Toleransi Beragama Masyarakat Indonesia di Darwin


Image

(Dituturkan oleh Agus Sudjoko dalam Buku “The Migrant’s Story”)

Toleransi pada masyarakat Indonesia di Darwin tampaknya tinggi sekali dimana keberadaannya tidak pernah terpengaruh oleh adanya kerusuhan ‘antar agama’ yang sering terjadi di tanah air. Kalau ada orang Non-Muslim membuat pesta dan ada orang Muslim yang diundangnya maka akan dibaginya siapa-siapa yang bakal memasak dari kalangan orang Muslim itu sendiri baik itu untuk acara bersama (Agustusan atau Natalan) lebih-lebih acara yang bersifat perorangan (Pesta Perkawinan) untuk menjaga fitnah secara dini.

Pernah dalam suatu pesta perkawinan adat Batak, sebagai penganut Islam yang diundang kami seperti diistimewakan karena sewaktu acara makan tiba kami dipersilakan makan terlebih dahulu dari tamu-tamu lain yang kebanyakan bule untuk makanan halal yang khusus dipesan untuk kami. Sebagai orang Jawa khususnya, kami merasa ‘ewuh pakewuh’ artinya segan dan malu karena kami sebenarnya selama puluhan tahun sudah terbiasa makan bersama dengan teman-teman Non-Muslim dan apalagi kedatangan kami di situ sebagai tamu. Jadi tidak etis kalau kami menuntut seperti kebiasaan kami, tetapi kami akan selalu siap memilih makanan yang bisa kami konsumsi menurut keyakinan kami dari apa yang disediakan.

Tetapi saya kira ini semua karena pengundangnya sendiri yang konsisten sebagai orang Batak untuk mengamalkan adat kebiasaan yang berlaku secara turun temurun di daerah asalnya. Karena menurut penuturan seorang kawan yang berasal dari sana dimana mereka yang Non-Muslim selalu menyimpan periuk dan alat dapur khusus yang terjaga dimana alat-alat tadi baru digunakan untuk memasak kalau akan menjamu orang Muslim. Karena bagaimanapun walaupun orang Batak dikenal memiliki banyak nama ‘Marga’ dan Agamanya serta berbeda pula asal muasalnya tetapi mereka adalah satu ‘saudara sedarah’ juga, sehingga sikap saling menghormati antar mereka sudah merupakan adat yang ‘tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas”.

Itulah makanya keluarga Fendy Oposunggu, sebagai pengundangnya waktu Pesta Pernikahan anaknya Ucok Oposunggu walaupun sudah lebih dari 30 tahunan tinggal di negeri seberang (Australia) ini tidak canggung lagi mengumumkannya di depan tamunya yang kebanyakan orang Australia. Rupanya keteguhan ini selalu dipegangnya seteguh ikan-ikan yang berenang di sekitar Gedung Pertemuan di tepi Dermaga Pelabuhan Darwin yang indah dimana pestanya berlangsung. Daging ikan-ikannya tetap segar rasanya tidak terpengaruh oleh asinnya kandungan garam laut dimana mereka hidup sepanjang umurnya, sehingga kalau kita ingin makan ikan-asin maka perlu menggaraminya sendiri terlebih dahulu.

Dan saya perhatikan tamu-tamu lain di sekeliling kami seperti biasa-biasa saja tidak terganggu dengan diistimewakannya kami ini artinya tanpa reaksi aneh. Karena mereka bule-bule ini tahu benar akan ‘hak tuan rumah’ sebagai pengundangnya yang berlapang dada mau menghormati tamunya sebagai kelompok minoritas seperti kami.

Di Australia sendiri tentang produk ‘makanan halal’ kami lebih mudah mengenal halalnya suatu makanan walaupun tanpa lebel “halal”, karena apa yang terkandung di dalamnya telah tertulis di situ daripada di Indonesia sendiri yang baru dikatakan halal kalau ada lebel ‘halal’nya. Ini karena ada orang Australia sendiri yang bukan karena alasan agama tetapi alergi terhadap semua daging baik itu daging ayam, kambing atau pun daging sapi.

Selain itu karena orang bisa menuntut kerugian, maka merupakan kewajiban bagi setiap produsen untuk mencantumkan kandungan jenis bahan-bahan di semua produk yang dijualnya, baik biskuit, roti tawar, keju, eskrim, daging, pasta gigi dan sebagainya dengan nomor-nomor tertentu antara 100 sampai 900an lebih. Nomor tersebut menginformasikan kandungan di dalamnya apakah diberi pengawet (preservative), pengental (emulsifier), pewarna (artificial colour), gelatin dari tumbuhan atau hewan, stabilizer (untuk eskrim agar tidak gampang lembek), dan sebagainya, semuanya tercantum di ‘ingredien’nya.

Tentang pengertian halal ini, saya memiliki pengalaman dengan 2 tetangga Australia Non-Muslim yang tinggalnya bersebelahan rumah dan sudah akrab sekali. Saking akrabnya kalau ada bencana di tanah air mereka tidak keberatan mengulurkan dananya walaupun saya katakan pengirimannya nanti sekalian melalui dana Zakat dari Islamic Society. Bahkan sewaktu tsunami terjadi di Aceh, salah satu dari mereka mau mengirimkan dananya secara rutin lewat jalan ‘mengangkat anak angkat’ tanpa ikatan apapun.

Keakraban diantara kami ini menimbulkan tidak adanya batas untuk menanyakan apa sebenarnya ‘halal’ itu menurut rasionya. Saya terangkan bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan termasuk kita-kita ini, makanya kalau mau menyembelih hewan apapun walaupun semuanya sudah disediakan untuk kita namun tetap kewajiban kami untuk ‘meminta ijin’ terlebih dahulu dengan pemilikNya sebelum kami menyembelihnya dengan mengucapkan basmalah.

Kebetulan di Batchelor – sekitar 90 km dari Darwin terdapat pemotongan sapi secara halal yang dikelola oleh orang Australia dan dagingnya dikirim ke Negara yang berpenduduk Muslim. Karena Islamic Society diminta memberikan sertifikasi tentang kehalalannya maka terkadang pengurusnya mengadakan inspeksi ke sana dan kawan ini ingin ikut untuk melihat cara penyembelihannya. Mereka tertarik waktu saya menceritakan bahwa setiap harinya tempat itu mampu memotong sapi antara 100 sampai 150 ekor, ia seperti tidak percaya bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi.

Sapi-sapi yang hendak disembelih ini sebelumnya satu per satu digiring melalui pagar yang sempit yang hanya cukup untuk dilewati dirinya. Setelah sapi tadi sampai ke tempat penyembelihnya kepala sapi tadi disentuh dengan semacam tongkat yang berpeluru. Tongkat yang ada pelurunya sebesar peluru pistol ini hanya disentuhkan dengan pelan ke kepalanya tanpa perlu memuntahkan pelurunya, jadi semacam untuk mengagetkan saja. Kalau sapi tadi setelah disentuh roboh tetapi masih bergerak, penyembelihnya kemudian menekan ‘tombol lampu hijau’ berarti dagingnya halal dan disembelihlah sapi itu. Sedangkan kalau sapinya tidak bergerak berarti sapi tadi mati, maka ‘tombol lampu merah’ yang ditekan untuk menunjukkan ketidak halalannya.

Dari sinilah sapi yang sudah dipotong kemudian digantung dan diterima oleh 14 orang yang saling berhadap-hadapan menghadap gantungan berjalan yang masing-masing mempunyai tugas yang berbeda, mulai dari menguliti sampai memisahkannya menjadi jenis Round, Top Side, Rump, Blade, Chuck, dan sebagainya. Perusahaan pemotongannya sendiri, untuk menjamin kehalalannya meminta Islamic Society untuk mempekerjakan para anggotanya. Karenanya produk daging dari Australia yang bertuliskan “Quality Meat” yang dikirim ke Negara pengimportnya adalah terjamin kehalalannya.

Kembali berbicara tentang keberadaan organisasi, sebenarnya orang Indonesia dalam berorganisasi cukup disegani oleh anggota masyarakat dari etnik lain. Mereka diluar organisasi nasionalnya terpencar bergabung di organisasi agama masing-masing, sesuai dengan keyakinannya membaur dengan etnik bangsa-bangsa lain yang hampir mencakup semua bangsa ada di Australia ini.

Berdatangannya banyak warga Indonesia bagian Timur sebelum Cyclone Tracy 1974 di Darwin menambah deretan jumlah warga Indonesia di Northern Territory ini. Walaupun tujuan semula ingin merubah nasib, karena dalam diri mereka telah ‘diberkati keimanan’ sebagai anggota Gereja Masehi Injil Timor (GMIT) maka setelah mereka menetap di Darwin mereka perlu memelihara keimanannya dengan adanya siraman rohani secara regular.

Bapak Zacheous lah sebagai pencetus ide dan gagasan mengadakan pertemuan tiap Rabu malam dari rumah ke rumah dengan khotbah bahasa Indonesia pada tahun 1980. Dengan adanya program reuni dari pemerintah bahwa tiap keluarga boleh mendatangkan saudaranya dari Indonesia maka bertambah pulalah jumlah warga Indonesia yang berarti bertambah pula jama’atnya. Karenanya memerlukan diangkatnya seorang Minister yang pilihan pertamanya jatuh ke seorang Master lulusan Sidney yaitu Pendeta Tom Thorik. Organisasinya pun dibentuk dengan nama Persatuan Masyarakat Kristen Indonesia (PMKI) pada tahun 1983.

Setelah Pendeta Tom Thorik pulang ke Kupang, untuk sementara tugasnya digantikan oleh Direktur Nungalinya College yaitu Pendeta Tony Nichols. Baru pada waktu Pendeta Imannuel Bire (asli Timor), kebaktian diadakan dalam bahasa Inggris dan mulai bergabung dengan Uniting Church walaupun sebagian jema’atnya menghendaki kemandiriannya. Sehingga Pastor Victor Sumlang dan Pendeta John Pah bersama-sama sebagai ‘Penggembala’ gabungan jema’at ini.

Pada tahun 1988, Pendeta Thuby Messakh sebagai moderator GMIT dating ke Darwin untuk mempertemukan antara ketiganya PMKI, Uniting Church dan GMIT yang dalam pertemuan tersebut GMIT akan membantu menyiapkan Ministernya. Tetapi sewaktu ditindak lanjuti GMIT tidak memiliki cukup Penginjilnya yang bisa dikirim ke Darwin karenanya Pak Mauboy menghubungi Institue Pengabar Injil (YPPII) di Malang kemungkinannya bisa merekrut Penginjilnya untuk dikirim ke Darwin. Atas prakarsa Pak Mauboy ini YPPII secara regular sudah lebih dari 10 tahun membantu kebaktian ini.

Setelah selesai tugas dari gereja, Misionaris Indonesia Pak Solomo Bangun melanjutkan membentuk Philadelphia Indonesia Uniting Church yangnama ini tidak ada kaitannya dengan nama kota Philadelphia di Amerika. Nama ini dipilihnya dari nama ke empat jama’at yang pernah ada dimana Philadelphia ini adalah nama kelompok yang paling kecil. Mengapa nama ini yang dipilihnya, karena kelompok ini yang paling kecil dan biasanya yang paling kecil ini paling lemah dan karenanya memerlukan pertolongan dan menyadari akan kelemahan dirinya inilah maka mereka lalu menjadi kuat dan besar Semua ini tidak lain karena kerendahan hati Pak Solomo sendiri sebagai Pendeta yang selalu merasa lemah dan kecil di hadapan Tuhan.

Berturut-turut dari GMIT dikirim Pendeta Heriati Lapa’an dan Pendeta Thresi Maboy yang keduanya sudah menjadi penduduk tetap Darwin karena pernikahannya. Bu Thresi Maboy ini sekarang memimpin di Gereja Uniting Church Nightcliff dan Pendeta Heriati mengabdikan dirinya lewat alunan musiknya di Philadelphia.

Terlepas adanya perbedaan pendapat yang pernah ada, semua tadi sudah atas kekendak dan ijin Tuhan juga. Karenanya walaupun asalnya dari satu organisasi dan sekarang kebaktiannya di 3 tempat namun hakekatnya satu hati juga karena menuju ke satu Tuhan yang sama. Apalagi orang Indonesianya tiap tahunnya makin berkembang banyak sehingga ajaran Ke-Tuhanan  perlu disebar luaskan ke banyak tempat tidak hanya di jalur formal saja tetapi juga lewat sikap hidup anggotanya dengan bertoleransi, saling peduli dan hidup dalam kebersamaan menurut tuntunan Agama yang dianutnya.

Demikian juga orang Indonesia yang bergabung di Islamic Society of the NT (ISNT) yang ada di Darwin. Walaupun orang Indonesia di organisasi ini menduduki perinkat ke-2 dalam jumlahnya setelah orang Pakistan, tetapi untuk mengisi kegiatannya di organisasi yang anggotanya sekitar 22 suku bangsa ini mereka mampu beraktivitas di semua kegiatannya, misalnya 2 Khatib yang kadang mengisinya yaitu Pak Anwar Lamaya dan Pak Kamaruddin Ajrun adalah sumbangan dari masyarakat Indonesia.

Hanya saja, karena dulu berbeda penjajahnya, kita jajahan Belanda dan mereka jajahan Inggris maka cara mereka dalam berorganisasi lebih setia dalam mematuhi konstitusinya. Perbedaan pendapat memang ada diantaranya tetapi karena berpegang teguh pada aturan main yang ada di konstitusi tadi maka emosinya sebentar saja sirna dan kemudian duduk bersama lagi untuk melangkah ke depan, sehingga organisasinya menjadi organisasi yang maju dan menjadi kebanggaan Pemerintah setempat. Apalagi setelah melihat hasil audit dimana keuangannya yang selalu surplus tiap tahunnya ini, sehingga menempatkan ISNT termasuk urutan pertama penerima Grant dari Pemerintah.

Melihat begitu besarnya sumbangan Pemerintah NT kepada organisasi-organisasi yang ada lewat Muticultural Affairs nya, sebenarnya berorganisasi di Australia menyenangkan. Setiap membangun asalkan pemilihannya tepat apa yang akan dibangunnya untuk kepentingan umum, misalnya perpustakaan, sarana pendidikan atau untuk peribadatan, proposal yang diajukan akan mendapatkan bantuan Pemerintah. Hanya setiap proposal yang diajukan dari dana yang diterima harus dibelanjakan sesuai dengan keperluan yang tertulis di proposal tersebut dalam Acquittal Pertanggungan Jawabnya. Begitu pertangungan jawabnya beres maka tahun berikutnya akan diberinya lagi.

Kenangan yang saya anggap sebagai suatu keajaiban sebagai Bendaharanya adalah sewaktu Pengurus yang waktu itu Presidennya Moh Nurul Huq menetapkan untuk memperluas bangunannya dengan uang organoisasi yang dimilikinya hanya $70,000, sedangkan yang harus dibayarkan kepada Kontraktornya sebanyak $155,000, karenanya Rapat Pengurus memutuskan untuk meminjam uang ke Bank sekitar $80,000 untuk menutup kekurangannya. Entah bagaimana waktu itu, sejak mulai penggalian tanah bangunannya, yang menyumbang  $1,000 cukup banyak seddangkan lainnya antara $300 sampai $500. Dan Bazaar Makanan yang kami adakan setiap bulannya dalam waktu 4 jam saja mendapat keuntungan antara $2,000 sampai $2,500. Sehingga setelah gedungnya selesai dibangun uangnya masih sisa $40,000 dengan tanpa meminjam uang dari bank. Padahal pengeluaran rutinnya per tahunnya sekitar $45,000. Ini berarti selama membangun dapat sumbangan dari anggotanya sekitar $190,000. Atas kemudahan ini saya sangat bersyukur kepadaNya karena selama saya jadi Bendahara saya tidak banyak mendapat kesulitan.

Waktu dahulu pernah ada ketetapan membayar iuran untuk anggotanya menimbulkan protes dari masyarakat Indonesia karena tidak ada hukum syariahnya. Atas usul ini, iuran itu kemudian dihapus. Setelahnya dengan tanpa iuran dana justru mengalir terus melebihi dari sebelumnya.

Cerita di atas bisa dijadikan bahan renungan. Rupanya kalau semua itu mengikuti menurut jalan yang diperintahkanNya kita tidak boleh ragu dengan kebesaranNya oleh Allah akan dibukakan pintu rezeki dari berbagai arah dan digerakkan anggota organisasinya membuka hatinya sehingga dengan ikhlas mengucurkan dananya ke jalan yang dikehendakiNya.

Karenanya setelah saya menjadi Bendahara lagi yang sekarang sedang membangun Balai Pertemuan, Perpustakaan, Pemandian Jenazah, Kantor dan Tempat Parkir, yang biayanya hamper $1 juta, walaupun uangnya sekitar $700,000, saya yakin kekurangannya akan bisa ditutupi. Pemerintah NT sendiri selama ini tidak sedikit memberikan bantuan ke organisasi ini karena Pemerintah berpandangan dengan berdirinya fasilitas Gedung milik suatu organisasi manapun yang bermanfaat untuk umum tidak lain fasilitas ini merupakan asset Negara juga yang perlu dibanggakan.

Dari apa yang dikemukakan di atas, beruntunglah Northern Territory ini karena para pendatangnya lengkap serba bisa mulai dari Penginjil, Da’I sampai seorang Jessica Maboy sebagai Runer Up Australia Idol tahun 2006 sehingga semua yang dimiliki tadi mampu mewarnai nama NT ini.

Terjadinya peristiwa World Trade Centre (WTC) di New York kemudian Bom Bali cukup membikin shock masyarakat dunia umumnya  dan masyarakat Indonesia di Darwin khususnya. Apalagi Bom Bali membawa korban sebanyak 85 turis Australia. Telepon bordering tiada henti menanyakan sesuatunya. Untung ada Pak Alan Ramadhan – orang Australia yang menjadi Mualaf tinggal di Islamic Centre. Al-Quran terjemahan bahasa Inggris saat itu laku keras sampai kehabisan persediaan. Beberapa karangan bunga juga dikirim ke Islamic Centre sebagai tanda ikut bela sungkawa.

Di suatu sore setelah peristiwa ini saya dan Pak Arsyad adalah seorang pertukaran Guru Bahasa Indonesia asal Lombok yang kebetulan berada di Islamic Centre, didatangi oleh crew TV akan mewawancarai. Kami beri tahu yang lebih tepat untuk ini adalah Presidennya yang waktu itu dijabat Asad Muhsin yang berasal dari India. Saya lihat diluar gedung, 3 kamera TV yang ada sudah dipasang di tempat yang strategis. Saya kira bakal dating demonstrasi besar-besaran. Tetapi kami berdua merasa aman karena Gedung dan Mesjidnya terkunci, jadi mereka tidak bisa masuk. Anehnya 3 jam kemudian mereka meninggalkan Mesjid satu per satu dengan sukarela. Saya baru tahu setelah Pengurus ISNT dipanggil oleh Pemerintah NT seminggu kemudian dan diberitahu kalau ada tempat Peribadatan lain dilempari batu karena adanya pertengkaran antar anggotanya. Mungkin Pemancar TV setelah mendapat telepon berkesimpulan mereka akan merusak Mesjid karena situasinya setelah peristiwa WTC tadi.

Demikianlah karena tingkat pendidikan rata-rata warganya yang tinggi, adanya 2 peristiwa besar yang dikutuk dunia seperti WTC dan Bom Bali ini tidak mudah memprovokasi mereka sehingga Australia tetap aman karena emosinya tidak mudah terpancing.

Darwin, 16 Juni 2012

Saat Pertama Kali Aku Bekerja di Negeri Orang



Gedung Charles Darwin University

Awal April tepatnya tanggal 3 April 2012 aku mulai resmi bekerja secara di suatu perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Melbourne dengan salah satu usahanya adalah dibidang cleaning service dan aku diterima sebagai Cleaner atau tukang bersih-bersih dengan status part timer. Sehari sebelum bekerja, aku diajak muter-muter oleh Kerry (supervisor) ditemani Sue (mantan Supervisor) keliling area kerja perusahaan ini yaitu di kampus Charles Darwin University, menggunakan mobil operasional Supervisor yang berwarna hijau dengan bersempit-sempitan bertiga di kursinya itu yang sebenarnya hanya cukup untuk berdua. Jadi meskipun aku ke luar negeri tidak untuk kuliah tapi lumayan aku bisa bekerja di universitas dan merasakan suasana di kampus yang bernuansa belajar-mengajar.


Naik mobil mungil ini keliling lokasi kerja

Sebelum resmi bekerja, meskipun hanya sebagai Cleaner aku tetap harus mengikuti induction (orientasi) baik teori maupun praktek. Sepertinya inilah kelebihan perusahaan di Negara maju, induksi atau orientasi sangat diperlukan sebelum seseorang bekerja.  Induction teori dilakukan melalui computer dengan mengunjungi website perusahaan ini dengan password nomor karyawan yang aku terima dari Anita Rann (Manager) pada saat wawancara dua hari sebelumnya di kantor mereka di bilangan Stuart Park. Materi induction teori adalah informasi mengenai perusahaan ini dan tentang  4W1H (What, Why, When, Where dan How) nya pekerjaan cleaning service dengan penekanan pada pentingnya safety dalam bekerja untuk menghindari injury. Perilaku safety ini ternyata banyak didasarkan pada teori ergonomic. Istilah-istilah itu masih asing bagiku tapi sangat menarik karena memang sangat penting dalam bekerja yang mengandalkan fisik.


Mampir ke ruang isteri, saat pulang kerja

Informasi tentang perusahaan bercerita mengenai bagaimana perusahaan ini bediri dimulai dari usaha dry cleaning (laundry) rumahan di Melbourne hingga berkembang menggurita ke berbagai bidang bisnis yang merambah ke berbagai negara di Asia, Eropa dan Amerika. Bisnis terbesar mereka adalah bidang catering (di Australia) dan produksi (juga repair and recycling) hanger (di Eropa dan Amerika). Bidang cleaning service adalah bisnis terbesar ketiga mereka yang tampaknya menguasai sector pemerintahan Australia terutama Kementerian Pertahanan (Ministry of Defence).


Deretan Ruang Kelas dan Office Gedung Orange 4


Hiasan Keramik yang indah di Gedung Orange 4

Induction praktek dilakukan selama 2 hari saat awal bekerja. Untuk induction praktek ini aku didampingi oleh Niluh – rekan Cleaner senior yang berasal dari Indonesia (Bali), suaminya orang bule Australia. Dari jam 5 subuh sampai jam 9 pagi, Si Niluh yang sederhana ini dengan sabar mengajari aku bagaimana menyiapkan peralatan kerja di cleaner room (standar yang harus ada di setiap gedung kantor/sekolah) yang dibawa menggunakan trolly. Tugas pertama yang diajarkan adalah adalah bagaimana mengumpulkan sampah (collecting rubbish) dari tempat sampah (rubbish bin) yang ada di seluruh ruangan dari area di gedung yang menjadi tanggung jawab kita, untuk kemudian dimasukkan kedalam kantong plastic besar warna hitam yang selanjutnya nanti dibuang ke bak sampah besar (exhausted atau hippo bin) di luar gedung . Tugas memungut sampah ini dilakukan sambil merapikan kursi, membersihkan debu dan mengelap meja. Tugas yang diajarkan selanjutnya adalah membersihkan lantai karpet permadani dengan vacuum cleaner dan mengepel (mob) lantai ubin, keramik atau karpet plastic. Pekerjaannya memang sederhana tapi menjadi tidak sederhana karena jumlah ruangan yang dibersihkan itu banyak betul, hampir 30 ruangan (bisa berada di 1, 2, 3, atau 4 lantai), semuanya harus diselesaikan dalam waktu 4 jam kotor. Tugas berikutnya adalah yang paling seru yaitu membersihkan toilet (WC), yang terdiri dari menambah hand towel, mengganti toilet paper, mengganti sabun cair, ‘mengobok-obok’ (nah ini dia….) kloset  atau kakus (serem banget istilahnya), membersihkan wastafel (basin), dan mengepel lantainya. Kalau masih ada waktu sebelum 4 jam berakhir, maka kita harus menggunakannya untuk membersihkan kaca pintu dan jendela atau lainnya di dalam area kita yang terlihat kotor atau tidak enak dipandang.


Niluh & Ermi dari Bali – Mereka Guru Pertamaku

Pada hari ketiga, induction praktekku dipindahkan ke gedung lain yang dikenal paling repot dan susah pekerjaannya. Kenapa begitu, karena di dalam gedung ini ada sekolah SMA Essington International School yang diasuh oleh CDU (seperti Labschool yang diasuh UNJ) dan sekolah bahasa Inggris untuk para Migrant terutama dari Asia dan Afrika. Jadi kalau di gedung lain seringkali cukup banyak ruangan yang masih bersih dan tidak perlu dibersihkan setiap harinya, maka berbeda dengan di gedung ini dimana hampir semua ruangan harus dirapikan dan dibersihkan setiap hari karena berantakan dan kotor, maklum dipakai oleh anak-anak sekolah dan para migrant (kebanyakan pengungsi) yang umumnya tidak/kurang memiliki sikap atau kebiasaan menjaga kebersihan. Di tempat ini aku dibimbing oleh Cleaner senior (sudah bekerja hampir 10 tahun) yang berasal dari Filipina, namanya Aben Sieggl yang kebetulan usianya sama dengan aku yaitu 48 tahun. Kalau Niluh kerjanya tenang tapi pasti, maka Aben sebaliknya, dia bekerja cepat dan gesit, sehingga Kerry (Supervisor) hanya memberinya waktu 3 jam untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu, berbeda dengan aku yang diberi waktu 4 jam, soalnya masih junior kali.


Aben (kiri) & Rovina (kanan), Guruku dari Filipina

Setelah 3 hari dibimbing Aben, maka pada hari ke-6 mulailah aku bekerja sendiri menangani semua pekerjaan di gedung yang sulit itu. Di hari pertama bekerja itu, pekerjaan terasa sangat berat. Urut-urutan pekerjaan mana yang akan dilakukan lebih dulu dan yang mana yang kemudian tampak begitu kacau dan terbalik-balik sehingga banyak membuang waktu yang membuat aku merasa menjadi seolah-olah dikerja-kejar oleh waktu. Belum lagi ditambah dengan bolak balik salah dalam cara mengganti plastic sampah, toilet paper, hand towel, hand soap dan menggunakan vacuum cleaner dan cara mengepel yang efektif dan efisien. Tanpa terasa keringat menetes membasahi mata, hidung dan sampai terasa asin-asin di mulut, tanpa sempat dilap karena merasa semuanya harus buru-buru dikerjakan. Sepulangnya ke rumah, punggung sakit, pinggang sakit, juga tangan, paha dan betis pegal-pegal sampai ke jari-jari juga ikut sakit dan agak kram. Kondisi badan yang tak karuan itu berlangsung cukup lama, mungkin hampir sebulan. Setelah itu aku baru merasakan pekerjaan itu agak ringan, mungkin setelah aku menemukan pola kerja yang lebih sistematis urut-urutannya sehingga lebih efisien dan menghemat banyak tenaga. Memasuki bulan kedua, aku mulai punya waktu cukup untuk berkomunikasi dengan guru-guru SMA dan tenaga pengajar AMEP (Vijay dari India, Caroline dari China, Hiu dari Vietnam, dan Umi dari Indonesia) yang ruangannya setiap hari aku bersihkan, bahkan dengan para peserta kursus bahasa Inggris di sana yang berasal dari berbagai Negara seperti Chonai dari Burma, Naim dari Afganistan, Ran Maya dari Bhutan, Kashoshi dari Kongo, dan banyak yang lainnya termasuk juga dari Indonesia.  Alhamdulillah, sejak saat itu aku sudah mulai merasa senang dengan pekerjaan di gedung yang sangat sibuk ini. Apalagi ditengah kesibukan bekerja, aku masih sempat menjalankan sholat Subuh meskipun dilakukan di depan lift karena memang di gedung ini tidak ada musholla, bahkan dari sekian banyak gedung di universitas ini hanya ada 1 prayer room dan itupun berkapasitas cuma untuk 3-4 orang  saja (emangnya di Indonesia).


Sholat Subuh di depan lift, tidak ada musholla


Berpose di depan Cleaner Room – Ruang Kerjaku

Hal yang membuatku senang bekerja di tempat ini adalah karena aku telah mulai marasakan atmosfir bekerja di luar Indonesia yang sebelumnya hanya bisa mendengar dari cerita atau membaca dari buku, selain juga banyak berkenalan dengan banyak teman sesame cleaner yang berasal dari berbagai negara, yaitu: Aben Seggl, Rovina, Len, Jerry & Isteri (Filipina), Da (Thailand), Nilton & Zelina (Timor Leste), Jeanny & Lesley (Australia), George (New Zealand), Flippy (Tonga), Charlie (Malta), Giorgina & Rosemary (Greek/Yunani), Sue (Irlandia), selain Niluh & Ermi (Bali) dan Supervisor Kerry serta Manager Anita Rann (Australia).


Bersama Niluh, Anita, Aben & Kerry


Bersama Giorgina, Lesley, Niluh & Ermi


Zelina, Jeanny & Da


Bersama Aben, Anonim & Sue


Jerry (kanan) & Cleaner asal Aborigin


Jeanny & Kerry di Office Kami


Saat Mendengarkan Briefing Berkala dari Manager

Aku bersyukur kepada Allah karena ternyata masih diberikan kekuatan fisik dan juga mental untuk menjalankan pekerjaan Cleaner – suatu pekerjaan mulia yang menuntut kerendahan hati dan kesabaran mendalam serta ketahanan fisik yang baik, meskipun pekerjaan ini tentunya juga mengandung resiko besar yang setara korupsi yaitu kesempatan mengambil sesuatu yang bukan hak kita karena seorang Cleaner merupakan orang yang sangat dipercaya – dimana karena tugasnya ia memiliki wewenang untuk membuka setiap ruangan yang di dalamnya mungkin berisi hal-hal yang berharga atau sangat rahasia. Alhamdulillah… aku telah beruntung menjadi seorang yang dipercaya, semoga aku bisa menjaga amanat ini untuk selamanya dimana pun aku berada, aamiin…

Salam hangat dan semangat selalu…

Darwin, 10 Juni 2012