Mitchell Street, Kawasan Paling Semarak di Darwin Australia


Image
Saat kita berkunjung ke Darwin Australia, Mitchell Street adalah kawasan wisatawan (khususnya backpackers) yang suasananya sangat semarak, meriah sekaligus juga temaram terutama mulai hari Jumat malam hingga Minggu malam. Lokasi kawasan ini adalah disepanjang jalan Mitchell Street yaitu jalur yang dipenuhi hostel, hotel, restoran, bar, kafe, toko, pusat perbelanjaan, gallery, dan tentunya kantor biro-biro perjalanan. Mitchell Street berada di pusat kota Darwin, dimana untuk mencapai lokasi ini dari bandara kita bisa naik bus umum yang dapat ditempuh sekitar 20 menit dengan tarip 3 dolar, dan tentu bisa lebih cepat bila kita naik taksi dengan membayar sekitar 25 dolar.

Berada di kawasan ini kita akan menjumpai sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Darwin dan sekitarnya. Mereka ada yang sedang duduk-duduk di cafe/restoran pinggir jalan, membaca brosur/buku panduan wisata, memesan paket wisata ke Kakadu/Litchfield National Park, Tiwi Islands, Arnhem Land, Katherine, Mary River Region, atau lainnya. Ada juga yang sedang berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat yang ada di sepanjang Mitchell Street yang mungkin masih baru mereka kenal. Tidak jarang diantara mereka terlihat sedang berusaha melepaskan dahaga dari panas dan keringnya udara tropis Darwin dengan meneguk sekaleng atau sebotol minuman dingin.

Bagi penikmat kehidupan malam, mereka tidak perlu mencari lebih jauh ke tempat lain di Darwin. Di sini ada bioskop, restoran, bar, dan pub yang sudah buka mulai jam 6 sore sampai menjelang pagi, lengkap dengan sajian musik dari yang berirama lembut romantis di tempat tertutup hingga musik yang hingar-bingar memekakkan telinga orang-orang yang lewat disekitarnya. Bahkan ternyata kebanyakan dari para pelayan di tempat-tempat hiburan itu juga adalah para backpackers dari berbagai negara yang umumnya menggunakan working holiday visa untuk bekerja di sana. Hal ini tentu menambah semarak dan kegembiraan suasana di tempat hiburan ini karena beberapa diantara mereka tampak sudah saling mengenal sebelumnya yaitu saat bertemu di kota-kota persinggahan backpackers lainnya di seluruh dunia.

Diantara tempat hiburan yang ramai di Mitchell Street adalah Kitty O’sheas Irish Bar & Cafe dengan live musicnya yang begitu hingar bingar; Shenannigans Irish Pub dimana kita bisa menikmati bir Irlandia dalam suasana yang ramah dan hangat; Monsoon dengan culture cocktail-nya; Discovery Nightclub dengan live band dan DJ; Outback Jacks dengan bar yang ramai; Globe Trotters Bar & Lodge sebuah fasilitas backpackers yang memiliki bar tersendiri dengan suasana hangat dan ramah. Di sana ada pula Hanuman Restaurant yang sudah dikenal di seluruh Australia dengan Asian Fusion yang fantastis. Awalnya kita akan menduga restoran ini dimiliki oleh orang Indonesia setidaknya orang Bali, tapi ternyata restoran ini dimiliki orang negeri tetangga kita Singapura yang bernama Jimmy Shu dan Selina isterinya. Hampir semua menunya enak-enak di lidah kita orang Melayu meski harganya memang agak mahal buat kantong mahasiswa yang mengandalkan beasiswa, hehe…

Di Michell Street ini juga ada Crocosaurus Cove, suatu tempat dimana kita bisa menonton atraksi buaya ganas di dalam sebuah aquarium besar dengan biaya 28 dolar per orang. Kita juga bisa menyaksikan berbagai acara seni, pertunjukkan atau pameran di suatu gedung yang disebut Darwin Entertainment Centre. Sedangkan untuk berbelanja pakaian, elektronik dan perlengkapan lainnya, kita bisa mendapatkannya di pusat perbelanjaan Mitchell Centre yang memiliki lahan parkir bawah tanah cukup luas. Di gedung itu juga terdapat supermarket Coles untuk kita berbelanja memenuhi kebutuhan kita selama beberapa hari di Darwin. Tak ketinggalan, di pojok jalan dekat traffic light persis disebelah Mitchell Centre terdapat toko Souvenir & Gifts yang menyediakan berbagai cinderamata khas Darwin/Northern Territory dan Australia pada umumnya yang bisa dibawa pulang ke Indonesia sebagai kenang-kenangan. Cinderamata yang paling dikenal dan dicari para wisatawan adalah lukisan khas orang Aborigin yang terdiri dari unsur titik-titik (noktah-noktah) namun dibuat sangat detil dan berpresisi tinggi sehingga terlihat sangat unik. Motif lukisan itu bisa dibuat atau dicetak di atas kulit binatang, kulit pohon, kanvas, kain, piring, mangkuk, gelas, taplak meja, tatakan piring/gelas, hiasan dinding, pulpen/ballpoin, kaos dan lainnya.

Di tempat ini selain bisa bertemu dengan wisatawan dari berbagai negara, kita juga akan menjumpai cukup banyak orang-orang Aborigin (asli Australia) yang duduk menghampar di beberapa emperan toko/kantor atau berjalan hilir-mudik di sepanjang Mitchell Street. Pakaian mereka kumal, berkulit hitam, rambut tak terurus, serta berjalan dengan wajah seakan tanpa ekspresi. Tapi jangan kaget kalau terdengar mereka bicara seperti berteriak-teriak saat bertemu teman-teman Aborigin lainnya atau saat bergerombol. Maklum mungkin mereka biasa hidup di alam terbuka bukan di rumah-rumah. Meski demikian kita tidak perlu khawatir atau takut mereka akan berbuat kriminal atau tindakan lain yang tidak menyenangkan, kenapa demikian? Itu karena perut mereka sudah kenyang, tidak lapar seperti pada umumnya pengemis/gembel di Indonesia. Pemerintah Australia selama ini telah memberikan santunan sekitar 400 dolar (lebih kurang Rp. 4 juta) setiap 2 minggu kepada setiap orang Aborigin yang tidak bekerja. Memang patut diacungi jempol perhatian pemerintah mereka kepada rakyatnya yang miskin, meski terbersit juga pemikiran nakal bahwa bukankah itu merupakan upaya pembodohan terhadap mereka. Apapun, tapi yang jelas sejauh ini tindak kriminalitas telah berhasil diturunkan ke tingkat terendah khususnya di wilayah Northern Territory ini.

Kalau kita sempatkan berbincang dengan salah seorang dari orang Aborigin terutama mereka yang sudah tua, maka dari mulut mereka meluncurlah cerita-cerita kebanggaan mereka bahwa tanah atau lokasi ini (Mitchell Street atau tempat lain) dulunya adalah tanah keluarga besar mereka dan di sana itu (sambil menunjuk gedung tertentu) mereka pernah tinggal selama bertahun-tahun. Rupanya mereka masih merasa memiliki tempat ini meski sekarang mereka seolah hanya bisa menjadi penonton. Ada juga dari mereka yang secara terang-terangan dan lantang membenci orang kulit putih yang telah merampas tanah mereka, tapi hal itu biasanya diucapkan dalam keadaan mabuk dan hanya berani mereka ucapkan kepada orang-orang non kulit putih (Asia atau Afrika). Mereka memang sangat takut dengan polisi yang secara berkala melakukan razia terhadap orang-orang mabuk di kawasan Mitchell Street dan sekitarnya. Hampir selalu ada saja dari mereka yang ditangkap karena mabuk, lalu dimasukkan ke kerangkeng dibagian belakang mobil polisi, kemudian dijebloskan ke penjara selama beberapa hari. Hal ini telah menimbulkan stigma bahwa orang Aborigin itu sering mabuk. Namun menurut seorang peneliti hal itu sebenarnya keliru, karena justru orang kulit putihlah yang secara statistik lebih banyak mabuk dibanding orang Aborigin. Bedanya adalah orang kulit putih mabuk di dalam bar/pub/cafe, sementara orang Aborigin mabuk di taman-taman, depan took/kantor, trotoar bahkan ditengah jalanan yang dapat mengganggu orang lain dan telah melanggar aturan, sehingga wajar kalau kemudian mereka ‘diamankan’ oleh polisi.

Setelah menghabiskan sore dan malam hari di kawasan Mitchell Street, biasanya pada keesokan harinya seperti juga para backpackers lainnya kita bisa pergi untuk menikmati tempat-tempat wisata di wilayah Northern Territory sebagaimana paket perjalanan wisata yang telah dipesan sebelumnya dari salah satu biro perjalanan yang banyak terdapat di sana. Misalnya kita bisa melakukan perjalanan wisata sehari ke Tiwi Islands atau Litchfield National Park yang rimbun; atau kita bisa pergi bertualang ke World Herritage – Kakadu National Park yang terkenal itu. Ada juga wisata pesiar perahu, wisata jelajah alam selama beberapa hari, wisata budaya Aborigin di Arnhem Land, wisata naik mobil double-gardan; atau menikmati penerbangan menggunakan helicopter menjelajah keindahan alam wilayah Australia Utara yang menawan dan menakjubkan.

Dengan lokasi yang strategis, sarana, fasilitas dan kemudahan-kemudahan yang dimiliki serta keunikan yang ada, bisa dikatakan Kawasan Mitchell Street ini adalah pintu gerbang wisata di Darwin dan wilayah sekitarnya dari Australia bagian utara (Northern Territory).

Selamat Berkunjung…

Darwin, 15 November 2014

Berprasangka Buruk


Prasangka Buruk

Ada seorang gadis menyewa rumah yang bersebelahan dengan kontrakan rumah seorang ibu miskin dengan 2 anak kecil.

Suatu malam tiba-tiba lampu dan listrik mati. Dengan bantuan cahaya handphone lalu gadis itu berjalan menuju dapur untuk mengambil lilin, tapi tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu… Ternyata dia adalah seorang anak miskin yang tinggal disebelah rumahnya itu!!!

Anak kecil itu bertanya dengan risau:”Kakak, ada lilin tidak?” Gadis itu berpikir: “JANGAN PINJAMKAN, nanti jadi satu kebiasaan dia untuk terus-terusan meminta. Maka si gadis menjawab: “TIDAK ADA!!”

Lalu anak kecil itu berkata riang: “Saya sudah menduga kakak tidak ada lilin, ini ada 2 lilin saya bawakan untuk kakak, kami khawatir karena kakak tinggal sendirian dan tidak ada lilin.”

Mendengar itu Si gadis langsung terkesiap, ia merasa sangat bersalah dan menyesal telah berpikiran buruk kepada anak kecil itu. Dalam linangan airmata, dia kemudian memeluk anak kecil itu erat-erat….

Janganlah menilai keburukan orang lain hanya karena mereka kelihatan MISKIN / TIDAK MAMPU.

Ingat! kekayaan tidak bergantung seberapa banyak yang kita PUNYA, tetapi seberapa kita MAMPU untuk BERBAGI kepada mereka yang TIDAK MAMPU. Miskin bukan berarti tidak PUNYA APA APA dan KAYA bukan berarti PUNYA SEGALANYA.

Sumber: Anonim

 

Berlibur ke Pantai Pangandaran


Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Berperahu di Green Canyon, Pangandaran


Image

Hanya sampai disini batas akhir perahu dapat mengantar para pengunjung

Image

Naik perahu yg tertib mengantri, setelah beli karcis masuk dan sewa perahu

Image

Berfoto lagi boleh dong… kan sudah jauh2 datang dari Jakarta

Image

Penumpang perahu terjaga keselamatannya dengan rompi pelampung

Image

Berfoto bersama sambil perahu tetap melaju

Image

Tukang perahu bercerita tentang asal-usul Green Canyon dan pengelolaannya

Image

Pemandangan dinding sungai yang bertebing batu berbentuk unik

Image

Air sungai berwarna coklat keruh di musim hujan ini

Image

Air mengalir dari sumber mata air di atas bebatuan dinding sungai

Image

Dari tempat ini ke hulu, kita bisa berenang dan melihat air terjun yang indah

Lake Alexander, Fannie Bay, Darwin


Pintu masuk utama

Sisi danau sebelah kiri

??????????

Sisi danau sebelah kanan

Kursi taman dekat pintu masuk

Tenda makan dekat play ground

Gelar tikar di rumput juga asyik

Tampak jauh

Play ground untuk anak-anak

Play ground untuk anak-anak

Areal parkir sebelah dalam

Plang nama Lake Alexander

Kolegaku di International House Darwin


Kolegaku di International House Darwin

Suatu pagi menjelang morning meeting di bulan Oktober 2013

Dari kiri ke kanan :

1. Sue asal Australia
2. Chaaminda asal Srilanka
3. Lu Hong asal China
4. Hira asal Nepal