Hubungan Orang Makassar dan Orang Aborigin di Masa Lalu


Image

Northern Territory dengan ibukota Darwin merupakan wilayah negara Australia yang paling dekat dengan wilayah Indonesia tepatnya di sebelah selatan kota Kupang (NTT), namun ironisnya merupakan wilayah yang paling kurang bahkan tidak dikenal oleh kebanyakan orang Indonesia sampai saat ini. Berikut ini sepenggal kisah mengenai wilayah Northern Territory berabad silam yang dihubungkan dengan orang-orang Indonesia di sana pada saat itu yang diharapkan bisa menambah wawasan rekan-rekan kompasioner.

Berbicara tentang para pendahulu orang-orang Indonesia di Darwin, Northern Territory, tidaklah lengkap kalau tidak menceritakan sejarah orang-orang Makassar yang menjadi pionernya waktu itu di sana. Pelayaran mereka dari tanah kelahirannya ke “Tanah Marege” (yang artinya “Tanah Orang Hitam”) ini memakan waktu kurang lebih 60 hari. Pelayaran yang dijalani mereka dari generasi ke generasi ini banyak meninggalkan catatan sejarah dengan penduduk pribumi di Tanah Marege ini.

Orang-orang Makassar ini dahulu biasanya berangkat berlayar dari tanah kelahirannya di bulan Januari atau Februari bersama hembusan angin barat laut melalui jalur Sulawesi menuju pantai utara Flores, lalu turun ke selatan menyusuri pantai timur pulau Timor, kemudian selanjutnya berlayar ke arah tenggara menuju Darwin lalu terus ke timur ke arah “Croker Island” dan pesisir “Arnhem Land”.

Di sinilah mereka menjalankan aktivitasnya mencari “Teripang” (dengan nama lain “Sea-Slug” – binatang semacam ketimun laut) sambil menunggu pergantian arah angin antara bulan April, Mei atau Juni untuk kembali pulang ke kampung halamannya dengan berlayar menelusuri jalur/rute kedatangan mereka semula. Kadang mereka harus meninggalkan keluarganya di Makassar hingga delapan bulan lamanya tergantung dari situasi angin dan cuaca pada saat itu. Perburuan “Teripang” ini sudah menjadi bisnis dagang mereka selama ratusan tahun dengan para pedagang kaya Tionghoa di Singapura.

Ada hal yang menarik dalam hal ini yaitu bahwa Sultan Gowa (salah satu kerajaan besar di Sulawesi saat itu) ternyata telah secara rutin setiap tahunnya datang berkunjung ke Tanah Marege ini dan menganggap Northern Territory, Australia Utara ini adalah menjadi bagian wilayah kerajaannya. Di setiap kedatangannya, sang Sultan ini selalu mendirikan tenda-tenda besar yang kokoh dan mewah di lokasi yang sekarang masih ada.

Lokasi tersebut ditandai dengan adanya pohon asam yang tumbuh dari jatuhnya biji asam yang digunakan sebagai rempah penyedap makanan dari orang-orang Makassar di lokasi ini. Dengan adanya pohon asam milik para pendatang ini, para Antropolog berpendapat bahwa kontak perdagangan komoditi kulit kura-kura darat dan kulit mutiara antara orang Makassar dan orang Aborigin ini sudah berlangsung lama sekali jauh ke belakang di abad ke-16 yang lalu.

Kehadiran orang-orang Makassar di Tanah Marege inilah kemudian memberi inspirasi kepada penduduk pribumi Aborigin pada lukisan-lukisan perahu mereka di gua-gua peninggalan mereka, selain juga dalam bentuk lukisan perahu-perahu atau lukisan pemasak teripang di bawah pohon asam yang dilukis di kulit-kulit kayu yang menjadi ciri khas lukisan orang Aborigin. Orang-orang Makassar juga memberi pengaruh pada bahasa orang Aborigin yang menyebut orang kulit putih dengan “Balandar” (Belanda), “Rupiah” untuk uang, “Bandira” (bendera) dan banyak kata-kata lainnya. Selain itu, seorang Arkeolog Mr. Campbell MacKnight dari Australian National University (ANU) juga berhasil mengumpulkan periuk-periuk dan botol-botol peninggalan orang-orang pendatang dari Makassar tersebut. Hasil penemuannya tersebut ada kesamaannya dengan barang-barang sejenis itu di Makassar sana.

Pelayaran selanjutnya adalah seperti apa yang tercatat secara resmi oleh Pemerintah Australia di sekitar antara tahun 1820-1840an, diantara banyaknya kapal-kapal yang meminta ijin untuk mencari ikan di wilayah Australia ini kebanyakan adalah kapal-kapal milik orang Makassar. Data itu lengkap mencatat nama-nama Crew dan Kapten yang memandu pelayaran tersebut serta bahasa yang dipakainya yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang Makassar.

Dari penuturan seorang anak bernama Mangngelai yang dalam hidupnya pernah diajak ayahnya yang beristerikan seorang Abirigin ini, ia pernah 4 kali mengunjungi Tanah Marege ini dalam kurun waktu antara tahun 1898 sampai tahun 1907. Menurutnya ayahnya telah berulang kali ke Tanah Marege untuk meneruskan warisan leluhurnya yang sudah berjalan dari generasi ke generasi. Tidak mustahil kalau kemudian terjadi perkawinan campuran antar mereka yang kemudian diantaranya dibawa berlayar ke Makassar, sehingga dalam catatan sejarah pada tahun 1867 terdapat 17 orang Aborigin yang tinggal di Makassar.

Pelayaran orang-orang Makassar ke Tanah Marege secara resmi yang bisa dicatat oleh Pemerintah Australia berakhir pada tahun 1907, tetapi tidak menutup kemungkinan setelah tahun-tahun itu kedatangan mereka secara illegal masih berlanjut sampai tahun ini. Kadang sekarang ini terdapat sampai 300an orang Makassar dan orang Indonesia lainnya yang ditahan di Camp Penampungan Australia. Walaupun ada tindakan dari Pemerintah Australia untuk mencegah mereka agar tidak kembali lagi dengan cara dibakarnya perahu-perahu mereka atau ditentukan harga tebusan yang tinggi untuk perahu yang ditahannya, namun usaha ini tidak banyak membawa hasil.

Permasalahan “Orang Perahu” ini memang banyak memiliki problem. Tiap tahun ratusan perahu datang ke perairan Australia. Mereka menganggap tradisi melaut merupakan sudah bertahun-tahun sebagai mata pencaharian mereka, apalagi antara Indonesia dan Australia jarak perbatasannya terlalu dekat dan tidak seperti di darat perbatasan di laut itu tidak bisa dipagari. Sehingga banyak diantara perahu-perahu itu yang tidak menyadari kalau mereka sudah masuk ke “Wilayah Perairan Australia” dan tiba-tiba pula mereka diseret oleh Kapal Patroli Australia, yang selanjutnya mereka ditahan dan diadili lalu dikirim pulang ke tempat asalnya di Indonesia.

Menurut keterangan dari banyak para nelayan, sekarang penangkapan mereka menjadi lebih sering dari sebelumnya, jangan-jangan landasan kontinen yang dipakai dasar mengukur jarak perbatasan antara Australia dan Indonesia sudah berubah menjadi semakin mendekat ke wilayah Indonesia. Bagi mereka para nelayan, apa yang selama ini mereka sebut sebagai “Pulau Pasir” dimana dahulu anak-anak Timor sering ke tempat ini untuk mencari telur burung sekarang telah menjadi wilayah Australia yang mereka sebut dengan “Asmore”.

Semoga kisah ini dapat menambah khasanah para kompasioner mengenai Darwin dan wilayah Northern Territorry Australia yang masih langka ditemui. Kisah ini juga diharapkan dapat menyadarkan dan menginspirasi para generasi muda kita akan pentingnya menguasai bidang maritim agar kita mampu memelihara dan menjaga keutuhan wilayah negaranya.

Darwin, 30 September 2012

(Disarikan dari buku “The Migrant’s Story” oleh Agus Sudjoko)