Tim Konsorsium BFK DPR (UI, ITB, UGM)


Tim Konsorsium BFK

Tim Konsorsium BFK DPR dari UI, ITB dan UGM
Tempat : Ruang Rapat Setjen DPR RI
Hari/Tgl : Kamis, 24 November 2011

Dari kiri ke kanan :
1. Dian Melani, SE.
2. Ir. Galih Purwandoko, MT.
3. Prof. Dr. Ir. Kresnohadi Aryoto, MBA.
4. Budhi Sugarda, SE. MBA.
5. Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc, Ph.D.
6. Prof. Dr. Ir. Jann Hidajat, MBA.
7. Drs. Adil Kurnia, M.Psi. MM.
8. Ardha Sugarda, SE. MBA.

Jakarta, 26 November 2011

Waduk Keliling Nangroe Aceh Darussalam


Bendungan Keliling, Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia

Photo by Adil Kurnia

Mencoba Bergaya Hidup Lebih Sederhana


Tanpa Mobil/Kendaraan


Bis Gandeng di Casuarina Interchange

Sejak awal bulan Februari hingga akhir September 2011 (8 bulan) kami hidup di Darwin tanpa memiliki mobil pribadi, padahal selama ini di Jakarta hidup dan aktivitas kami banyak bergantung pada mobil bahkan bukan hanya pada satu mobil. Kalau selama ini anak-anak berangkat-pulang sekolah diantar supir, sekarang mereka merasakan suka-dukanya berjalan kaki dan naik bus sekolah yang untungnya gratis sebagai student. Terlebih kalau hujan deras angin kencang seperti pernah terjadi, payung mereka sampai rusak dan mereka sendiri basah kuyup, ini pengalaman baru buat mereka berdua. Begitu pula dengan isteriku yang harus melupakan kebiasaannya menyetir mobil sendiri atau kadang-kadang diantar supir juga. Sekarang ia harus naik bis, yang harus cermat membaca dan mengantisipasi jadwal bis, kalau tidak pasti dia harus berlari-lari mengejar bis atau menunggu sekitar 20 menit untuk naik bis berikutnya. Sementara aku, kalau naik bus umum harus bayar 2 dolar (AUD) untuk jangka waktu 3 jam. Selama waktu itu kita boleh beberapa kali naik-turun bis sampai bosan tanpa bayar lagi, tapi lewat dari itu ya harus bayar lagi 2 dolar. Kalau mau jalan-jalan ke mal (kalau kangen Jakarta), ke pantai (Darwin dikelilingi pantai), datang kondangan atau menghadiri acara-acara formal atau informal lain hampir selalu kami naik bus umum, kecuali malam hari yang harus pinter2 cari tebengan atau sial-sialnya ya terpaksa naik taksi bayar pake dolar yang terasa muahaal yaitu sekitar 15-30 AUD (tergantung jauh dekat jaraknya).


Antri Naik Bis di Terminal Casuarina

Pernah suatu ketika anak perempuanku yang high school pulang malam setelah mengikuti acara dengan teman-temannya di pantai Mindil. Entah kenapa, tidak ada seorang teman pun yang punya mobil mengantar atau menemaninya pulang. Aku dan isteri sampai terpaksa menjemputnya di halte bus 200-300m dari rumah, menunggu bus-bus terakhir yang jadwal sampainya di halte itu sekitar jam 10-11 malam, sambil ditemani para Aborigin yang mengigau ngoceh cerita kehebatan masa mudanya yang mampu beristeri banyak, karena mabok. Sungguh hal ini belum pernah terjadi selama kami di Jakarta… ini di negeri orang bo… anak perempuan kita… malam-malam lagi… apa yang engkau cari hai Adiiil!!


Kapal Museum James Cook

Pernah juga suatu ketika kami ingin mengunjungi Maritime Museum James Cook’s Ship, yaitu replika kapal James Cook yang dijadikan museum di dermaga Wharf. Uniknya, menurut jadwal kapal ini hanya singgah di Darwin 5 tahun sekali setelah berkeliling ke berbagai pelabuhan, alangkah penasarannya hati kami ingin melihatnya dari dekat bahkan masuk ke dalamnya. Setelah naik bis ke Darwin City Interchange dan berjalan kaki sebentar, tapi kok masih jauh juga… sementara isteriku sudah kelelahan dan sakit kakinya. Dia enggan melanjutkan berjalan kaki lagi, padahal kapal itu sudah tampak meski di kejauhan. Akhirnya kami memutuskan untuk naik taksi saja ke sana, tapi sialnya sang operator telepon perusahaan taksi itu tidak kunjung kasih kabar bahwa ada taksi yang sudah bersedia mengantar kami. Lama tak kunjung ada taksi, kami pun tampak mulai putus asa dan anak-anak pun ngomel2 bilang bahwa ini gara-gara kami tidak punya mobil kayak dulu di Jakarta, waduh waduh ampuuun… Dengan perasaan kecewa kami pun memutuskan pulang karena jadwal bis terakhir sudah dekat waktunya… Bermimpi deh rasanya kami bisa mengunjungi Maritime Museum James Cook’s Ship pada 5 tahun yang akan datang! Apakah ini gara-gara kami belum mobil!!


Sudah siap untuk berjalan kaki

Tetapi tanpa adanya mobil, sekarang kami bertiga ternyata menjadi seorang pejalan kaki yang hebat, katanya cepat beneeer kalau lagi jalan kaki… tidak seperti dulu, lambaaat banget dan cepat sekali merasa capek!

Tanpa Pembantu Rumah Tangga

Wah ini benar-benar harus belajar menekuni tugas-tugas dari profesi baru ini, misalnya nyapu, ngepel, cuci pakaian, jemur pakaian, cuci piring, masak makanan sederhana untuk konsumsi sendiri (masak beneran belum bisa), menemani belanja ke supermarket atau pasar tradisional, dan lain-lain. Dulu aku, isteri bahkan anak2 jadi tukang nyuruh2 kalau mau apa aja, karena memang selama ini di rumah kami ada 4 orang yang bisa disuruh, ada pembantu, supir, mamang dan keponakan.

Di sini sekarang semuanya berubah, isteriku terasa bawel kalau menyuruh ini itu, diantara anak2ku juga telah saling melempar pekerjaan, bahkan tidak jarang juga terjadi pertengkaran antara anak dan orangtua (isteriku sih). Untuk mengatasinya, akhirnya kami membuat kesepakatan yaitu masing-masing orang mengerjakan tugas-tugas yang menjadi kebutuhan masing2. Untuk sementara kesepakatan ini lumayan mencegah kekacauan yang sebelumnya terjadi meskipun dampaknya terjadi keborosan, misalnya sering terjadi microwave, kompor, mesin cuci dan alat/mesin lainnya jadi digunakan beberapa kali untuk sekali waktu kegiatan, ampuuun repotnya tanpa pembantu…

Tanpa Pekerjaan Tetap (Baca; Gengsi)

Di Jakarta aku mengelola kantor sendiri dengan pekerjaan rutin dan proyek-proyek yang lumayan bergengsi, tapi di sini sekian lama (berbulan-bulan…) masih berstatus pengangguran. Profesi psikolog yang selama ini cukup dihargai di Jakarta, ternyata tidak (atau belum) berlaku di Darwin. Sebaliknya, pekerjaan yang selalu didengung-dengungkan (baca: dibangga-banggakan) oleh teman-teman Indonesia di sini adalah menjadi Cleaner (baca: Office Boy di Indonesia), dengan alasan kerjanya gampang tapi duitnya banyak dan tidak kalah dengan pekerjaan di office (kantoran). Mungkin ada benarnya, tapi mau dikemanakan nih kompetensi kita selama ini kalau selama 3- 4 tahun ke depan beralih profesi menjadi Cleaner yang berduit banyak… Inikah pilihan terbaik buatku saat ini, who knows? Inikah yang disebut dengan memulai mencoba bersikap realistis, praktis dan sederhana…


Bekerja sebagai Cleaner

Hatiku luluh saat menyaksikan seorang asal Indonesia yang kaya di Darwin (memiliki perusahaan taksi, restaurant, dll), dengan tanpa rasa segan atau malu mengepel sendiri lantai restaurantnya yang tertumpah air di tengah ramainya tamu2 yang hadir atas undangannya… Ketika ia kuhampiri dan kutanya mengapa, ia menjawab: “Yang seperti ini, sudah biasa di sini Pak Adil…” Ini luar biasa buatku! Dunia kebalik-balik… Ditaruh dimana gengsi dan harga diriku yang selama ini sudah merasa hidup berkecukupan, tapi masih memanggul perasaan gengsi menjadi Cleaner! Beratnya gengsi seringkali kita sendiri yang menciptakannya… Is it true!!


Menjadi Tukang Cukur Amatir

Tanpa ini… tanpa itu… dan masih banyak tanpa tanpa yang lainnya yang belum sempat diceritakan di sini…
Sungguh berat ternyata bila kita mencoba merasakan hidup “bertanpa-tanpa” (baca: sederhana) seperti itu…
Mungkin karena selama ini kita telah beruntung hidup selalu terbebas dari “tanpa-tanpa” tersebut…

Mau dan bisakah kita ber”empati” terhadap orang lain yang hidupnya selalu dan banyak dipenuhi oleh “tanpa-tanpa”!
Sebenarnya mereka-mereka itulah yang disebut sebagai orang hebat, bukan kita kita yang mengaku sudah hebat tapi masih buanyaaak mengeluh!
Memang kita perlu melatih diri untuk hidup lebih sederhana, agar kita benar-benar menjadi manusia yang tangguh dan mandiri
serta terbebas dari tudingan-tudingan miring dan hal-hal yang membangkitkan rasa iri dari orang lain
sebagaimana yang masih banyak terjadi saat ini di negeri kita tercinta, Indonesia…

Darwin NT, Australia
November 2011

Earth Day Celebration – SD Islam Al Azhar 19 Sentra Primer – Jakarta Timur


By Haikal Ilham Adlan (Student of SDI Al Azhar 19 Sentra Primer, Jakarta Timur)

On april 22th 2010, all students in Al – Azhar Elementary School at Sentra Primer – East Jakarta had a ceremony.  All of them  wanted to celebrate Earth Day. In the morning, they were at in front of the school to get some advices from the school principal.  He said that we should concern the global warming issues. On that day, every student had to bring  one plant, such as bougenville, soka merah, teh-tehan, and rumput gajah. The plants were be planted on the ground.   After that, the students had to campaign about Save The Earth or Go Green through drawing activity.  The pictures showed at the rear of junior high school building and at the auditorium. The best picture  got an appreciation from the principal.

We felt very happy on that day and we promised to save the earth by maintaining the environment.

Jakarta, 2010

Why Is There a Thunderstorm and Rain


There was a time, long ago, when the pacific ocean was ruled by a giant blue serpent who controlled water. He destroyed everything that pass through the ocean. He sometimes sent a big wave or tsunami to the land. But one day, a hero came. He came to kill the serpent and bring peace back to the world. The hero killed the blue serpent easily. Then no one has ever seen the hero again. But something happened. The blue serpent hasn’t really been killed yet. It was reborn as a human.

The serpent was reborn as a good human. He was born in a rich family but the family members were all greedy. He can also do magics because he was the reborn of the serpent. He lived in a village on top of a hill near the pacific ocean. His parents gave him a name Blueno because his skin was blue. But even though his skin was blue, the villagers still like him.

One day, his parents asked him a favor. It was to get some foods from the forest because the village has only got a bit of food left. Blueno accepted to it and went to the forest. Not long after Blueno’s gone, a mysterious old man came to the village. He was asking for food to the villagers. But the villagers didn’t give him any foods even though they were rich and have some foods. The old man warned them,” Do not be so greedy and share with others. I know you guys have some foods. If you don’t want to give me some, it’s alright. You will feel the pain what I feel now, after all”. The old man cursed the village and went away.

Back in the forest, Blueno was looking for food such as fruits. He’s got trouble looking for it because there were wild animals. He met crocodiles, tigers, and snakes. He even got bitten by a snake. But Blueno hasn’t given up yet. He kept going and going. And finally, He found a place that has lots of foods.

Everyone in the village was confused about what the old man said. And suddenly, there was a roar. A loud roar. Everyone was shocked. There was a sound of footsteps. A giant ogre appeared. Everyone screamed. Some of the villagers ran away, and some of them attacked the ogre. “ I am hungry! I am hungry!! I will eat you all!!!” said the ogre madly. The giant ogre has got a power to make  fire. He burned the village and destroyed houses with his giant hands.

Blueno was finally resting in the forest. Then, he fell asleep. In his dream, he saw a bright light and it was coming to him. It changed form and it was actually the mighty god Zeus! Zeus came to tell Blueno that the village is in trouble. And not just that, Zeus told him that he is the reborn of the blue serpent who controlled the pacific ocean. Zeus gave Blueno a spear and a shield to fight the ogre. Blueno woke up from his sleep and went to the village.

In his way back to the village, Blueno met 3 tigers. He didn’t run away but he killed all the tigers. Then he saw a horse. He tamed the horse by his magic power and rode it to get back to the village. The ogre in the village kept destroying the buildings. Many of the villagers died. And finally, Blueno came.

Blueno stroke without thinking of a plan. The giant ogre punched him away easily. The ogre punched him so many times but Blueno hasn’t given up yet. He stood up again and ran towards the giant ogre. This time, Blueno dodge all of the punches the ogre gave him. At last, The ogre blew a flame to Blueno but this time he couldn’t dodge it.

Blueno didn’t have the power to fight the ogre again. Then he remembered what Zeus said about his own past. He realized that he was a bad creature who destroyed the world. Now he wanted to save the world to compensate what he did in the past. Blueno finally found a way to kill the giant ogre. He sacrificed himself to make a thunderstorm and rain with his magic power. He zapped the ogre with the thunder and put off the fire with the rain. From now on, everyone believed that when there is a thunderstorm and rain, it means that there are bad guys who destroyed the world.

Darwin, Northern Territory, Australia.
October 2011
 

Jalan-Jalan ke Mindil Market, Darwin Australia


Pengunjungnya ramai… muda-mudi terutama!

Sebelum masuk tanya2 ke information dulu…

Beli minuman di Freshly Squeezed Juices

Atau beli di minuman di sini juga bisa…

Kalau beli makanan halal di sini… Malay Food

Pemiliknya orang Malaysia, Pak Ali namanya

Mau coba makanan lain… di Srilankan Kitchen!

Ada juga “Mexican Kitchen” nyasar ke sini…

Srilankan Authentic Curry

Darwin Fat Yiros, rasanya gimana ya…

Beli cidera mata di “Chinesse Heritage”

Hand Planted…

Tentunya ada “Kangaroo Leather” khas Australia

Star Vllage Shop

T-Shirt Shop

Berbagai pakaian wanita

Topi-topi untuk wanita

Tambah asyik ada live music…

Lokasinya dekat sekali pantai Mindil…

Giving some money for good attraction

Thanks for fans appreciation…

Ketemu Pak Cash orang Bogor, nama aslinya Cecep!

My wife and me with warm regards…

Tempat parkir yang luas penuh dengan mobil

Mengunjungi Museum and Art Gallery of the Northern Territory, Darwin Australia


Museum dan Art Gallery ini dikenal juga dengan sebutan “Museum Cyclone”

Pintu gerbang masuk museum

Tugu Prasasti

Plakat Prsasti bergelar Daeng Matutu

Southeast Asian Link Galerry

Pintu masuk ruang Cyclone Tracy

Cyclone Tracy melanda Darwin tahun 1974

Berbagai jenis ikan laut di sekitar Darwin

Kerangka hewan purba

Tulang belulan

Berbagai spesies kupu-kupu

Dinding batu besar berlukisan Aborigin

Kapal nelayan di Northern Territory

Kapal nelayan dari Indonesia

Banyak kapal nelayan Indonesia di Darwin

“Thinh Vuonc” kapal nelayan dari Vietnam

Buaya raksasa yang pernah ditemukan

Ternyata buaya itu menakutkan…

Daripada mati lebih baik kabuuurrr…

Anakku Mulai Bekerja


KFC Bagot Road Coconut Grove, Darwin NT

KFC Bagot Road Coconut Grove di malam hari

Pembelinya lebih banyak “take away”

Shift malam hari Rabu pulang jam 21.00

Shift Malam hari Jumat pulang jam 23.00

Pelayan harus tetap senyum walau pulang malam

Pulang dijemput Ibu dan Adik tercinta, Bapak?

Kadang bawa pulang minuman & KFC se-ember!

KFC siap dibagikan ke teman2 besok!

Mesjid At-Ta’awun Puncak


Mesjid At-Ta’awun Puncak, Jawa Barat, Indonesia