Celoteh Supir Taksi Asal Indonesia Membanggakan Negeri Barunya


Ketika saya tiba di Darwin awal Februari 2012 ini, kota yang berpenduduk sekitar 300 ribu orang di ujung utara Australia ini sedang panas-panasnya, tidak berbeda dengan di Jakarta, hanya memang Jakarta terasa begitu hiruk-pikuk sementara Darwin begitu tenang dan sepi. Meski terbilang dekat Indonesia tapi kota yang tak jauh dari kota Kupang di NTT ini tergolong sedikit dihuni oleh orang asal Indonesia. Kemungkinan orang Indonesia yang bermukin di kota ini hanya berjumlah sekitar 1000 orang, itu pun sudah terdiri dari orang Indonesia asli, campuran dan keturunannya, bahkan jumlah itu sudah termasuk sekitar 100 mahasiswa Indonesia yang belajar di Charles Darwin University (satu-satunya universitas di kota ini), baik untuk tingkat S1, S2 maupun S3. Menurut cerita, memang orang Kupanglah orang Indonesia pertama yang mulai tinggal di Darwin dengan profesi sebagai penyelam mutiara. Namun menurut cerita yang lain, orang Makassar/Bone lah yang pertama kali datang ke Darwin untuk berdagang. Namun dengan berbagai alasan mereka tidak bertahan lama tinggal di Darwin lalu kembali ke Makassar. Sisa-sisa peninggalan mereka yaitu berbagai jenis perahu ‘phinisi’ dari pelaut-pelaut Makassar serta beberapa perlengkapan adat-istiadat mereka hingga saat ini masih bisa dilihat langsung di Museum ‘Cyclone’ di Darwin.

Setiap kali singgah di suatu kota, memang selalu menarik untuk mendapatkan cerita paling gamblang tentang kota tersebut melalui obrolan ringan dengan supir taksi yang membawa kita dari bandara ke hotel atau sekedar berkeliling sejenak di dalam kota itu. Seorang supir taksi asal Indonesia berdarah Arab yang telah lebih dari 30 tahun tinggal di Darwin, dengan logat Jawanya bercerita tentang betapa sederhana dan menyenangkannya hidup ini di kota ini, terutama bagi dirinya yang berprofesi sebagai supir taksi karena hanya berijasah SMA di Indonesia dan tidak memiliki ketrampilan lainnya. Tapi meski begitu ia merasa nasibnya jauh lebih beruntung dibanding supir taksi di Indonesia yang masih dianggap sebagai pekerjaan rendahan dengan income yang terbatas. Menurutnya, di Darwin dan mungkin Australia pada umumnya setiap profesi dihargai sama derajatnya, bahkan semakin kasar (mengandalkan fisik/tenaga) pekerjaannya maka akan semakin dibayar mahal dalam hitungan per jam kerjanya. Tidak heran jika seorang operator di pabrik, pekerja di lapangan, trollyman bahkan Cleaner (Office Boy) bisa dibayar lebih mahal per jamnya dibanding seorang staf yang sebagian besar kerjanya di dalam ruangan kantor (office).

Si supir taksi meneruskan ceritanya, di Darwin ini kita sulit membedakan antara orang kaya dengan orang miskin. Seorang pejabat pemerintah/publik atau pengusaha kaya hampir sulit dibedakan dengan kebanyakan orang lainnya termasuk dibandingkan dengan bawahan atau karyawan mereka sendiri. Gaya penampilan mereka sederhana, apa adanya, tidak ‘wah’, tidak ‘jaim’ (jaga image) dan tidak ada primordialisme. Mungkin karena orang yang datang ke Australia adalah orang buangan dari negara asalnya Inggris yang dikenal sangat kuat memegang tradisi, pikir saya sambil terus melayani si supir berceloteh. Di Darwin, mobil bukanlah barang mewah atau lambang dari status ekonomi seseorang, karena hampir semua orang di sini punya mobil, hanya soal merek, lama/baru dan murah/mahal harganya saja yang berbeda. Yang paling membedakan orang yang satu dengan lainnya di sini adalah dalam hal berapa jumlah uang di rekening banknya, kata sang supir taksi sambil tertawa terbahak dan tampak bahagia di usianya yang mendekati 70 tahun.

Contoh lain katanya, Chief Minister dari Northern Territory (setingkat Gubernur di Indonesia) yang sekarang ini pada awalnya pernah bekerja sebagai tenaga kasar. Biasanya, kecuali pada acara-acara resmi pemerintah, bila beliau berada di tengah-tengah masyarakat untuk menghadiri atau membuka acara-acara tertentu atau sekedar menengok dan ‘say hello’ masyarakatnya, maka ia seperti layaknya orang kebanyakan yaitu memakai celana jeans, baju lengan pendek yang terkadang kaos T-shirt dan bersepatu kets. Kalau akhir-akhir ini kita sedang dikejutkan oleh penampilan Menteri BUMN Dahlan Iskan berkostum demikian, maka itu tidak aneh di Darwin ini. Sikap simpatik lainnya adalah kebiasaannya yang selalu mendatangi, menyalami, menegur dan mengucapkan selamat bergembira kepada peserta yang hadir, dengan senyumannya yang ramah. Bukan sebaliknya, minta didatangi, minta ditegur, minta dijamu dan lainnya yang intinya adalah minta dihormati.

Yang lebih hebat lagi, mereka menganggap jabatan publik yang sedang diduduki saat ini adalah ‘amanah’ dari masyarakat, dan apabila mereka sudah dianggap tidak mampu atau tidak dipercaya lagi oleh masyarakat, maka mereka akan rela melepaskannya tanpa perlu ngotot mempertahankannya atau menjadi ‘tambeng’ berpura-pura tidak tahu seperti kebanyakan pejabat publik kita sekarang ini saat kinerjanya sudah dinilai buruk oleh masyarakat. Di sini menjadi pejabat publik itu bukan untuk mencari duit lagi, mereka berlomba-lomba menunjukkan sikap terbaik dalam melayani masyarakat, sikap ‘amanah’ mereka sudah cukup teruji. Rupanya penerapan ajaran Islam agar menjadi ‘pemimpin yang amanah’ justru sudah diterapkan hingga pimpinan tertinggi di negara yang non islam ini.

Masih tentang Islam, si supir taksi dengan nada tinggi mengatakan bahwa ajaran-ajaran Islam justru diterapkan secara baik di sini (Darwin) dibandingkan di negara kita. Ia mencontohkan setiap waktu sholat Jumat, para sipir penjara dengan bus tahanan mengantar para tahanan muslim untuk sholat di Mesjid Islamic Center Darwin. Begitu pula, para sipir penjara wanita secara berkala membawa para tahanan muslimah untuk berekreasi ke tempat-tempat wisata, terlihat begitu gembira para wanita berjilbab itu berhamburan keluar bis menuju tempat wisata tersebut. Apakah itu juga dilakukan di penjara-penjara kita, di penjara-penjara yang mengaku negara Islam, rasanya tidak… mungkin termasuk di Arab Saudi yang memperlakukan TKW kita saja seperti budak… katanya kembali dengan nada yang keras. Ia juga bilang bahwa Pemerintah Northern Territory bahkan Pemerintah Australia ternyata tidak rasialis sebagaimana di-isukan selama ini (sekolah-sekolah menengah di Melbourne memberikan mata pelajaran tentang multikultural kepada siswanya agar kelak mereka bisa hidup berdampingan bersama penduduk lainnya di kota itu yang berasal lebih dari 200 negara dengan membawa budaya, adat-istiadat, kebiasaan, agama dan kepercayaan mereka masing-masing).

Di Darwin Northern Territory, orang-orang kulit hitam (Afrika: Sudan, Kongo, dan lainnya), orang-orang Asia (Cina, India, Filipina, Thailand, Arab, dan lainnya), bahkan para pengungsi dan orang Aborigin memiliki kebebasan yang sama mendapatkan haknya untuk hidup dan memperoleh pekerjaan yang layak. Malah sebaliknya, cukup banyak orang Aborigin dan para pengungsi yang justru malas bekerja keras karena terlena keenakan telah menerima subsidi pemerintah sekitar 400 AUD per 2 minggu. Namun sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mulut mencibir, si supir mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan kebijakan tersebut yang justru merusak mental dan menjerumuskan generasi berikutnya dari orang Aborigin.  Meskipun demikian, kebebasan yang diberikan terbukti telah banyak melahirkan orang-orang Asia yang sukses di Darwin baik sebagai pengusaha maupun dalam bidang akademis (Pelajar Teladan Tahun 2011 di Darwin Middle School adalah seorang anak Korea, sekitar 50% dari 16 siswa terbaiknya adalah anak-anak non Australia). Meskipun selama ini sangat selektif menerima orang bangsa lain memasuki negerinya, tapi ternyata Australia kemudian membuka lebar-lebar kesempatan bagi semua penghuninya.

Seolah masih banyak lagi yang ingin disampaikan, si supir menambahkan lagi cerita tentang kesetaraan, kesederhanaan dan pemimpin yang amanah tadi, tetapi sekarang dari pengalaman yang dialaminya sendiri. Beberapa tahun lalu, ia pernah bertemu dengan salah seorang Menteri di Kabinet Australia yang berasal dari Northern Territory. Suatu ketika di saat reses kabinet, ia kembali ke tempat asalnya di Darwin. Meskipun seorang Menteri, ia menumpang pesawat domestik dengan fasiltas sebagaimana halnya penumpang umum lainnya. Jangan dibayangkan ia akan menggunakan segala fasilitas selayaknya seorang Menteri kabinet yaitu dengan pengawalan cukup dan tentunya tiket kelas eksekutif, sebagaimana yang masih sering kita jumpai di negara kita. Katanya hal ini adalah pemandangan yang biasa di sini. Bahkan sesampainya di bandara Darwin, sang Menteri hampir selalu menggunakan taksi untuk menuju ke rumahnya. Bukan dia tidak punya mobil atau tidak punya uang untuk membayar orang menjemputnya, tapi sikap mental hemat, sederhana (tidak ngoyo, mau disanjung) dan tidak mau menyulitkan orang lain (untuk membantunya) inilah yang begitu tertanam dan mengakar pada pribadi mereka sebagai pejabat publik, sehingga menjauhkan mereka dari kemungkinan menggunakan fasilitas pemerintah yang tidak selayaknya digunakan di hari libur mereka. Kapan pejabat kita bisa seperti itu Pak supaya uang negara tidak digunakan terus untuk kepentingan pribadi… katanya lagi. Entah apakah ia betul-betul bertanya atau sinis bahwa hal itu sulit bahkan tidak mungkin akan pernah terjadi.

Pengalaman langsungnya dengan sang Menteri adalah ketika secara kebetulan bagasi sang Menteri mengalami masalah ketika tiba di bandara Darwin. Setelah ditunggu tidak muncul juga dan setelah menghadap petugas airlanenya diketahui bahwa bagasi tidak terbawa ke Darwin atau nyasar terbawa pesawat lain ke kota tujuan lain di Australia. Pendek kata, bagasinya tidak bisa dibawa pulang langsung ke rumah hari itu juga, melainkan harus menunggu beberapa hari (biasanya 1-2 hari) baru bisa diambil di bandara. Rupanya masalah bagasi nyasar atau tidak terangkut juga bisa terjadi pada seorang Menteri dari sebuah negara maju seperti Australia. Ironisnya, hal itu terjadi pada seorang Menteri Transportasi yang notabene bidang itu merupakan tanggung jawab dari Kementerian yang dipimpinnya sendiri.

Dan cerita si supir yang terakhir dan paling bernada bangga diceritakannya adalah bahwa ia dan taksinya yang akhirnya kebetulan mendapat tugas membawa bagasi yang tertinggal tersebut dari bandara ke rumah sang Menteri. Dan di sana, ia menelepon sang Menteri untuk keluar dari rumahnya dan mengambil barang bagasinya. Ketika itu sang Menteri sendiri yang keluar rumah dan mengambil serta mengangkat bagasi tersebut tanpa meminta bantuan dirinya, yang menurutnya ketika itu ia pun enggan membantu mengangkatnya meskipun diminta. Sungguh sikap yang patut diteladani dari seorang pejabat publik yang berasal dari negara maju, yang sederhana, hemat dan tidak menggunakan fasilitas negara yang bukan haknya. Kapan pejabat publik kita bisa punya mental begitu Pak… saya pun hanya terdiam seakan berputus asa, sambil membayangkan begitu berlimpahnya harta Gayus dan mungkin masih banyak PNS-PNS muda lainnya yang demikian. Meski merugikan begitu banyak uang negara namun hukumannya begitu ringan, meski mereka dipenjara namun bebas berkeliaran di luar negeri… begitu panjang dan memilukan untuk menyebutkan kasus-kasus sejenis yang terjadi hingga saat ini di negara kita.

Terima kasih Pak Supir Taksi, saya baru menerima ‘kuliah’ dari pelaku di lapangan yang obyektivitas dan keakuratan ilmunya mungkin tidak kalah dari Professor di Universitas yang seringkali hanya textbook dan tidak membumi. Semoga cerita beliau benar adanya demikian, mohon maaf kalau ada yang keliru atau salah, maklum namanya juga ‘ngobrol-ngobrol’, sama supir taksi lagi… tapi ini supir taksi di Negara barunya, Australia. Meski demikian, saya seharusnya mengingatkan dia akan pepatah dari tanah leluhurnya yang mengatakan “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, yang artinya setiap daerah itu memiliki adat-istiadat yang berbeda-beda, jadi ‘yang benar disana belum tentu benar di sini’ atau sebaliknya ‘yang salah di sana belum tentu salah di sini’, yang penting kita harus bisa tetap menyesuaikan diri pada tempat diman kita berada dengan tetap menjunjung nilai-nilai kebenaran yang hakiki.

Semoga bermanfaat…

PADAMU NEGERI KAMI MENGABDI…

Darwin, 14 Februari 2012

Tim Asesmen Capimsek Al Azhar 2012


Asesmen Calon Pimpinan Sekolah Yayasan Pesantren Islam Al Azhar Pusat
Tanggal 21 Januari 2012 di Kompleks Mesjid Al Azhar Jakarta Selatan

Tim Asesmen Calon Pimpinan Sekolah YPI Al Azhar 21 Januari 2012

Tim Asesmen berfoto ria menjelang pulang

Peserta mengikuti pelaksanaan tes tertulis

Peserta mengikuti pelaksanaan tes tertulis

Peserta mengikuti sesi simulasi presentasi kasus

Peserta mengikuti sesi simulasi diskusi kasus kelompok

Peserta mengikuti pelaksanaan sesi wawancara individual

Peserta mengikuti pelaksanaan sesi wawancara individual

Briefing oleh Koordinator Asesmen Capimsek YPI Al Azhar Tahun 2012

Tim Asesmen Pegawai DPD RI Tahun 2012


Tim Pengawas Asesmen Pegawai DPD RI Tanggal 14-15 Januari 2012

Tim Asesor Asesmen Pegawai DPD RI Tanggal 14-15 Januari 2012

Tim Inti/Koordinator: Dian, Adil, Dini dan Briefing Tim Asesor

Tim Asesor: Chichi, Nita, Yati dan Uchan

Tim Asesor: Iyon, Suzy, Tatiek dan Posma

Pelaksanaan Tes Tertulis

Penyuka Kura-Kura


Kura-kura Galapagos milik kakak temanku yang bermukim di perumahan elit di kawasan Ciawi ini begitu mempesona dan membuatku kagum. Ia begitu tenang, sabar dan gerakannya pun lamban seolah tanpa ambisi. Tetapi ia tampak begitu kuat, kokoh, mandiri, mampu melindungi diri sendiri dan memiliki keyakinan kuat akan kemampuannya dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

Entah mengapa tanpa kusadari rupanya selama ini aku tergolong seorang penyuka hewan kura-kura. Beberapa benda yang kupilih sebagai penghias rumahku adalah hewan ini, diantaranya patung kura-kura yang kubeli di toko Mirota Kampus di ujung jalan Malioboro ketika aku berlibur bersama keluarga ke Yogyakarta.

Begitu pula ketika pertama kali aku menghias kantorku, tanpa disadari benda yang kupilih untuk menghiasi etalase ruang tunggunya lagi-lagi benda berbentuk kura-kura, hanya saja kali ini terbuat dari batu alam.

Apakah kesukaan kita pada jenis hewan tertentu merupakan cerminan dari kepribadian kita sendiri. Setelah coba kutelusuri, memang dugaan itu tidak keliru meski tidak juga benar. Secara umum bila dikatakan bahwa aku seorang yang tenang mampu menjaga emosi itu benar; seorang yang lamban tidak dinamis itu juga benar; seorang yang mandiri tidak tergantung orang lain itu pun benar; seorang yang percaya diri akan kemampuan yang dimiliki (bahkan berlebihan, meski belum sampai ‘jaim’) itu memang benar; penampilan sederhana yang tidak menarik perhatian mungkin juga benar begitu.

Meski demikian, ternyata kura-kura juga mampu menunjukkan kualitasnya untuk mendapatkan perhatian mahluk lain. Dengan ‘batok’ atau ‘tempurung’ yang indah, ia bisa bernilai puluhan bahkan ratusan juga seperti halnya kura-kura Galapagos ini.

Bagaimana dengan penyukanya, apakah sudah mampu juga menunjukkan ‘nilai’ yang tinggi…

Darwin, 7 Februari 2012

Kenapa Kita Mesti Kembali ke Darwin Pak…


Aku telah memberanikan diri memutuskan bahwa mulai awal tahun ini akan menetap lama di Darwin, bukan bolak-balik ke Jakarta setiap bulan sekali seperti yang selama ini dilakukan karena alasan pekerjaan yang tidak bisa dilepaskan. Income cukup besar yang didapat dan gengsi (prestise) menangani instansi terhormat di Indonesia, ternyata tidak bisa menutupi kebutuhan hidup yang tinggi secara finansial dan support peran ayah/suami yang dibutuhkan terhadap keluarga yang selama setahun ini telah hilang atau menjadi invalid. Untuk membayar semua itu, aku memang harus menetap di Darwin untuk bekerja, menjalani sekaligus menikmati hidup di sana, biar bisa dapat oleh-oleh ‘bule’nya ketika kembali ke Indonesia di akhir 2014 nanti.

Namun sehari menjelang aku dan kedua anakku kembali ke Darwin selepas menghabisi liburan selama sebulan di Indonesia, anakku yang kecil – lelaki kelas 2 SMP (years 8) – nyeletuk “kenapa sih kita mesti kembali ke Darwin… kan enakkan di Indonesia Pak, banyak teman…” Ungkapan yang membuatku agak tersentak juga dan membuatku mencoba berpikir kembali apakah keputusanku membawa mereka pergi sekolah jauh-jauh itu hanya merupakan obsesiku saja atau itu hanya merupakan ungkapan dari seorang anak kecil yang memang masih didominasi oleh kesenangan dan belum bisa mengantisipasi atau merencanakan masa depannya sendiri. Apapun keluhannya saat ini, terbukti baru setahun di sana dia sudah menguasai bahasa Inggris dengan cukup baik. Dia sudah bisa membaca novel berbahasa Inggris dengan asyik sambil tersenyum-senyum, menonton film di TV dan bioskop sambil tertawa terbahak, sementara dia heran melihat bapak-ibunya kok diam saja… (masih mikir, lama ngertinya kali!). Terlebih lagi ternyata di akhir tahun sekolahnya, dia menyabet “Award for Consistent Effort” dalam pelajaran bahasa Inggris di kelasnya. Dia juga berturut mendapat ‘Bronze Award’, ‘Silver Award’, ‘Gold Award’ dan akhirnya ‘Premium Award’, atas 20 ‘Good Standing’ yang diperolehnya di kelas sepanjang tahun 2011. ‘Premium Award’ itu disampaikan dihadapan para orangtua siswa dan tahun 2011 ini hanya didapatkan oleh 16 orang dari hampir 500 siswa yang saat ini bersekolah di Darwin Middle School. Pencapaian yang sungguh telah membanggakan orangtuanya… Apakah kenyataan-kenyataan ini lalu akan menyurutkanku untuk tidak memaksanya tetap kembali ke Darwin!

Anakku yang pertama – perempuan kelas 3 SMA (years 12 di Darwin High School) – sekarang kelihatannya sudah mulai berbeda sikapnya dibanding ketika kami pertama kali datang ke Darwin setahun yang lalu persis sama di awal Februari juga. Selama sebulan lebih liburannya di Indonesia, ia hanya berhasil menemui atau jalan-jalan dengan beberapa teman dekatnya saja karena beberapa teman lainnya sudah sibuk dengan acara liburan mereka masing-masing. Tapi ia tidak kecewa dan kelihatannya bisa memahami urusan teman-temannya sekarang yang sudah berbeda, tidak seperti ketika mereka bersama-sama dulu di satu SMA, SMP bahkan SD. Kekecewaannya mungkin juga telah terobati karena selama di Jakarta dia bisa melampiaskan hobi belanjanya di Mal Ambasador, PS, Senci, PIM, MKG, Metmal dan tentunya Gramat (Gramedia Matraman), dengan menghabiskan hampir 10 juta uang tabungan hasil kerjanya sebagai karyawan part timer KFC di Darwin. Dia memborong pakaian, tas, sepatu, sendal, HP dan segala macam yang dianggapnya mahal kalau dibeli di Darwin. Hal yang membuatku agak lega adalah ketika mendengar ia bercerita ke temannya bahwa awalnya dia merasa bete, kesal, marah dan menolak ketika dipaksa bapak-ibunya pindah sekolah ke Darwin, kota yang sepi dari keramaian itu. Dia bilang, meski awalnya ia merasa teman-temannya di Darwin itu ‘alay’, tapi sekarang dia sudah punya banyak teman yang cocok dan semangat merencanakan serta mempersiapkan diri untuk melanjutkan kuliah di Australia (padahal biayanya wuaaah!), tidak mau kuliah di Indonesia. Kenyataan itu sungguh melegakan, pasalnya di pertengahan tahun 2011, aku pernah marah besar dan serius berniat memaksanya pulang ke Indonesia karena sikapnya yang selalu ogah-ogahan sekolah dan menolak membantu pekerjaan yang membutuhkan perannya sebagai anak perempuan yang telah remaja.

Aku mulai bisa sedikit bernapas lega, satu per satu masalah terselesaikan. Masalah berikutnya yang menghadang adalah ‘bagaimana mencari pekerjaan’… Tapi aku harusnya tidak perlu khawatir bukan… hanya perlu usaha yang keras aja! “Allah akan menurunkan rezeki kita yang ada di langit dan memunculkan rezeki kita yang ada di dalam bumi untuk kita, asalkan kita meminta kepada Allah dan berusaha mendapatkannya”, begitu terjemahan bebas dari janji Allah. Aamiin YRA…

Darwin, 1 Februari 2012