Wahai Adik-Adikku, Tak Terasa Kita Sudah Semakin Tua…


Wahai Adik-Adikku, Tak Terasa Kita Sudah Semakin Tua...

Wahai…

Kakanda Andi Krisnahadi (Alm)
Adinda Ami Krismiati
Adinda Aini Nur Komarawati
Adinda Asih Kadarsari
Adinda Annisa Kurniatun

Terima kasih Ibunda Hj. Juwaenah
Teriring doa buat Ayahanda Ilham Sudhana (Alm)

Alhamdulillah atas segala nikmat Allah kepada kita
Semoga Allah menjaga kita untuk senantiasa bersyukur

Aamiin…

 

Darwin, 24 Februari 2013

 

Bapak Andy Hasan, Keturunan Orang Makassar di Northern Territory, Australia


Bapak Andy Hasan, Keturunan Makassar di Northern Territory

Di Bandara Darwin akhir Desember 2012, bertemu Pak Andy Hasan yang akan menuju ke Bali, Jakarta dan Cina. Ia salah seorang pendahulu orang Makassar (Indonesia) yang saat ini bermukim di pesisir pantai utara Northern Territory Australia (bukan di kota Darwin) dimana di daerah inilah pertama kalinya perahu-perahu orang Makassar mendarat di Australia sekitar 200-300 tahun silam.

Sementara di kota Darwin sendiri, saat ini masih sulit ditemukan komunitas orang-orang Makassar padahal mereka termasuk orang asing pertama yang bersama orang Kupang (NTT) mengunjungi Northern Territory (Australia Utara) ini sebelum datangnya secara bergelombang orang-orang Greek (Yunani), Cina, Filipina, Vietnam, Afrika, India, Pakistan, Nepal, Bhutan, Burma, Afganistan dan terakhir orang-orang Timor Leste.

Memiliki leluhur dari daratan Cina, lahir dan menghabiskan masa kecil dan remaja di Makassar, serta berpuluh tahun merantau di Australia, saat ini ia sedang merancang bisnis yang menggabungkan ketiga budaya yang melekat pada dirinya tersebut sehingga diharapkan kelak akan dapat mempererat hubungan dari masyarakat ketiga bangsa tersebut.

Semoga apa yang Bapak cita-citakan bisa berhasil, aamiin…

Muhammad Al-Fatih, Sungguh Luar Biasa Shalatnya…


Image

Kontantinopel akan jatuh ke tangan tentara Islam. Rajanya adalah sebaik-baik raja, tentaranya adalah sebaik-baik tentara.” (HR. Imam Ahmad)

Hadits Nabi di atas ternyata terbukti ketika tepat jam 1 pagi hari, Selasa 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M, tentara Utsmaniah dibawah pimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui pintu Edirne dan mengibarkan bendera Daulah Utsmaniah di puncak kota.

Setelah Konstantinopel dikuasai oleh umat Islam, ada suasana yang menarik sewaktu pertama kali umat Islam akan menunaikan shalat Jum’at. Timbul pertanyaan di benak kaum muslimin dan benak Muhammad Al-Fatih mengenai siapa yang akan menjadi imam dari shalat tersebut.

Kemudian Muhammad Al-Fatih berdiri lalu berucap, “Siapa diantara kita yang sejak baligh sampai sekarang pernah meninggalkan shalat fardhu walaupun sekali saja, silakan duduk?” Tidak ada seorangpun dari tentaranya yang duduk.

Muhammad Al-Fatih kemudian bertanya lagi, “Siapa diantara kita yang sejak baligh sampai sekarang pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib, silakan duduk.” Sebagian dari tentaranya lalu ada yang duduk.

Kemudian Muhammad Al-Fatih bertanya lagi, “Siapa diantara kalian yang sejak baligh sampai sekarang pernah meninggalkan shalat tahajjud walaupun satu kali saja?” Kali ini, semua tentaranya duduk, kecuali Muhammad Al-Fatih, sehingga yang menjadi imam shalat Jum’at pertama kali di Kontantinopel adalah dia sendiri.

Dalam sejarah dikatakan bahwa Muhammad Al-Fatih sejak baligh tidak pernah meninggalkan shalat fardhu, shalat sunnah rawatib, dan shalat tahajjud. Inilah panglima perang sekaligus pemimpin pemerintahan yang patut ditiru dan diteladani, sesuai dengan isyarat Rasulullah dalam haditsnya, Muhammad Al-Fatih merupakan sebaik-baiknya raja dan bala tentaranya.

Sungguh luar biasa shalatnya Muhammad Al-Fatih, Sultan Daulah Utsmaniah penahluk kota Konstantinopel…

Darwin, 17 Februari 2013

Sumber: “Laskar Surga” oleh Ahmad Luthfi Surrah

My Colleague from Burundi, Africa


Image

Simon Bahati, pria berkulit hitam dan bertubuh gempal tak terlalu tinggi ini berasal dari Burundi, sebuah negara di Afrika yang berbatasan dengan Tanzania. Ia adalah kolegaku di CSC (Casuariina Senior College) yang baru saja bergabung sekitar dua bulan yang lalu. Tapi ternyata ia bukan orang yang sama sekali baru, karena dua tahun yang lalu ia pernah bekerja di CSC selama lebih kurang 2 tahun. Dia pindah keluar dari CSC karena tergiur pekerjaan lain untuk menjadi supir bus sekolah (School Bus Driver) yang gajinya lebih besar dan memiliki keleluasaan waktu yang banyak. Tapi setelah mencoba bekerja di sana selama 2 tahun, ternyata ia mengalami kesulitan bersosialisasi dengan lingkungan di sana karena keterbatasannya dalam berbahasa Inggris. Secara tidak langsung ia merasa kesempatan pengembangan karirnya pun menjadi terbatas bahkan terhambat. Untuk itu dia memutuskan untuk belajar memperdalam dan memperlancar bahasa Inggris kembali di AMEP (Adult Migrant English Program) di pagi hari, lalu siang sampai sorenya dia bekerja sebagai Cleaner di CSC. Itulah ceritanya mengapa ia bisa bertemu denganku di CSC sebagai kolega sesama Cleaner.

Image

Sebagai orang yang berusaha mencari teman sebanyak dan seberagam mungkin yang sekaligus memperlancar bahasa Inggrisku, aku pun sering berusaha menyapa duluan setiap ada orang yang baru kukenal termasuk Simon sebagai kolega baru yang diperkenalkan Julie Bannetts Supervisorku di CSC. Aku agak berani menyapanya duluan karena sepertinya aku pernah melihatnya di gedung AMEP ketika aku bertugas sebagai Cleaner di sana (gedung Orange 4, Charles Darwin University). Untuk diketahui selama hampir 10 bulan ini di hari kerja setiap pagi jam 5 sampai dengan jam 9, aku bekerja sebagai karyawan Spotless yang bertugas membersihkan gedung Orange 4 di CDU.

Berbeda dengan penampilan fisiknya yang hitam gempal, ternyata sebenarnya Simon adalah seorang yang ramah dan murah senyum. Kelancaran dan perbendaharaan kata (vocabulary) bahasa Ingrisnya kelihatannya lebih baik dari aku, tapi pronounciation-nyamasih  kurang bagus sehingga agak sulit juga aku menangkap apa yang dia maksud. Dari penampilan fisik dan ekspresi wajahnya sepertinya ia masih muda, tapi aku keliru ternyata ia sudah menikah dan memiliki 4 orang anak. Jadi hati-hati jangan melihat seseorang hanya dari penamp;ilan saja, istilahnya “don’t judge the book by its cover”…

Ada sesuatu yang lucu dan unik ketika kami (juga bersama kolega lain yaitu Ina dari Bulgaria dan Noi dari Thailand) bercakap-cakap dengan Simon mengenai anak. Ketita aku bertanya “How many children do you have, Simon?” Dia menjawab “Four” sambil mengangkat tangan dengan memberi tanda jari yang menurutku dan juga rekan-rekan lain itu artinya dua bukan empat (lihat foto). Setelah aku bertanya lagi dan minta dia serius menjawabnya, dia lalu menjelaskan bahwa di negaranya Burundi, tanda untuk angka 4 ya seperti itu (seperti tanda 2). Kalau tanda angka 1, 2 dan 3 sama dengan yang selama ini kita ketahui, tapi untuk tanda angka 5 berbeda lagi yaitu dengan tangan “menggenggam”, seperti ngajak berantem aja, hehe… Ada-ada saja… ternyata lain budaya maka bisa berlainan pula cara-caranya, asal jangan sampai menimbulkan salah pengertian atau salah persepsi saja.

Alhamdulillah sudah dapat pengetahuan/ilmu baru dari kolega baru, Simon Bahati dari Burundi.

Selamat bergabung Simon…

Image