Penerapan Teori Psikologi


“Psikolog” itu yang seperti apa sih tingkah lakunya?

Bagi psikolog yang beraliran behavioristik, prinsip-prinsip reinforcement, vicarious learning, behavior modification, self efficacy, dan lain-lain bisa diterapkan dalam berbagai konteks. Penganut humanistik menghargai self determinisme tidak mengobral nasehat dan mengambil keputusan untuk orang lain. Penganut psikoanalisa percaya bahwa konflik tidak hanya berdampak buruk tetapi memicu perkembangan struktur kepribadian lebih lanjut.

Belajar psikologi dalam rangka usaha untuk memahami tingkahlaku orang lain dan diri sendiri. Sayang sekali kalau disia-siakan. Sayang sekali kalau para psikolog sudah tidak bersedia menerapkan hal-hal yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari. Karena manusia itu organisme yang aktif dan dinamis, tentu saja tidak bisa dipahami atau disikapi dengan rumus umum. Manusia terus berubah sepanjang zaman dan masih terus belajar untuk memahami tingkahlaku yang berubah-ubah sepanjang waktu mengikuti konteks dan Zeitgeist yang juga dinamis.

Quo vadis psikologi?

Sumber:
Shinta Adelar – Milis Himpsi Jaya

The Art of Parenting


 

MASTERING THE ART OF PARENTING
By Brian Tracy

The most important single role of parenting is to love and nurture your children and to build in them feelings of high self-esteem and self-confidence.

If you raise your children feeling terrific about themselves, if you bring them up full of eagerness to go out and take on the world, then you have fulfilled your responsibility in the highest possible sense.

Why Parents Don’t Love Enough
There are two major reasons for the failure by parents to love their children enough.
First, the parents do not love themselves. Parents with low self-esteem have great difficulty giving more love to their children than they feel for themselves.
The second reason that parents don’t love their children enough is they often have the mistaken notion that their children exist to fulfill their expectations.

Children are Not Property
The starting point of raising super kids is to realize that your children are not your property.
Your children belong to themselves. They are a gift to you from high above, and a temporary gift at that.

Children are a Precious Gift
When you look at your children as precious gifts that you can only enjoy for a short time, you see your role as parents differently. When you celebrate and encourage the special nature and personality of your child, he or she grows like a flower in sunshine.
But if you try to get your child to be something he or she is not, your child’s spirit will wither, and his or her potential for happiness and joy will shrivel like a leaf on a tree in autumn

Love Makes the Difference
The most important consideration in raising super kids is the amount of love they receive. Children need love like flowers need water. A continuous flow of love and approval from the parent to the child is the child’s lifeline to emotional and physical health.
Love deprivation is surely the most serious problem that a child can suffer during his or her formative years.

Unconditional Love and Acceptance
Make it clear to your child that nothing he or she does could ever cause you to love him or her less than 100 percent. The most wonderful gift you can give your child is the absolute conviction that you love him or her completely, without reservation, no matter what he or she does and no matter what happens.

Praise and Encouragement
Give your children continual praise and encouragement for the positive things they do, even small things. Praise and reinforce what you would like to see repeated. Praise them to build their self-esteem and self-confidence.

Action Exercise
Ask yourself what it would be like to be your own child. Put yourself in the position of your child or your children, and then evaluate yourself as a parent. What are your strengths and weaknesses? What do you do well and what do you do poorly? What are some of the thing that you do that might be causing your children to grow up with lower self-esteem than you would like? What can you do, starting today, to be a better and more loving parent?

Sumber: Milis Himpsi Jaya

Kejujuran


Dr. Arun Gandhi, cucu mendiang Mahatma Gandhi bercerita, pada masa kecil ia pernah berbohong kepada ayahnya. Saat itu ia terlambat menjemput ayahnya dengan alasan mobilnya belum selesai diperbaiki, padahal sesungguhnya mobil telah selesai diperbaiki hanya saja ia terlalu asyik menonton bioskop sehingga lupa akan janjinya.

Tanpa sepengetahuannya, sang ayah sudah menelpon bengkel lebih dulu sehingga sang ayah tahu ia berbohong.

Lalu wajah ayah tertunduk sedih; sambil menatap Arun sang ayah berkata : “Arun, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah dalam mendidik dan membesarkan kamu, sehingga kamu tidak punya keberanian untuk berbicara jujur kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki; sambil merenungkan di mana letak kesalahan nya”

Dr. Arun berkata: Sungguh saya begitu menyesali perbuatan saya tersebut. Sejak saat itu seumur hidup, saya selalu berkata jujur pada siapapun.

Seandainya saja saat itu ayah menghukum saya, mungkin saya akan menderita atas hukuman itu, dan mungkin hanya sedikit saja menyadari kesalahan saya. Tapi dengan tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah, meski tanpa kekerasan, justeru memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah diri saya sepenuhnya.

Hikmah:
Para orangtua, mari kita membiasakan diri untuk selalu bertanya,”Apa yang salah dari saya, mengapa anak saya bisa seperti itu?

Sumber:
Ratih Anjayani – Milis Himpsi Jaya

Bermain Kecapi di hadapan Lembu



Sumber: idhamlim.bogspot.com

Dui Niu Tan Qin

“Berbicara tanpa melihat kapasitas lawan bicara sehingga lawan bicara tidak mengerti apa yang dibicarakan.”

Alkisah ada seorang seniman yang sangat terkenal bernama Gong Ming Yi. Suatu hari saat berjalan-jalan di pinggiran kota, Gong Ming Yi melihat seekor lembu sedang asyik makan rumput. Gong Ming Yi lalu duduk di dekatnya. Ia ingin memainkan kecapi untuk lembu itu dan ingin mengetahui bagaimana responnya. Mulailah Gong Ming Yi memainkan kecapi dengan penuh konsentrasi dan menggunakan seluruh keahliannya. Namun sebaik dan semerdu apapun alunan musiknya, lembu itu tidak meresponnya sama sekali. Ia agak kecewa karena selama ini kalau ia memainkan musik di hadapan orang-orang, ia selalu mendapat pujian dan respon yang baik.

Kemudian ia mencoba memainkan musik yang terdengar seperti dengungan nyamuk atau seperti lenguhan anak sapi mencari induknya. Seketika itu lembu menengok ke arahnya dan memperhatikan asal suara musik. Akhirnya Gong Ming yi menyadari bahwa lembu tersebut tidak meresponnya bukan karena tidak mendengar atau tidak menghargainya, tetapi karena lembu itu tidak memahaminya.

Hikmah:

Dalam berkomunikasi, bila kedua belah pihak tidak “klop”, maka maksud dan tujuan yang disampaikan tidak akan dapat dipahami, bahkan dapat menimbulkan salah interpretasi. Misalnya, bila kita meminta orang untuk menulis “satu dua tiga empat”, ada yang menginterpretasikan sebagai urutan angka “1, 2, 3, 4”, ada pula yang menginterpretasikannya sebagai “2, 444” (satu “2”, tiga “4”). Oleh sebab itu kita harus bisa mengungkapkan secara jelas maksud dan tujuan kita, bila perlu disertai dengan contoh-contoh. Selain itu, kita juga harus memahami latar belakang pendengar atau lawan bicara kita.

Sumber:

Buku “50 Chinese Wisdom” oleh Leman.

Nightcliff Seabreeze Festival


Darwin Northern Territory Australia, May 1, 2011
Photos by MAKIS

Nightcliff Beach

Sunset at Nightcliff Beach

Nightcliff Beach

Beautiful Sunset at Nightcliff Beach

Cliff at the Beach

Singing...

Graffiti...

Graffiti...

Creative Art...

Creative Art

Children Playing Ground

Scotland Music Group

Scotland Music Bass Drum

Kakak and Ade

Bapak and Ibu

Photos by MAKIS