sebagai tenaga pengajar (dosen) di universitas. Di CDU saat ini memang ada seorang asal Indonesia bergelar Doktor lulusan University of South Australia (UniSA) Adelaide yang bekerja sebagai Peneliti (Researcher) dibidang Energi Terbarukan (Renewable Energy). Beliau mantan PNS LIPI yang hijrah ke UniSA dengan alasan klasik yaitu masa depan yang lebih baik. Namun disayangkan, untuk kelancaran karirnya akhirnya ia lebih memilih menjadi Citizen Australia meski hati dan jiwanya tetap untuk negara kelahirannya Indonesia. Ia aktif berbaur pada hampir setiap acara yang diadakan mahasiswa dan komunitas Indonesia di Darwin. Keseluruhan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di CDU (S1 hingga S3) hampir 50 orang. Jumlah ini lebih sedikit dari mahasiswa Timor Leste yang berjumlah lebih dari 100 orang, apalagi dibandingkan Cina, India (Asia Selatan) dan Filipina. 

Beberapa orang Indonesia di Darwin juga ada yang memiliki restaurant atau berjualan makanan, diantaranya Sumatra Cafe di Pertokoan Smith Street, Ayuriz Cafe di Gedung Darwin Central Hotel, Sari Rasa di Pertokoan Cavenagh Street, serta beberapa orang berjualan masakan/makanan khas Indonesia di Rapid Creek Sunday Market (pasar tradisional ala Asia yang hanya buka khusus di hari Minggu). Selain orang Indonesia dan mahasiswa Indonesia, pelanggan restaurant Indonesia tersebut berasal dari segala lapisan masyarakat di Darwin. Menurut pemiliknya, Chief Minister dan para pejabat pemerintahan setempat secara berkala menikmati masakan Indonesia di Sumatra Cafe. Begitu pula di Ayuriz Cafe, karena letaknya yang strategis berdekatan dengan hotel-hotel besar dan hotel/motel backpackers sehingga mudah dijangkau oleh para turis khususnya orang Indonesia yang baru datang berkunjung ke Darwin. Bukan hanya mereka saja, kami-kami yang tinggal di Darwin juga memiliki jadwal rutin menyantap masakan Indonesia disana. “Ada yang sesuatu yang hilang kalau sebulan tidak makan di Ayuriz Cafe” kata anak saya yang kesukaannya makan bakso dan sop buntut disana. Selain itu ada juga orang Indonesia yang memiliki perusahaan taksi di Darwin, meski tidak banyak unit taksi yang dimilikinya tetapi usaha tersebut ada yang telah dijalaninya sekitar 30 tahun dan telah membuatnya sejahtera secara ekonomi.

Profesi yang paling menonjol dari orang Indonesia di Darwin adalah bekerja sebagai Cleaner (Tukang bersih-bersih), profesi yang tidak jauh berbeda dengan pekerjaan sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT). Sifat orang Indonesia yang cenderung pembersih dan rapi dibanding orang dari negara lain rupanya cocok untuk pekerjaan ini dan sangat disukai oleh orang-orang bule. Mulai dari mahasiswa, suami/isteri mahasiswa, orang Indonesia yang tinggal disana dan hingga pegawai Konsulat RI juga berusaha meraup tambahan dollar atau bahkan bergantung pada pekerjaan ini. Jangan remehkan profesi kasta terendah ini, melalui pekerjaan ini mereka bisa banyak membantu keluarganya yang kekurangan di Indonesia, membeli rumah, apartemen sebagai investasi, bisa jalan-jalan ke berbagai negara, dan lainnya. Sebagian besar orang Indonesia termasuk yang saat ini sukses di Darwin awalnya pernah berprofesi sebagai Cleaner. Paul Henderson, Chief Minister NT beberapa periode lalu juga pernah menjadi Cleaner. 

Berbeda dengan orang-orang India dan Filipina, orang-orang Indonesia tampak tenang-tenang saja dan tidak begitu tertarik mengajukan PR apalagi menjadi Citizen Australia. Alhamdulillah sebagian besar orang-orang Indonesia di Darwin tampaknya bangga sekali tetap berkewarganegaraan tanah airnya Indonesia. Sebagai perantau, cinta mereka terhadap negeri Indonesia melebihi cinta orang Indonesia yang ada di Indonesia terhadap negeri Indonesia. Jadi mungkin pergilah ke luar negeri agar kita bisa lebih mencintai negeri kita sendiri Indonesia…

Sebenarnya ada yang hal-hal yang membanggakan kita sebagai orang Indonesia yang tinggal di Darwin. Kalau kita datangi kampus satu-satunya di kota ini yaitu Charles Darwin University (CDU), disana akan kita jumpai ‘Indonesian Garden‘ yang tepatnya berada di halaman depan building Orange 4, bersebelahan dengan Gedung Vice Cancelor (Rektor Universitas). Hanya ada dua taman di Kampus Casuarina CDU ini yaitu ‘Indonesian Garden‘ dan ‘Chinese Garden‘, belum ada ‘Indian Garden’ dan ‘Philipino Garden’, hehe…

Orang Indonesia juga mempunyai acara tahunan seperti Greek Glenty dan Indi@Mindil yaitu yang kita namakan dengan “Pesona Indonesia”. Acara yang biasanya diadakan beberapa hari menjelang HUT RI tanggal 17 Agustus ini diisi dengan penampilan kesenian (nyanyian dan tarian) dari berbagai daerah di Indonesia. Selain dibawakan oleh orang-orang lokal, acara ini juga mengimpor grup-grup kesenian dan artis terkenal dari Indonesia. Artis-artis yang pernah tampil di acara ini antara lain Project Pop dan Yopie Latul. Ariel Peterpan juga pernah singgah ke Darwin, namun dalam rangka mempromosikan film ‘Sang Pemimpi’.

Selain itu, orang-orang Indonesia di Darwin tergolong aktif dalam mengurus kegiatan keagamaan mereka, baik yang beragama Islam, Katolik, Protestan maupun Hindu. Kita terutama yang berasal dari Indonesia Bagian Timur (NTT, Ambon dan Manado) yang beragama Katolik dan Protestan patut berbangga karena telah memiliki gereja sendiri yang sangat aktif dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ibadah dan perayaan keagamaan. Jumlahnya pun ternyata bukan hanya satu tetapi ada tiga gereja yang dikelola orang Indonesia. Salah satu gereja yang saya tahu adalah ‘Philadelphia Congregetion Uniting Church‘ yang dipimpin oleh Bapak Pendeta Salomo Bangun (asal Sumatra Utara) yang kebetulan orangnya sudah saya kenal.

Kita orang-orang Indonesia juga merasa bangga di Darwin karena salah satu penyanyi kenamaan Australia yang berpenampilan enerjik, bersuara powerful dan pernah menjadi runner-up Australian Idol beberapa tahun lalu yaitu Jessica Mauboy ternyata memiliki darah keturunan orang Indonesia. Ayahnya yaitu Bapak Freddy Mauboy itu berasal dari Kupang (NTT), sedangkan ibunya berasal dari orang Aborigin, suku asli benua Australia.

Namun hal-hal itu belumlah cukup untuk membuat orang-orang Indonesia dikatakan telah mengambil peran berarti dalam pertumbuhan dan perkembangan kota Darwin dan wilayah Northern Territory ini. Terlebih jika dibandingkan dengan peranan dari orang-orang Cina, India (Asia Selatan) dan Filipina. Apabila dibandingkan dengan peranan orang-orang Timor Leste saja mungkin peranan orang-orang Indonesia masih kalah. Group Jape perusahaan kaya asal Timor Leste yang bergerak diberbagai bidang saat ini menguasai kompleks pertokoan besar dan banyak berperan dalam pembangunan ekonomi di kawasan Northern Territory. Saat ini orang-orang Timor Leste semakin banyak menghuni kota Darwin, begitu juga pemerintah mereka banyak mengirimkan mahasiswa untuk belajar di Charles Darwin University, jauh lebih banyak dari mahasiswa Indonesia yang belajar disana.

Ada sejumlah kendala dan keterbatasan yang telah membuat beberapa orang Indonesia pindah ke kota lain di Australia. Beberapa orang Indonesia dari generasi tahun 1970an sebenarnya memiliki anak-anak yang telah berhasil mengecap pendidikan tinggi (universitas) di CDU maupun di beberapa kota lain di Australia. Namun hanya sebagian kecil saja dari mereka yang akhirnya kembali ke Darwin, sedangkan sebagian lainnya memutuskan untuk hidup di kota-kota lain di Australia. Bahkan sebagian dari orangtua mereka pun terpaksa ikut pindah ke kota tersebut untuk mendampingi mereka. Bagi mereka, kota-kota lain di Australia memberikan sesuatu yang lebih menarik dibandingkan kota Darwin saat ini.

Kendala lain yang menarik adalah kenyataan bahwa ada kesulitan bagi anak-anak muda Indonesia untuk mendapatkan jodoh di Darwin. Anak-anak muda Indonesia yang jumlahnya memang sangat sedikit (terutama anak muda pria usia siap menikah) menyulitkan mereka untuk mendapatkan pilihan jodoh orang Indonesia juga. Sementara untuk menikah dengan orang bangsa lain, masih banyak hal yang harus dipertimbangkan terutama karena perbedaan budaya dan agama. Oleh karena itu, beberapa dari mereka mencoba mencari jodoh orang Indonesia dengan mencarinya di Indonesia. Namun itu pun tidak mudah karena masih banyak pria Indonesia yang masih manja dan tidak siap untuk menjadi suami di luar negeri. Sebagai suami mereka harus bisa dan mau mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga secara sendiri (berdua isteri tentunya), tanpa bantuan jasa pembantu rumah tangga, tukang kebun, supir atau ajudan-ajudan lainnya. Jadi tidak sedikit pemudi-pemudi Indonesia yang masih berstatus jomlo di Darwin, hehe… 

Kendala ketiadaan pendidikan agama Islam yang memadai bagi anak-anak mereka yang lepas dari Balita dan beranjak dewasa juga telah membuat beberapa orang Indonesia pindah ke kota lain di Australia. Beberapa keluarga muda berpendidikan Perawat (Nurse) yang secara ekonomi telah cukup sukses (ditandai memiliki rumah sendiri yang mahal di Darwin dan banyak membantu keluarganya di Indonesia) telah hijrah ke kota Perth yang memiliki banyak Sekolah Islam yang dapat memenuhi kebutuhan pendidikan agama bagi anak mereka. Padahal sebelumnya mereka telah digadang-gadang dapat meneruskan dan menggantikan kedudukan generasi sesepuh orang Indonesia yang telah lama bermukim di Darwin (sejak awal tahun 1970an) yang hingga kini belum juga memiliki generasi penerus yang berarti.

Hal-hal di atas hanyalah persepsi dan opini pribadi yang lebih banyak merupakan ungkapan-ungkapan kegelisahan saya terhadap kota Darwin yang telah saya huni selama sekitar 2,5 tahun ini yang digambarkan seperti layaknya “gajah dipelupuk mata tapi tak terlihat”. Sebagai orang Indonesia yang kebetulan berada di Darwin, saya memimpikan ada lebih banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di CDU, ada tenaga pengajar (dosen) Indonesia di CDU, ada pengusaha Indonesia yang memiliki perusahaan besar disana, dan ada ulama Indonesia yang mengajarkan Islam disana (pendeta dan pastor sudah ada dan bahkan telah memiliki gereja sendiri). Dengan demikian, kelak kita bisa nyaman dan sejahtera serta bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang hidup di kota multikultural terbaik di dunia ini. 

Akhir kata, semoga orang-orang Indonesia yang didukung pemerintah Indonesia akan dapat memanfaatkan potensi kota yang strategis ini, atau dengan segala kelemahannya kota ini akan tetap menjadi kota yang bukan menjadi pilihan bagi orang Indonesia untuk selamanya. Wallahu’alam bissawab…

Darwin, 17 Agustus 2013