Saat Pertama Kali Aku Bekerja di Negeri Orang



Gedung Charles Darwin University

Awal April tepatnya tanggal 3 April 2012 aku mulai resmi bekerja secara di suatu perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Melbourne dengan salah satu usahanya adalah dibidang cleaning service dan aku diterima sebagai Cleaner atau tukang bersih-bersih dengan status part timer. Sehari sebelum bekerja, aku diajak muter-muter oleh Kerry (supervisor) ditemani Sue (mantan Supervisor) keliling area kerja perusahaan ini yaitu di kampus Charles Darwin University, menggunakan mobil operasional Supervisor yang berwarna hijau dengan bersempit-sempitan bertiga di kursinya itu yang sebenarnya hanya cukup untuk berdua. Jadi meskipun aku ke luar negeri tidak untuk kuliah tapi lumayan aku bisa bekerja di universitas dan merasakan suasana di kampus yang bernuansa belajar-mengajar.


Naik mobil mungil ini keliling lokasi kerja

Sebelum resmi bekerja, meskipun hanya sebagai Cleaner aku tetap harus mengikuti induction (orientasi) baik teori maupun praktek. Sepertinya inilah kelebihan perusahaan di Negara maju, induksi atau orientasi sangat diperlukan sebelum seseorang bekerja.  Induction teori dilakukan melalui computer dengan mengunjungi website perusahaan ini dengan password nomor karyawan yang aku terima dari Anita Rann (Manager) pada saat wawancara dua hari sebelumnya di kantor mereka di bilangan Stuart Park. Materi induction teori adalah informasi mengenai perusahaan ini dan tentang  4W1H (What, Why, When, Where dan How) nya pekerjaan cleaning service dengan penekanan pada pentingnya safety dalam bekerja untuk menghindari injury. Perilaku safety ini ternyata banyak didasarkan pada teori ergonomic. Istilah-istilah itu masih asing bagiku tapi sangat menarik karena memang sangat penting dalam bekerja yang mengandalkan fisik.


Mampir ke ruang isteri, saat pulang kerja

Informasi tentang perusahaan bercerita mengenai bagaimana perusahaan ini bediri dimulai dari usaha dry cleaning (laundry) rumahan di Melbourne hingga berkembang menggurita ke berbagai bidang bisnis yang merambah ke berbagai negara di Asia, Eropa dan Amerika. Bisnis terbesar mereka adalah bidang catering (di Australia) dan produksi (juga repair and recycling) hanger (di Eropa dan Amerika). Bidang cleaning service adalah bisnis terbesar ketiga mereka yang tampaknya menguasai sector pemerintahan Australia terutama Kementerian Pertahanan (Ministry of Defence).


Deretan Ruang Kelas dan Office Gedung Orange 4


Hiasan Keramik yang indah di Gedung Orange 4

Induction praktek dilakukan selama 2 hari saat awal bekerja. Untuk induction praktek ini aku didampingi oleh Niluh – rekan Cleaner senior yang berasal dari Indonesia (Bali), suaminya orang bule Australia. Dari jam 5 subuh sampai jam 9 pagi, Si Niluh yang sederhana ini dengan sabar mengajari aku bagaimana menyiapkan peralatan kerja di cleaner room (standar yang harus ada di setiap gedung kantor/sekolah) yang dibawa menggunakan trolly. Tugas pertama yang diajarkan adalah adalah bagaimana mengumpulkan sampah (collecting rubbish) dari tempat sampah (rubbish bin) yang ada di seluruh ruangan dari area di gedung yang menjadi tanggung jawab kita, untuk kemudian dimasukkan kedalam kantong plastic besar warna hitam yang selanjutnya nanti dibuang ke bak sampah besar (exhausted atau hippo bin) di luar gedung . Tugas memungut sampah ini dilakukan sambil merapikan kursi, membersihkan debu dan mengelap meja. Tugas yang diajarkan selanjutnya adalah membersihkan lantai karpet permadani dengan vacuum cleaner dan mengepel (mob) lantai ubin, keramik atau karpet plastic. Pekerjaannya memang sederhana tapi menjadi tidak sederhana karena jumlah ruangan yang dibersihkan itu banyak betul, hampir 30 ruangan (bisa berada di 1, 2, 3, atau 4 lantai), semuanya harus diselesaikan dalam waktu 4 jam kotor. Tugas berikutnya adalah yang paling seru yaitu membersihkan toilet (WC), yang terdiri dari menambah hand towel, mengganti toilet paper, mengganti sabun cair, ‘mengobok-obok’ (nah ini dia….) kloset  atau kakus (serem banget istilahnya), membersihkan wastafel (basin), dan mengepel lantainya. Kalau masih ada waktu sebelum 4 jam berakhir, maka kita harus menggunakannya untuk membersihkan kaca pintu dan jendela atau lainnya di dalam area kita yang terlihat kotor atau tidak enak dipandang.


Niluh & Ermi dari Bali – Mereka Guru Pertamaku

Pada hari ketiga, induction praktekku dipindahkan ke gedung lain yang dikenal paling repot dan susah pekerjaannya. Kenapa begitu, karena di dalam gedung ini ada sekolah SMA Essington International School yang diasuh oleh CDU (seperti Labschool yang diasuh UNJ) dan sekolah bahasa Inggris untuk para Migrant terutama dari Asia dan Afrika. Jadi kalau di gedung lain seringkali cukup banyak ruangan yang masih bersih dan tidak perlu dibersihkan setiap harinya, maka berbeda dengan di gedung ini dimana hampir semua ruangan harus dirapikan dan dibersihkan setiap hari karena berantakan dan kotor, maklum dipakai oleh anak-anak sekolah dan para migrant (kebanyakan pengungsi) yang umumnya tidak/kurang memiliki sikap atau kebiasaan menjaga kebersihan. Di tempat ini aku dibimbing oleh Cleaner senior (sudah bekerja hampir 10 tahun) yang berasal dari Filipina, namanya Aben Sieggl yang kebetulan usianya sama dengan aku yaitu 48 tahun. Kalau Niluh kerjanya tenang tapi pasti, maka Aben sebaliknya, dia bekerja cepat dan gesit, sehingga Kerry (Supervisor) hanya memberinya waktu 3 jam untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu, berbeda dengan aku yang diberi waktu 4 jam, soalnya masih junior kali.


Aben (kiri) & Rovina (kanan), Guruku dari Filipina

Setelah 3 hari dibimbing Aben, maka pada hari ke-6 mulailah aku bekerja sendiri menangani semua pekerjaan di gedung yang sulit itu. Di hari pertama bekerja itu, pekerjaan terasa sangat berat. Urut-urutan pekerjaan mana yang akan dilakukan lebih dulu dan yang mana yang kemudian tampak begitu kacau dan terbalik-balik sehingga banyak membuang waktu yang membuat aku merasa menjadi seolah-olah dikerja-kejar oleh waktu. Belum lagi ditambah dengan bolak balik salah dalam cara mengganti plastic sampah, toilet paper, hand towel, hand soap dan menggunakan vacuum cleaner dan cara mengepel yang efektif dan efisien. Tanpa terasa keringat menetes membasahi mata, hidung dan sampai terasa asin-asin di mulut, tanpa sempat dilap karena merasa semuanya harus buru-buru dikerjakan. Sepulangnya ke rumah, punggung sakit, pinggang sakit, juga tangan, paha dan betis pegal-pegal sampai ke jari-jari juga ikut sakit dan agak kram. Kondisi badan yang tak karuan itu berlangsung cukup lama, mungkin hampir sebulan. Setelah itu aku baru merasakan pekerjaan itu agak ringan, mungkin setelah aku menemukan pola kerja yang lebih sistematis urut-urutannya sehingga lebih efisien dan menghemat banyak tenaga. Memasuki bulan kedua, aku mulai punya waktu cukup untuk berkomunikasi dengan guru-guru SMA dan tenaga pengajar AMEP (Vijay dari India, Caroline dari China, Hiu dari Vietnam, dan Umi dari Indonesia) yang ruangannya setiap hari aku bersihkan, bahkan dengan para peserta kursus bahasa Inggris di sana yang berasal dari berbagai Negara seperti Chonai dari Burma, Naim dari Afganistan, Ran Maya dari Bhutan, Kashoshi dari Kongo, dan banyak yang lainnya termasuk juga dari Indonesia.  Alhamdulillah, sejak saat itu aku sudah mulai merasa senang dengan pekerjaan di gedung yang sangat sibuk ini. Apalagi ditengah kesibukan bekerja, aku masih sempat menjalankan sholat Subuh meskipun dilakukan di depan lift karena memang di gedung ini tidak ada musholla, bahkan dari sekian banyak gedung di universitas ini hanya ada 1 prayer room dan itupun berkapasitas cuma untuk 3-4 orang  saja (emangnya di Indonesia).


Sholat Subuh di depan lift, tidak ada musholla


Berpose di depan Cleaner Room – Ruang Kerjaku

Hal yang membuatku senang bekerja di tempat ini adalah karena aku telah mulai marasakan atmosfir bekerja di luar Indonesia yang sebelumnya hanya bisa mendengar dari cerita atau membaca dari buku, selain juga banyak berkenalan dengan banyak teman sesame cleaner yang berasal dari berbagai negara, yaitu: Aben Seggl, Rovina, Len, Jerry & Isteri (Filipina), Da (Thailand), Nilton & Zelina (Timor Leste), Jeanny & Lesley (Australia), George (New Zealand), Flippy (Tonga), Charlie (Malta), Giorgina & Rosemary (Greek/Yunani), Sue (Irlandia), selain Niluh & Ermi (Bali) dan Supervisor Kerry serta Manager Anita Rann (Australia).


Bersama Niluh, Anita, Aben & Kerry


Bersama Giorgina, Lesley, Niluh & Ermi


Zelina, Jeanny & Da


Bersama Aben, Anonim & Sue


Jerry (kanan) & Cleaner asal Aborigin


Jeanny & Kerry di Office Kami


Saat Mendengarkan Briefing Berkala dari Manager

Aku bersyukur kepada Allah karena ternyata masih diberikan kekuatan fisik dan juga mental untuk menjalankan pekerjaan Cleaner – suatu pekerjaan mulia yang menuntut kerendahan hati dan kesabaran mendalam serta ketahanan fisik yang baik, meskipun pekerjaan ini tentunya juga mengandung resiko besar yang setara korupsi yaitu kesempatan mengambil sesuatu yang bukan hak kita karena seorang Cleaner merupakan orang yang sangat dipercaya – dimana karena tugasnya ia memiliki wewenang untuk membuka setiap ruangan yang di dalamnya mungkin berisi hal-hal yang berharga atau sangat rahasia. Alhamdulillah… aku telah beruntung menjadi seorang yang dipercaya, semoga aku bisa menjaga amanat ini untuk selamanya dimana pun aku berada, aamiin…

Salam hangat dan semangat selalu…

Darwin, 10 Juni 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: