Pagi Tiga, Sore Empat



Sumber: bulakamba.wordpress.com

Pagi Tiga, Sore Empat

“Mengkiaskan orang yang ahli menipu, pintar memanipulasi kata-kata tanpa mengubah makna semula”.

Pada periode Negara-negara Berperang (475-221 SM), ada seorang kakek bernama Ju Gong yang tinggal di negara Song. Kakek Ju Gong senang dengan kera (monyet) dan memelihara banyak kera di dekat rumahnya. Setiap hari ia menghabiskan banyak waktu bersama-sama kera peliharaannya. Karena sering bergaul dengan kera, ia dapat berkomunikasi dengan mereka menggunakan cara-cara khusus.

Suatu ketika ia mendapati persediaan makanan kera-keranya sudah menipis. Hal itu membuat Kakek Ju Gong harus memutar otak agar konsumsi pangan kera-kera tersebut bisa dikurangi. Kemudian ia mengumpulkan kera-kera peliharaannya di halaman rumah dan menceritakan kondisi yang sebenarnya. Selanjutnya ia berkata, “Mulai hari ini konsumsi pangan harus dikurangi menjadi tiga pagi, empat sore.”

Mendengan kata ‘tiga’ yang artinya kurang dari jatah sebelumnya, kera-kera itu protes. Karena mereka protes, Kakek Ju Gong berkata lagi, “Bagaimana kalau empat pagi, tiga sore?” Mendengan kata ’empat’ terlebih dahulu disebut, kera-kera itu langsung bersorak riang dan menyetujui usul tersebut. padahal, kedua usul itu pada intinya sama.

Penjelasan:

Penipuan seperti di atas banyak dipakai orang, salah satunya lewat SMS. Ketika menerima SMS yang berbunyi “Anda mendapat hadiah mobil, segera hubungi 021-999999”, orang langsung membayangkan hadiah yang akan didapatnya. Ibarat kera dalam cerita di atas yang mendengar kata ‘hadiah’ langsung menjadi lengah dan otaknya tidak dapat bekerja dengan semestinya, sehingga mudah tertipu. Oleh sebab itu, berhati-hatilah terhadap penipuan dengan gaya “pagi tiga, sore empat”.

Sumber:
Buku “50 Chinese Wisdoms” oleh Leman.

Kabar dari Darwin


Bersilaturahmi ke Rumah Pak Jeff  Ibu Jessica di Nightcliff (Homestay Ibu)

Kak Izza, Tante Ratri, Tante A’am dan Ibu Deasy Bergaya di Mindil Beach

Kerinduan Orangtua



KERINDUAN ORANGTUA

Betapa sedihnya hati kami orangtua
Yang mengharap tegur sapa anaknya
Meskipun perasaan sedih itu
Tabu bagi kami untuk dikeluhkan

Bukankah sesuatu yang alami
Bila perasaan itu muncul
Saat orangtua merindukan
Sekedar belas kasih anak-anaknya

Benarkah kata pepatah itu…
Anak bukanlah milik orangtua
Orangtua hanya sekedar dititipi
Tanpa boleh mengharap balas

Oh… anakku!
Kasih sayang kami mungkin hanya naluriah
Jadi kami mungkin memang tidak layak
Menuntut balasan darimu
Meski sekedarnya…

Engkau memang milik Sang Khalik!!

Telah kami siapkan untuk engkau
Sayap-sayap yang kuat dan kokoh
Agar engkau dapat terbang tinggi
Setinggi-tingginya…
Mencari keridhoan Sang Khalik..!
Allah yang Maha Kuasa..!

Jakarta, 25 Maret 2011

“Waktu Menunggu” dalam Analisis beban Kerja


Pertanyaan:

Apakah “waktu menunggu” harus dihitung sebagai bagian dari pelaksanaan suatu tugas?

Jawaban:

“Harus dihitung” dan “Tidak dihitung”

Waktu menunggu “harus dihitung” apabila aktivitas menunggu tersebut memang harus dilakukan karena “urgent” (penting dan segera); si pemegang jabatan tidak dapat (bukan tidak boleh) melakukan tugas lainnya, misalnya tugas:

  • “meminta persetujuan Direksi untuk masalah yang “urgent”.

Waktu menunggu “tidak dihitung” apabila dalam aktivitas menunggu tersebut ternyata si pemegang jabatan masih bisa dan boleh melakukan tugas lainnya, sejauh tugas lainnya tersebut tidak menghambat efektivitas pelaksanaan tugas yang akan dilaksanakan setelah menunggu, misalnya tugas:

  • “meminta persetujuan ijin cuti dari atasan”
  • “meminta persetujuan pembayaran klaim pengobatan”

Sumber: Materi Workshop Workload Analysis oleh Adil Kurnia

Haikal’s Diary March 2011


Namaku “Haikal Ilham Adlan”. Aku biasa dipanggil “Haikal” atau “Adlan”. Tapi gak ada yang manggil aku Ilham? Aku lahir di Jakarta. Sekarang aku tinggal di Darwin, Australia. Dulu aku tinggal di Jakarta. Waktu itu aku sekolah di Al-Azhar 19 Sentra Primer Jakarta Timur (Alsen). Sekarang ini aku sekolah di Darwin Middle School (DMS).

Aku sangat rindu dengan teman temanku yang dulu, hu hu hu… Sekarang aku sudah pindah ke Darwin. Teman baik (sobat) ku di Alsen diantaranya adalah:
Rheihan Ananda:
Orangnya ganteng, baik, kadang lucu… Dia temen paling deket saya….!! Dia punya pacar namanya Fidela, rambutnya agak kribo. Tapi gak tau deh kenapa Rheihan suka sama dia…
Raihan Naufaldi:
Orangnya ganteng, lumayan baik, dan banyaaaaaakkk banget yang suka sama dia… Dia paling sering ke rumah saya, mungkin sudah 7 kali…
Adela Damika:
Orangnya gendut, dan baiiiikk bener. Kadang2 dia suka nggak jelas. Dia punya temen geng… Tiap hari tiap jam tiap menit tiap detik pasti bareng gengnya.. diantara temen gengnya adalah: Dissa, Tisa.
Devi Annisa:
Biasa dipanggil Visa. orangnya baik. Dia temenku dari playgroup (kelompok bermain).

Aku punya teman–teman band juga, diantaranya:
Nathan Rizqi: Pemain Gitar, orangnya gendut, kadang kadang lucu…
Dhimas Syahlana: Penyanyi, rambutnya suka diberdiriin.
Biqytofa Recman: Pemain !ass, rambutnya agak botak.
Fariel Nabawi: Pemain Drum, orangnya ganteng, pendiam.
M. Taufikurrahman: Pemain Gitar, kadang kadang orangnya lucu…

Rencananya, aku akan tinggal di Darwin selama 4 tahun. Aku tinggal di Darwin karena ibuku harus kuliah S3 di Darwin. Selama waktu sekitar 2 bulan ini, aku sudah punya cukup banyak teman. Teman dekatku di Darwin diantaranya:
Ben Hammond:
Dia lahir Spanyol, suka menolong misalnya waktu aku gak ngerti pelajaran, tapi kadang kadang dia ngeselin juga…
Jun Tao:
Rambutnya Botak, dari China.
Syahreza:
Dari Indonesia,  gendut.

Di sini, jika ingin berangkat sekolah repot sekali….. Pertama, aku harus waspada terhadap ANJING!! Kedua, aku harus jalan kaki dari rumah ke halte. Cukup jauh lho… lalu menunggu bus di halte. Di dalam bus, kadang kadang penuh. Jadi aku harus berdiri. Masuk sekolah jam 8, pulang sekolah jam setengah 3.

Darwin, 20 Maret 2011

“Waktu Perjalanan” dalam Analisis Beban Kerja



Ilustrasi
:

Salah satu tugas berkala saya setiap akhir bulan sebagai Manajer Produksi adalah “mengontrol langsung lokasi dan operasional pabrik” yang jaraknya cukup jauh sehingga membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk dapat mencapai lokasi pabrik. Sebenarnya lama waktu mengontrol lokasi dan pelaksanaan pekerjaan di sana hanya sekitar 60 menit, namun secara keseluruhan waktu yang saya keluarkan untuk melaksanakan tugas ini lebih kurang sekitar 120 menit termasuk perjalanan pulang pergi.

Pertanyaan:

Berapa lama waktu yang seharusnya saya tuliskan pada kuesioner pengukuran analisis beban kerja untuk melaksanakan tugas “mengontrol lokasi dan operasional pabrik” tersebut? Apakah saya tuliskan hanya “30 menit” sesuai dengan lamanya saya mengontrol lokasi pabrik dan mengawasi pelaksanaan tugas disana atau “120 menit” yang berarti lama waktu perjalanan untuk mencapai pabrik dan lama waktu perjalanan kembali ke kantor juga diperhitungkan?

Jawaban:

Tuliskan “120 menit”.
Alasannya adalah karena Anda telah mengkonsumsi waktu selama 120 menit untuk melaksanakan tugas tersebut dari sejak meninggalkan kantor hingga pulang kembali ke kantor. Perjalanan berangkat ke lokasi pabrik, mengontrol lokasi pabrik, dan perjalanan pulang kembali ke kantor merupakan “suatu kesatuan rangkaian tugas yang tak terpisahkan” (cycle work), sehingga harus lama waktu seluruh aktivitas tersebut harus diperhitungkan. Asumsinya lainnya adalah bahwa selama lama waktu tersebut Anda tidak dapat mengerjakan tugas-tugas lainnya dari jabatan Anda sebagai Manajer Produksi. Apabila Anda hanya menuliskan 60 menit maka kecara keseluruhan beban kerja Anda dan Jabatan Anda akan berkurang sebanyak 60 menit, padahal Anda sudah menggunakan waktu tersebut untuk bekerja bukan untuk “santai-santai” atau kepentingan pribadi lainnya (allowance) .

Semoga Anda dapat menghitung beban kerja suatu jabatan secara lebih akurat!

Sukses!

Jakarta-Bali-Darwin


Menunggu Boarding di Terminal 3 Soetta

Kakak Bergaya di Terminal 3 Soetta

Di Dalam Pesawat Batavia Air ke Bali

Dengar Musik Nunggu Pintu Pesawat Lama Dibuka

Alhamdulillah Mendarat di Ngurah Rai Bali

Kakak baru mendarat di Ngurah Rai

Koper Barang Dibawa oleh Porter

Ade Senang Tidak Jadi Dorong Trolly

Keberangkatan Internasional Ngurah Rai

Di Mobil menunggu Dibawa ke Pesawat

Bapak Bersama Putrinya Tercinta

Disambut Pelukan Ibu Tercinta di Darwin Airport

Beristirahat di Taman Nightcliff


Beristirahat di Taman Nightcliff
Dengan senyuman yang masih tersisa
Sehabis lelah berjalan jauh
Ditengah terik matahari yang menyengat
Naik turun bis kota
Mencari dan memilih rumah tinggal
Di kota Darwin yang lengang dan tenang

Darwin, 9 Februari 2011

Kakikukeko


Kakikukeko

Photo by: Adil Kurnia
Camera: Samsung WP10
Location: Vanderline Drive, Wagaman, Darwin
Date: 14 February 2011

Di Jagorawi Menuju Bogor


Suasana pagi nan indah dan cerah di Jagorawi menuju Bogor
Di kejauhan tampak halimun masih menyelimuti puncak Gede-Pangrango
Cahaya mentari menyeruak muncul menyinari cakrawala yang berawan
Angin sejuk menerpa lembut pepohonan yang memagari Jagorawi
Mobil-mobil pun masih leluasa melaju di jalanan yang lengang
Sungguh pemandangan menawan yang dinanti

Sentul, 15 Maret 2011

Gede-Pangrango Bertengger di Kejauhan

View di Jagorawi Menuju Bogor

 

« Older entries