Pakde Giman…..


Pakde Giman…..

Sugiman namanya, Pakde Giman… demikian anak-anak muda di kompleks kami memanggilnya. Pribadi dan penampilannya menarik dan menyenangkan, sehingga tak diragukan kalau anak-anak muda kompleks yang sering menemaninya ronda jaga malam menjadi sangat akrab dengannya. Dibandingkan dengan rekan-rekannya sesama penjaga malam (satpam), wajah dan laga-lugunya memang lebih tua (dewasa) dan hal ini pun seringkali diakuinya. Entah bergurau atau serius sering ia mengatakan, “”saya ini sudah tua, jadi semuanya sudah lain, gak kayak yang muda lagi, semuanya sudah soak.” Karena seringnya ia mengatakan kata-kata itu, anak-anak muda seusiaku di kompleks sering merasa geli dan tertawa setiap kali mendengarnya. Aku jadi ikut geli ketika ia mengaku baru berusia 32 tahun tetapi kok sebegitu menyerahnya ia dengan bayang-bayang istilah ‘tua’nya itu. Suatu ketika anak-anak muda kompleks jadi penasaran untuk bertanya kenapa kok Pakde Giman mereka itu selalu merasa tua, tak semuda usianya. Dia mulai bercerita yang membuatku merasa haru. Rupanya ia begitu kecewa dan putus asa, karena setelah beberapa tahun menikah belum juga dikaruniai anak lagi setelah istrinya keguguran. Dan yang semakin membuat kami miris, sudah hampir sebulan ini ia tidak pulang-pulang ke rumah, tega-teganya meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Pakde Giman…

Slipi, Juli 1985

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: