Kematangan Emosi Pada Maradona


Pada tahun 1978, Argentina menjadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola yang merupakan olahraga paling digemari bukan saja di Argentina sendiri tapi oleh seluruh penduduk dunia. Sang Pelatih Luis Caesar Menotti dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah untuk memilih salah satu dari dua striker yang sama-sama sudah terbukti kehebatannya dari segi skill yang dimilikinya yaitu Mario Kempes atau Maradona. Mario Kempes jauh lebih senior dan sudah dikenal oleh kandidat juara dunia lainnya seperti Jerman Barat, Belanda, Brasil, Inggris dan lainnya. Maradona memang pemain yang belia dan belum dikenal dunia namun kehebatannya sudah terbukti di blantika sepakbola negeri “tanggo” Argentina bahkan rakyat Argentina meyakini ia bisa melebihi seniornya Mario Kempes.

Namun secara agak kontroversial diluar dugaan banyak orang, Luis Caesar Menotti memilih Mario Kempes dan mendepak Maradona dari timnas Argentina menghadapi Piala Dunia di negerinya sendiri. Alasan sang pelatih adalah kematangan emosi sang calon bintang diragukan mampu memikul beban berat dari rakyat Argentina yang sangat mendambakan tim kesayangan mereka menjadi juara dunia sepakbola di negerinya sendiri. Ternyata pilihan Menotti tidak keliru, Argentina akhirnya menjadi juara dunia dengan mengalahkan Belanda 3-1 dan Kempes berhasil memborong 2 gol untuk negerinya.

Maradona pun sebenarnya tidak sepenuhnya kecewa, karena kemudian Menotti mengajaknya untuk bersama Ramon Diaz menjadi tulang punggung dan andalan Argentina dalam Piala Dunia Junior di Tokyo Jepang yang akhirnya juga berhasil dijuarai Argentina (Indonesia ikut serta tapi ketika itu “dihajar” Argentina dengan skor memalukan 9-0 atau 11-0, di cuaca yang sangat dingin).

Pada Piala Dunia 1982 di Spanyol, Menotti akhirnya membawa Maradona kedalam timnya yang akan berlaga di kejuaraan itu. Pada kejuaraan ini, Maradona diusir wasit karena mendapat kartu merah setelah ia melakukan pelanggaran secara emosional menendang pemain Brasil dan Argentina akhirnya gagal total dan kehilangan gelarnya pada kejuaraan ini. Dengan kejadian ini, rakyat Argentina bahkan pecandu sepakbola di seluruh dunia baru memahami dan mengakui kejeniusan Luis Cesar Menotti ketika pada Piala Dunia tahun 1978 yang meski diprotes banyak orang tetapi dengan keyakinan penuhia memilih Mario Kempes yang telah memiliki kematangan dibandingkan dengan Maradona masih kurang matang secara emosi.

Pada Piala Dunia berikutnya tahun 1986 di Meksiko, Maradona diberi kepercayaan sebagai kapten untuk memimpin tim “tanggo” Argentina merebut kembali piala dunia. Dengan kepiawaiannya dan kematangannya yang semakin berkembang, Maradona berhasil membawa Argentina menjadi juara dunia kembali, meskipun ada tragedi yang sulit dilupakan orang Inggris ketika tim kebanggaan mereka disingkirkan Argentina oleh “gol tangan Tuhan” yang dilakukan Maradona.

Peran kematangan emosi dalam dunia olahraga jelas tergambarkan pada kasus Maradona di atas dan Luis Caesar Menotti menjadi tokoh yang paling memahami dan berani serta berhasil mempraktekkan pentingnya peran kematangan terhadap prestasi dalam olahraga.

Sumber Ide: Kompas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: