“Stolen Generation” Suku Aborigin Australia


??????????????????????

Dalam perjalanan hidup orang Aborigin, mereka pernah melewati ‘noktah hitam’ yang bagi mereka tidak mudah untuk dapat melupakannya begitu saja walaupun pemerintah Australia yang sekarang telah berkali-kali meminta maaf.

Dalam kurun waktu antara tahun 1950 dan 1960an, dengan berlakunya hukum ‘tidak tertulis’ dimana dibenarkan keluarga orang-orang Eropa dengan paksa memisahkan anak-anak orang Aborigin dari orangtuanya dengan cara mengadopsinya sebagai anak mereka sendiri, yang dikenal dengan nama “stolen generation” atau “pencurian kelangsungan hidup suatu generasi”.

Maksud pengadopsian anak-anak orang Aborigin mungkin adalah untuk mempercepat kemajuan taraf pendidikan mereka sehingga tidak jauh jaraknya antara sesama warga Australia, tetapi disisi lain hal ini berakibat fatal dengan hilangnya sesuatu yaitu ‘budayanya’. Tentu saja perlakuan ini mencoreng muka Pemerintah Australia dari waktu ke waktu karena kebijakan semacam ini seakan adanya pembiaran usaha terang-terangan mau melenyapkan identitas budaya suatu suku tertentu, sehingga masalah ini akhirnya merupakan issue nasional yang berlanjut dan tidak ada habis-habisnya.

Hal ini ditandai oleh salah satu korbannya yaitu Bruce Trevorrow yang sejak tahun 1998 tidak kenal lelah dengan gigihnya menuntut Pemerintah Australia melalui Pengadilan  Australia Selatan atas perlakuan yang semacam ini terhadap dirinya.

Kisahnya diawali ketika di Hari Natal 1957 Bruce yang baru berusia 13 bulan ini sakit perut. Orangtuanya yang tinggal di Coorong yang jaraknya 200 km dari kota ini tidak sabar lagi menunggu jemputan ambulance yang tidak kunjung datang. Karenanya dibungkuslah si Bruce kecil ini dengan selimut untuk dikirimkannya ke Rumah Sakit Anak-Anak di Adelaide melalui tetangganya.

Dalam catatan Rumah Sakit yang merawatnya dinyatakan bahwa anak ini tidak mempunyai orangtua lagi sehingga kekurangan gizi terlantarkan karena tidak ada yang bertanggung jawab sebagai pengasuhnya. Setelah melalui proses pengadopsian dari Lembaga Perlindungan Orang-Orang Aborigin (the Aborigine Protection Board), Bruce akhirnya diambil anak pungut oleh seorang wanita kulit putih setelah 2 minggu kedatangannyadi Rumah Sakit itu dan sejak itulah terputusnya hubungan ikatan antara anak dan orangtua sedarahnya.

Bruce baru tahu setelah ia berumur sekitar 9 tahunan bahwa orangtua yang mengasuhnya selama ini bukanlah orang tua aslinya karena foster parentnya tidak pernah mengatakan bagaimana anak-anak berkulit hitam  dan berambut hitam ini bisa lahir dari seorang ibu berkulit putih. Oleh karenanya, ia sejak itu menjadi anak pemurung dan marasa terisolasi sedang nalurinya terasa asing dari kehidupan sebenarnya yang seharusnya ia jalani.

Pengiriman Bruce oleh orangtua angkatnya ke Asrama Putra khusus untuk anak-anak Aborigin di lingkungan orangtuanya pada tahun 1968 juga tidak bisa mengobati kegelisahan kerinduan Bruce kepada kedua orangtuanya. Apalagi kemudian diketahuinya bahwa ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu sedangkan ibunya hidup merana dengan tidak pernah berhenti mencari Bruce si anak hilang ini.

Tuntutan Bruce kepada Pemerintah Australia karena ia merasa kehilangan masa anak-anak dan masa remajanya yang direnggut begitu saja atas pembiaran system ini dimana tidak mungkin masa mudanya bisa dimilikinya lagi. Depresinya akhirnya memperosokkan Bruce Trevorrow ke jurang ketergantungan terhadap minuman keras.

South Australia Supreme Court dibawah Hakimnya Mr. Gray akhirnya mengabulkan gugatan Bruce karena Pemerintah Australia terbukti telah bersalah dengan melalaikan tugasnya untuk melindungi hak-hak anak dan merampas serta memenjarakan kebebasan si anak sejak dipungut oleh Foster Parentnya.

Untuk mencapai hal ini Bruce telah berjuang hamper 9 tahun lewat persidangan demi persidangan . Karenanya Bruce Trevorrow berhak mendapat kerugian santunan sebanyak $525,000 atas penderitaan batinnya selama ini. Putusan Hakim ini adalah merupakan putusan yang pertama kali di negeri ini yang diputuskan lewat Pengadilan Australia dalam kasus Stolen Generation yang akhirnya menjadi issue nasional yang tidak ada habisnya ini.

Pemerintah memang berusaha keras untuk mengobati luka hati orang-orang Aborigin karena kebijakan masa lalunya. Pengadilan dari Pemerintah Negara Bagian Tasmania 6 bulan setelah kasusnya Bruce Trevorrow memenangkan 100 penggugat dengan santunan $5 juta atas tuntutan yang sama yaitu stolen generation.

Dalam ajaran Agama Islam maupun dalam agama lain juga telah digariskan tentang pengadopsian anak ini. Sejak dini agama sudah membatasi dengan kewajiban bagi orangtua angkatnya untuk tidak menghilangkan “Nama Keluarga” (Surname) bagi anak angkatnya dengan begitu saja, dengan cara menggantinya dengan nama orangtua angkatnya.

Dengan menghilangkan identitas anak angkatnya akan membuka peluang kemungkinan terjadinya ‘perkawinan sedarah’ karena ketidak tahuannya. Jadi tujuan pengadopsian anak yang diperintahkan agama adalah hanya untuk menolong bukan memiliki yang bukan haknya. Karena inilah sekarang di Indonesia marak munculnya Lembaga Anak Angkat  yang tidak ada niatan memiliki tetapi hanya menyantuni sejalan dengan semangat ajaran agama tadi.

Sumber: “The Migrants’ Story” oleh Agus Sudjoko, 2007.

Advertisements

1 Comment

  1. gnatseyeview said,

    March 18, 2013 at 6:44 pm

    I grew up in Australia in the 1970s. It’s amazing how the Australian Government kept the kidnapping on forced education of Aborigine children secret for so long. It’s a very sad chapter in the history of an otherwise incredible nation.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: