Nasihat Imam Syafi’i Buat Orang Berhijrah


NASIHAT IMAM SYAFI’I KEPADA PARA PENCARI ILMU DAN ORANG YANG BERHIJRAH:

“Berangkatlah, niscaya engkau akan mendapatkan pengganti untuk semua yang engkau tinggalkan. Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup direngkuh dalam kerja keras. Ketika air mengalir maka ia akan menjadi jernih dan ketika berhenti maka ia akan menjadi keruh. Sebagaimana anak panah, jika tidak meninggalkan busurnya maka ia tidak akan mengenai sasaran. Begitu pula dengan biji emas yang belum diolah maka ia akan sama saja dengan debu yang tetap berada di tempatnya.”

Dari seorang yang sedang mencari keyakinan diri untuk berhijrah…

Bandara Sultan Syarif Kasim II
Pekanbaru, 28 Oktober 2010

Posted with WordPress for BlackBerry.

Underpass JORR Pasar Rebo Jakarta


Posted with WordPress for BlackBerry.

Sayang fotonya agak kabur… tapi indah kan?

Foto ini diambil dari dalam mobil yang sambil berjalan

Selama ini kita hanya sekedar melaluinya saja

Yang membawa kita dari suatu tempat ke tempat lainnya

Tanpa menghiraukan apa yang ada di sana

Tanpa menghiraukan keindahannya

Kala hujan mengguyur deras Jakarta

Baru kita rasakan keberadaannya

Pengendara sepeda motor yang semakin menyemut di Jakarta

Berteduh dengan aman di bawahnya

Semakin menyumbat lalu lintas Jakarta yang sudah padat

Semoga terowongan ini tidak turut kebanjiran

Casablanca Pasar Gembrong

Jakarta, 27 Oktober 2010

Psikotes di SMA Negeri 2 KS Cilegon 2010


PSIKOTES DI SMA NEGERI 2 KRAKATAU STEEL CILEGON 2010

Bersama Tim Psikolog dan Guru SMAN 2 Cilegon

Kiri-kanan: Sera, Deasy, Eva, Ayun, Aini & Winda

Tim Psikolog Pewawancara Seleksi Siswa CIBI

Mengenal Kota Darwin (Australia) Dari Jauh


MENGENAL KOTA DARWIN AUSTRALIA DARI JAUH


Menjelang keluarga kami hijrah dari kota Jakarta (Indonesia) ke kota Darwin (Australia) di bulan Januari 2011 untuk keperluan mendampingi istri dan ibu anak-anak menjalani tugas belajar S3 di sana, berkecamuk pikiran tidak menentu mengenai bagaimana kota Darwin itu dan bagaimana nanti kami bisa menyesuaikan diri untuk hidup di sana. Berikut ini informasi sementara yang kami peroleh mengenai kota Darwin:

  • Ibu kota negara bagian di Australia yang paling TIDAK POPULER dibandingkan Melbourne, Sidney, Brisbane, Perth, Adelaide dan apalagi Canberra (Ibukota Negara Australia).
  • Kota yang SEPI dengan jumlah penduduk sekitar 200.000 jiwa, jauh sekali dibandingkan kota Jakarta yang berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa, yang selama bertahun-tahun kami tempati.
  • Memiliki iklim 2 musim (hujan dan kemarau) yang TIDAK BERBEDA sama sekali dengan di Indonesia, jadi percuma pindah ke sana karena kita tidak merasa hidup di luar negeri sebagaimana di Amerika atau Eropa yang memiliki iklim 4 musim (panas, dingin/salju, semi & gugur).
  • Kemungkinan harus mengeluarkan UANG BANYAK (dibandingkan persediaan yang terbatas) untuk biaya sekolah anak-anak yang tidak ditanggung dan belum tentu mendapatkan bantuan (weiver school fee) dari Pemerintah Negara Bagian North Territory Australia.
  • Apalagi…..

Meskipun demikian, kami tetap harus bersyukur kepada Allah SWT dan meyakini akan mampu menghadapi apapun yang ada dan terjadi di sana sebagai suatu bagian dan tahapan penting dalam kehidupan kami untuk melangkah menjadi lebih baik di masa depan.

Beberapa hal positif yang dibayangkan dapat kami peroleh dari hijrah ini:

  1. Penguasaan berbahasa Inggris yang baik
  2. Pola hidup sederhana
  3. Kemandirian hidup
  4. Berwawasan (lebih) global
  5. Berpandangan (lebih) plural
  6. Kepribadian (lebih) matang
  7. Peluang kerja lebih besar setelah kembali ke Indonesia
  8. Memiliki wawasan dan pengalaman untuk di-sharing kepada orang lain
  9. Peluang menjadi lebih berguna bagi masyarakat
  10. Menumbuhkan dan meningkatkan nasionalisme

Semoga Allah SWT memberi kami kemudahan, amin…

Faktor Penyesuaian Dalam Analisis Beban Kerja


FAKTOR PENYESUAIAN DALAM ANALISIS BEBAN KERJA

Orang Normal: bukan orang jenius atau orang idiot…..
Definisi beban kerja dari suatu jabatan berdasarkan penyelidikan waktu (Time Study) adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh tugas-tugas jabatan tersebut dalam periode waktu tertentu pada kondisi “normal”.

Istilah “normal” pada definisi di atas mengisyaratkan 2 pengertian yaitu:

  1. Bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas jabatan tersebut haruslah waktu yang dalam keadaan “biasanya” atau “pada umumnya”, bukan dalam keadaan yang ekstrim baik dalam keadaan “sibuk” (peak season) atau dalam keadaan “santai/ senggang” (weak season).
  2. Bahwa waktu yang dimaksud adalah waktu sebagaimana yang apabila dilakukan oleh orang “kebanyakan” atau “pada umumnya” (setidaknya di organisasi/perusahaan tersebut), bukan waktu sebagaimana yang dilakukan oleh orang “tidak normal” baik itu orang yang “pintar” atau “gesit/cekatan” (Smart) atau sebaliknya waktu yang sebagaimana apabila dilakukan oleh orang yang “bodoh” (lemot=lemah otak) atau “lamban” dalam bekerja.

Mengingat pada kondisi nyata saat ini pada suatu organisasi atau perusahaan dapat terjadi responden (job holder) yang ada dalam kegiatan analisis beban kerja adalah orang yang “pintar/gesit/cekatan” atau sebaliknya orang yang “bodoh/lamban” maka data yang akan diperoleh adalah waktu dari orang yang “tidak normal”. Oleh karena itu untuk memperoleh waktu normal (sebagaimana yang dilakukan orang normal) diperlukan “faktor penyesuaian”.

Salah satu teknik dari Faktor Penyesuaian adalah menggunakan “Metode Shumard”, yaitu melalui suatu daftar indeks nilai/skor kecepatan kerja (40 s/d 100), atasan dari responden diminta menilai seberapa cepat bawahan mengerjakan suatu tugas atau aktivitas tertentu dibandingkan dengan kecepatan orang normal (nilai 60) untuk mendapatkan nilai “P” (Penyesuaian) dari responden pada tugas tersebut. Dengan mengkalikan waktu yang digunakan responden tersebut dengan nilai “P” maka akan diperoleh waktu yang “diperkirakan” digunakan oleh orang normal untuk menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas tertentu.

Faktor Penyesuaian lebih tepat digunakan untuk mengukur volume “Beban Kerja Jabatan”. Apabila pengukuran beban kerja tidak menggunakan faktor penyesuaian maka istilah yang lebih tepat digunakan adalah mengukur volume “Beban Kerja Individu (Pegawai/ Karyawan) bukan mengukur beban kerja jabatan. Beban kerja individu akan berbeda-beda untuk setiap responden yang berbeda meskipun memiliki posisi jabatan yang sama atau memiliki tugas-tugas yang sama, karena kecepatan mereka bekerja dipengaruhi oleh faktor individual dari masing-masing pegawai/karyawan tersebut.

Pengukuran beban kerja akan menjadi lebih akurat apabila menggunakan faktor penyesuaian meskipun akan menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama.

Sumber: Materi Workshop Workload Analysis” oleh Adil Kurnia

Taman Purbakala Kerajaan Palembang


TAMAN PURBAKALA KERAJAAN PALEMBANG

Jembatan Ampera Palembang


JEMBATAN AMPERA PALEMBANG

Jembatan simbol kota Palembang

Air Traffic Control Room Bandara Pattimura Ambon


AIR TRAFFIC CONTROL ROOM BANDARA PATTIMURA AMBON

Ini ruangan paling vital di setiap Bandar Udara

Jengkok di Mangga Dua Mall


JENGKOK DI MANGGA DUA MALL

Jengkok membuat kita lebih mudah dan nyaman

Senja di Gerbang Tol Pondok Gede Timur


SENJA DI GERBANG PONDOK GEDE TIMUR

Kamera: Blackberry Bold Onyx

« Older entries