Cari’in Dong Kerjaan Buat Bokap Gue…


Cari’in dong kerjaan buat bokap gue…” kata-kata itu meluncur dari mulut anak gadis remajaku ditujukan kepada teman-temannya – sekumpulan anak-anak muda Indonesia asli dan campuran bule di suatu Cafe di pusat keramaian kota Darwin 1-2 minggu lalu. Tentunya kerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan kasar misalnya sebagai penjaga toko, pelayan restoran, cleaner, cashier, night filler, trolly man, security, atau jadi supir taksi, bukan pekerjaan di office (kantoran) yang tempatnya sejuk dan tidak capek menguras fisik/tenaga, apalagi pekerjaan dengan posisi yang lebih keren sebagai supervisor atau manajer. Anakku tahu kalau ayahnya yang berusia mendekati 50 tahun ini sudah beberapa kali gagal dalam wawancara untuk pekerjaan kantoran karena masih ‘gagap’ berkomunikasi dalam bahasa Inggris, berbeda dengan dirinya yang baru setahun tinggal di Darwin tetapi sudah terbilang lancar berbahasa Inggris karena terlatih di sekolah dan di pekerjaannya sebagai Cashier KFC.

Anak gadisku melontarkan kata-kata itu untuk meminta bantuan teman-temannya karena ia merasa prihatin dengan kondisi ayahnya yang sedang tidak bekerja, kelihatan tidak bergembira setiap harinya dan yang jelas tidak punya cukup uang karena tabungan yang semakin menipis, sehingga tidak bebas untuk membeli sesuatu yang diinginkan bahkan untuk sekedar sesekali membeli makanan enak saja kok seperti membatasi diri. Padahal ia tahu persis ketika masih berada di Jakarta, ayahnya termasuk orang yang semangat bekerja mengelola usaha yang mempekerjakan banyak orang dan memiliki pola hidup yang lebih dari berkecukupan. Saat itu ia pun merasa dimanjakan oleh ayahnya, hampir tidak ada permintaannya yang tidak dipenuhi oleh ayahnya, atau mungkin itu juga karena ia merupakan anak perempuan satu-satunya sehingga ayahnya tidak tega menolak permintaannya. Kondisi yang bertolak belakang ini tentunya sangat mengetuk hatinya untuk berusaha membantu ayah tercintanya dengan bertanya dan meminta bantuan kepada teman-temannya.

Anak-anak muda seusia anak gadisku dan teman-temannya, meskipun mereka masih bersekolah atau kuliah tetapi sebagian besar biasanya memang sudah bekerja. Hal yang biasa kalau tinggal di luar negeri, sambil kuliah mereka bisa bekerja bahkan termasuk buat mereka yang masih bersekolah di middle school (SMP), asalkan sudah berusia 14 tahun. Lumayan kan buat jajan dan sedikit meringankan beban orangtua. Tidak jarang dari mereka ada yang bekerja untuk membayar uang kuliah, bahkan ada juga yang sengaja cuti kuliah dulu supaya bisa bekerja untuk membayar uang kuliah yang memang terbilang mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia pada umumnya. Hal ini tentunya berbeda dengan kondisi di Indonesia, dimana anak-anak seusia itu sedang susah-susahnya dikendalikan dan banyak merepotkan orangtua, baik secara fisik, pikiran, mental dan tentunya dalam hal finansial (uang kuliah, buku-buku, jalan-jalan, jajan dan pemenuhan gaya hidup konsumtif lainnya).

Anak gadisku yang bersekolah di High School Year 12 (kelas 3 SMA) ini bercerita bahwa ia mengucapkan kata-kata itu dengan nada riang tanpa ada rasa sedih atau malu terhadap teman-teman prianya yang mungkin salah satu atau lebih diantara mereka ada yang sedang diincarnya untuk menjadi pacarnya. Sewajarnya gadis seusianya akan merasa malu, stres atau bahkan menarik diri dari pergaulan saat berada dalam kondisi keluarga dimana ayahnya menganggur atau mengalami kesulitan keuangan. Anehnya, aku sebagai ayahnya yang saat ini memang sedang menganggur kok juga tidak merasa tersinggung atau marah ketika ia menceritakan hal itu kepadaku dengan ekspresi wajahnya yang cengengesan, yang mungkin sambil menerka-nerka reaksi apa yang muncul dariku sebagai ayahnya karena sikapnya yang tidak lazim dan tanpa seijin ayahnya itu.

Di hatiku yang terdalam, sebenarnya aku sangat bersyukur bahwa anakku yang sempat membuatku hampir putus harapan karena ketidakseriusannya bersekolah, saat ini tampil menunjukkan kedewasaannya. Ia telah mampu mengesampingkan bahkan mengalahkan kepentingan dan ego dirinya sendiri untuk orang lain dalam hal ini orangtuanya. Ia telah mampu menempatkan kepentingan yang lebih hakiki di atas perasaan malu (gengsi) yang sifatnya semu. Ini merupakan salah satu tugas berat orangtua yang aku rasakan dan harus berhasil dilalui yaitu membentuk mental yang matang/dewasa dari anak-anaknya, dimana hal itu merupakan modal penting buat mereka untuk menghadapi kehidupan yang penuh ketidakpastian ini. Mungkinkah tumbuhnya kedewasaan dan kemandirian anakku ini merupakan hikmah dibalik kejadian yang sulit ini!

Peristiwa ini sangat membuatku bahagia walaupun terjadi ditengah kondisi yang memprihatinkan dimana aku sedang menganggur. Meski hingga saat ini masa menganggurku hampir genap tiga bulan, tetapi aku sendiri secara sadar tidak merasakan stress/tertekan. Entahlah kalau ternyata alam bawah sadarku yang mengalami stres. Kondisi stres ini justru menyerang isteriku, yang terlihat dari sikapnya yang berubah jadi ketus, meningkatnya frekuensi marah-marah dan sangat giat menanyakan kepada hampir setiap orang yang dijumpai (kenal atau baru kenal) dengan pertanyaan sejenis seperti dilontarkan anak gadisku: “Ada kerjaan gak buat suamiku?”. Rasanya hampir semua orang Indonesia yang dikenalnya di kota ini tahu bahwa aku masih menganggur, bahkan juga tukang daging halal di mal yang orang bule itu juga tahu kalau aku sedang menganggur, itu semua karena ulah isteriku, ampuuun…

Dalam budaya kita, bukankah menjadi sesuatu yang sangat memalukan bahkan tabu bagi seorang ayah apabila anaknya yang notabene masih merupakan tanggung jawabnya berusaha mencarikan pekerjaan untuk dirinya yang masih ‘menganggur’. Tetapi untungnya hal ini memang terjadi di negeri orang yang katanya berbudaya maju (Australia) sehingga hal itu menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja. Selain itu negara ini juga sangat memfasilitasi orang yang mau bekerja apa saja asalkan tidak malas (orang Aborigin dan refugee/pengungsi yang masih menganggur mendapatkan tunjangan hidup), jadi aku merasa yakin suatu saat pasti akan mendapatkan pekerjaan. Kegagalan selama ini terjadi hanya karena masih belum ada pekerjaan yang cocok buatku dan memang aku belum berusaha maksimal memanfaatkan banyak peluang yang ada.

Aku percaya kehidupan ini memang berputar, kadang kita ada di atas (banyak kelebihan, senang, mudah) dan kadang di bawah (banyak kekurangan, sedih, susah). Kita harus bersyukur dan banyak beramal saat berada di atas, dan sebaliknya kita harus berusaha, tawakal dan sabar saat berada di bawah. Hanya keikhlasan dan berserah diri kepada NYA yang bisa kita lakukan sebagai mahluk sang Khalik.

Darwin, 26 Maret 2012