Banyak Jalan Menuju Darwin


Image

Berikut ini kisah heroik dari seorang pendahulu orang Indonesia di Darwin sebagai pembelajaran bagi generasi penerus bahwa segala kemudahan yang telah mereka nikmati saat ini merupakan hasil perjuangan keras menantang maut dari orangtua, kakek dan para leluhur mereka. Semoga mereka bisa menghargai, memelihara, memanfaatkan dan mengabdikannya untuk bangsa dan negara Indonesia yang besar tetapi masih kerdil ini.

“Banyak jalan menuju Darwin” adalah ungkapan yang lebih menarik dan tepat daripada ungkapan “Banyak Jalan Menuju Roma”. Seorang pemuda yang gagah berani bernama Ali yang tidak mengenal peta dunia dimana Darwin berada, kerjanya hanya menyusuri pantai menuju laut bebas seakan bermain dengan ombak yang nakal menggulung dan menggunung tinggi menuruti kehendak hati dan dan takdir ilahi.

Pemuda yang dengan lincahnya main loncat sana dan loncat sini berlayar antar pulau di Nusantara Indonesia ini mengenal betul kehidupan para nelayan di sepanjang pesisir Jawa lewat hangatnya ombak yang menggulung. Seperti umumnya pemuda yang penuh ambisi, pemuda ini ingin juga mengukur diri apakah mampu ia berlayar lebih jauh lagi.

Ia tidak tahu kalau sebetulnya perahunya ini hanyalah bagaikan sebuah titik saja di tengah samudra luas yang tidak semudah itu bisa diajak berkompromi. Pada saat perahunya patah, siang dan malam pemuda ini dipermainkan hempasan ombak tanpa henti sampai ia tidak bisa menghitung hari. Tetapi pemuda ini penuh percaya diri bahwa ia bakal menemukan daratan nanti. Kepingan papan dari perahunya yang telah tenggelam dipeganginya erat-erat untuk menyelamatkan diri. Berhari-hari ia diguyur hujan dan dibakar terik matahari.

Anehnya menjelang malam menyelimuti bumi, tiba-tiba kepingan perahu yang sedang dipeganginya erat-erat itu seakan didorong oleh beberapa ikan lumba-lumba secara ganti berganti menepi. Makin bertambah yakinlah pemuda ini bahwa dirinya bakal selamat karena ia pernah mendengar cerita tentang binatang laut yang suka menolong orang mengalami kecelakaan dilaut ini. Sehingga semangat dan harapan hidup semakin kuat menemaninya untuk bisa melihat daratan lagi.

Dengan hanya sesekali meneguk air hujan maka hilanglah rasa lapar dan dahaganya karena merindukan datangnya ikan lumba-lumba yang biasanya muncul di malam hari dan menghilang di pagi hari itu akan balik kembali. Tidak sia-sia harapannya, dengan kehendak Allah, lumba-lumba tadi digerakkan hatinya untuk kembali mendorongnya sampai akhirnya ia diselamatkan kapal dan dibawanya ke daratan Australia di tahun 1968. Setelah sadar benar, ia tidak menyangka kalau nasibnya dibawa ke negeri yang semuanya serba asing baginya, asing orangnya, asing bahasanya dan asing pula budayanya. Selamatnya pemuda ini sampai di daratan bukan berarti derita petualangan hidupnya selesai sampai di situ. Pemuda yang di negerinya sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi ini masih melewati jalan yang berliku-liku prosesnya untuk bisa diterima sebagai warga baru di negeri itu.

Pemuda Ali yang datangnya tanpa paspor dan hanya membawa semangat juang saja ini bukan merupakan tiket untuk masuk dengan mudah ke negeri ini. Dari sidang ke sidang pengadilan yang melelahkan semuanya sudah ia lewati. Untung Allah menggerakkan hati seorang pengacara wanita bernama Nerrly Withnall yang menyediakan waktu dan pikirannya untuk membantunya dengan sukarela tanpa imbalan. Usahanya diperkuat oleh sekelompok masyarakat yang menaruh simpati dengan petualangannya. Diusahakannya ia bisa menetap di Australia karena dianggap jarang ada orang seberani ini mengambil resiko menyeberangi lautan seluas ini. Bukankah ini merupakan nyawa pilihan yang lulus dari seleksi alam atas kehendakNYA.

Pemuda Ali yang lolos dari maut dan sering menjuarai pertandingan bulutangkis ini, setelah berpindah-pindah bekerja mulai dari City Council sampai ke Wharf (Dermaga Pelabuhan Darwin) ini kemudian menyunting gadis Malaysia bernama Norma, seorang yang sabar, murah senyum dan suka bersedekah. Dari mereka dikaruniai 2 putra Dina dan Idris. Dina mengikuti jejak ayahnya sebagai juara bulutangkis olahraga favorit orang Indonesia ini dan malang melintang bertanding di Arafura Games, suatu arena olahraga internasional yang diadakan 2 tahun sekali di Darwin.

Dalam menikmati masa pensiunnya, Abang Ali Pawero ini membantu Kakak Norma berniaga jualan makanan di Rapid Creek Market pada hari Minggu dan Pasar Senggol di Sunset Market Mindil Beach. Yang memasak dan membantu menjualinya adalah kebanyakan orang Indonesia. Bisnisnya dinamai Indo-Malay karena cita-rasanya perpaduan Indonesia dan Malaysia, sehingga tidak terlalu kental rasa Indianya. Di Sunset Market Mindil Beach ini bisa dicari jenis makanan dari etnik mana saja, entah Thailand, Philipine, Mesir, Indonesia dan makanan bangsa lainnya disamping barang-barang kelontong seperti yang dijual di pasar-pasar Indonesia umumnya. Di pasar seggol ini pula Pak Jengis Sudianto membuka Stall yang menjual berbagai hasil kerajinan craftnya dari tempurung kelapa buatannya sendiri. Sedang Bobby Satay milik Pak Bobby Wibisono dari Jakarta juga merupakan simbol kebanggaan market ini yang selalu dicari turis baik local maupun wisata asing, karena satay, lonthong dan gado-gadonya.

Pasar senggol Sunset Market Mindil Beach adalah pasar yang berlokasi di pantai terkenal Darwin yang letaknya di dekat Casino dan ramai dikunjungi para turis baik lokal atau wisatawan mancanegara ini merupakan kebanggaan kota Darwin. Seperti kebanggaan lain yaitu Fish Feeding di ujung pantai lainnya dimana kalau air pasang beratus-ratus ikan besar-kecil berdatangan dan bisa dipegang oleh turis-turis ini karena diberi makan roti.

Asal mula berkumpulnya ikan-ikan ini menurut ceritanya karena rajin dan seringnya seorang pensiunan yang rumahnya dekat pantai tadi membuang rotinya ke laut di pinggir rumahnya . Sehingga cerita dari satu mulut ikan ke mulut ikan lainnya maka tempat ini sekarang menjadi tontonan turis yang mungkin tiada duanya di dunia.

Dan kalau ikan-ikan tadi bisa membaca dan melirik papan bertuliskan larangan bagi yang memancing dengan denda $1000, maka ikan-ikan ini bersama anak dan cucunya tentu akan bertambah rajin lagi bersilaturahmi dengan pengunjungnya, karena mereka tahu disamping mendapatkan jatah rotinya ternyata keselamatan hidupnya masih terjamin menurut hukum yang berlaku bagi dirinya maupun bagi manusia yang mengerumuninya.

Pasangan Abang Ali dan Kakak Norma yang tinggal di luar kota Darwin di bilangan Howard Spring ini merupakan keluarga bahagia yang komplit. Abang Ali yang banyak berceritera tentang petualangannya dan orangnya ramah, sedangkan Kakak Norma yang suka menjamu ini, seakan ia tidak biasa hidup menyendiri tanpa berkawan. Karenanya di setiap Hari Raya, mereka membuat orang-orang senang datang ke rumahnya karena selain sambil berekreasi keluar kota juga karena ingin memenuhi jemputan (undangan) open housenya.

Semoga cerita yang diambil dari kisah nyata ini bisa menginspirasi orang-orang Indonesia untuk menjadikan Darwin sebagai salah satu kota yang akan dikunjunginya di kemudian hari.

(Dikutip dan disarikan dari buku “The Migrant’s Story” oleh Agus Sudjoko)

Darwin, 25 Maret 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: