Teladan Kakek


TELADAN KAKEK

Pak Iyot… begitu para cucunya kerap memanggilnya. Entah itu berasal dari kata “kolot” (usia tua) atau “peyot” (kulit kendur & keriput). Berpuluh tahun (sekitar 40 tahun) ia mengabdi sebagai Juru Tulis Desa (Pak Ulis) tanpa pernah mau jadi Kepala Desa (Kuwu) yang silih berganti didampinginya. Anak-anak dan menantunya serta cucu-cucunya sangat bangga dengannya, mungkin karena ia keras/tegas sekaligus lemah-lembut terhadap anak cucunya, bahkan terhadap semua masyarakat yang dilayaninya sebagai Juru Tulis Desa.

Orang-orang miskin sampai dengan Camat sangat menghormati kesalehannya. Saat lebaran, segala lapisan masyarakat memadati rumahnya yang tidak besar. Pak Camat pun merasa perlu sowan ke rumahnya sebelum terima tamu lebaran. Sungguh ia sangat disayangi masyarakatnya, juga oleh desa-desa di sekitarnya. Penghargaan itu tidak mempengaruhi sikap dan penampilannya yang sederhana.

Sebagaimana sebagian besar masyarakat pulau Jawa dalam menjalankan agama, ia taat beribadah meski tidak sempat berhaji karena ketiadaan biaya. Namun sekaligus memiliki kepercayaan turun-temurun mengenai roh halus desa. Konon dia yang merawat dan bisa berkomunikasi dengan jin penunggu desa, bahkan ia dapat meminta jin itu menampakkan diri sebagai harimau (maung) untuk menakuti-nakuti pendatang baru di desa, menggaruk-garuk kaca, meminta cerutu dan segelas kopi, bahkan menjaga rumah anaknya di luar Jawa.

Namun demikian ada kealpaan pada diri Pak Iyot yang bersahaja ini. Memang kasih sayangnya pada anak dan apalagi cucu-cucunya sangat luar biasa. Ia biarkan mereka menikmati dan terlena dengan pesona dirinya yang menawan. Ia terlupa membekali anak cucunya dengan agama dan pendidikan yang cukup, sehingga di usianya yang renta ia menyaksikan anak cucunya merana. Mereka tidak mampu bersaing dengan generasinya dan tertinggal oleh zaman. Ia meratapi dan merenungi apa yang telah dilakukannya selama ini.

Di kerentaannya ia terus berharap dan berdoa kepada Allah SWT agar kesalehan dan amal ibadah yang luar biasa  sepanjang hidupnya bisa diganjar berupa cucu-cucu dan keturunannya yang berpendidikan tinggi tanpa menghilangkan kesalehan yang dimilikinya, agar ia bisa tenang dan tidak meratapi terus kekeliruannya sampai di alam baka. Pak Iyot memang kini telah lama tiada, namun telah lahir cucu-cucu dan cicit-cicitnya yang cerdas, berpendidikan baik dan yang membahagiakan telah menurunkan sifatnya yang sholeh.

Semoga engkau bisa tersenyum bahagia di alam sana Pak Iyot…..

(Leuwimunding)


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: